Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Penanganan Bencana Kota kediri : Batin Terpuaskan Lihat Senyuman yang Ditolong

Hilda Nurmala Risani • Selasa, 7 April 2026 | 20:16 WIB
Ilustrasi Bencana : Afrizal Syaiful M/JPRK
Ilustrasi Bencana : Afrizal Syaiful M/JPRK

 

KEDIRI, JP RADAR KEIRI - Cakupan wilayah Kota Kediri, ketika meng-handle bencana, memang tak seluas banyak daerah lain. Namun, tetap saja BPBD membutuhkan personel untuk tim reaksi cepat (TRC). Menangani dampak bencana secepat mungkin.

Salah seorang di antara personel itu adalah Pegy Verdianti. Dia adalah satu-satunya perempuan dalam TRC BPBD Kota Kediri. Selalu turun langsung dalam penanganan bencana seperti akibat angin kencang beberapa hari terakhir.

“Saya ikut penanganan pohon tumbang di (area) GOR Jayabaya,” ujarnya memulai cerita pengalaman.

Perempuan yang disapa Pegy ini tergabung dalam TRC sudah enam tahun. Bukan waktu singkat. Serta telah diisi dengan banyak pengalaman. Baik itu yang bernuansa bahagia maupun pahit.

Baca Juga: Pohon-Pohon Tumbang dan Puluhan Atap Rumah di Kota Kediri Beterbangan Tersapu Angin, BPBD Imbau Masyarakat Waspadai Cuaca Ekstrem di Pancaroba

“Sukanya adalah ketika ada warga yang terkena musibah, kami datang, mereka merasa sangat terbantu,” bebernya.

Ucapan alhamdulillah dan terima kasih menjadi pemantik semangat. Belum lagi ketika banyak doa yang dipanjatkan karena telah membantu menyelamatkan harta benda maupun nyawa.

Baginya, panggilan kemanusiaan membuatnya senang turun ke lapangan. Bertemu dengan warga. Saling bergotong royong hingga timbul rasa kekeluargaan dan kebersamaan.

“Saya pernah membantu ibu-ibu yang tersesat di Gunung Klotok. Ini sangat lucu-lucu kalo diceritakan,” ucapnya mengenang satu kejadian yang membuatnya berkesan.

Soal kisah duka, dia anggap sebagai pemanis perjalanan karir. Seperti mengorbankan waktu istirahat hingga menahan sakit akibat gigitan hewan.

Baca Juga: Awas, Kemarau Tahun Ini Diprediksi Lebih Kering, BPBD Kediri Imbau Waspadai Potensi Bencana Pancaroba

“Pernah ada pohon yang terdapat sarang angkrang (semut merah, Red). Gigitannya menimbulkan rasa panas,” kenangnya.

Keterbatasan personel juga menjadi kendala tersendiri. Tak hanya membuat antre penanganan. Juga petugas yang di luar piket harus turun ketika dibutuhkan.

“Kalau personel ini sebenarnya fleksibel. Biasanya ada yang off (lepas piket, Red) tapi tetap membantu. Langsung datang ke lokasi kalau memang bisa dijangkau,” ungkap anak bungsu dari lima bersaudara itu.

Keterbatasan itu ditambah lagi dengan tidak semua petugas punya keahlian dan sertifikasi pemotongan pohon. Hal itulah yang membuat penanganan harus bergantian dan butuh waktu.

“Ya masing-masing pribadi punya keahlian khusus. Kalau orang awam tidak bisa takutnya melukai diri sendiri. Termasuk yang melakukan pemotongan pohon punya sertifikasi sendiri,” bebernya.

Baca Juga: Banjir dan Angin Kencang Kepung Lereng Kelud Kediri! Cuaca Ekstrem, BPBD Imbau Warga Waspada

Ahmad Fathoni, anggota TRC lain,  juga memiliki kesan tersendiri ketika penanganan bencana. “Mungkin senangnya karena bisa menolong orang. Karena basic-nya emang relawan yang suka ketika melihat orang tersenyum setelah dibantu,” ujar pria yang akrab disapa Toni.

Selain pengalaman suka, menurut Toni banyak duka yang juga dialami. Namun itu justru meninggalkan kesan tersendiri baginya. Seperti ketika harus siap siaga 24 jam, belum lagi ketika hari libur harus tetap terjun ke lapangan karena membutuhkan personel tambahan.

Ada satu cerita yang membuatnya bergetar. Saat itu mereka mencari tubuh penambang pasir yang dilaporkan hanyut. Seharian mencari, ketika menjelang maghrib ada laporan mayat mengambang.

Ketika didekati, ternyata mayat tersebut bukan yang dicari. Meskipun demikian, jasad itu tetap dievakuasi.

Baca Juga: Belasan Orang Diselamatkan dari Bukit Klotok dalam 8 Bulan, BPBD Kota Kediri Ungkap Penyebabnya

”Nah, di sela proses evakuasi itu kami mendengar gema takbir berkumandang ternyata besoknya sudah Hari Raya. Ini membuat saya gemetar (karena) mengingat kematian,” kenangnya dengan nada penuh haru.

Dia sejatinya bukan sekali itu mengevakuasi jenazah dari Sungai Brantas. Namun, vibes saat itu tersa berbeda. Dia benar-benar diingatkan dengan kematian.

Soal kendala, pria asal Kecamatan Mojoroto itu juga menyebut soal sarana dan prasarana serta personel. Semuanya masih terbatas.

“Meskipun Kota Kediri kecil, kejadiannya cukup besar. Beruntungnya di Kota Kediri ada tim reaksi cepat gabungan dari beberapa stakeholder. Ini cukup membantu dalam  proses penanganan di lapangan,” pungkasnya sembari berharap ke depan alat dan personel tercukupi sehingga penanganan bisa lebih cepat.

Joko Arianto, pemegang tongkat komando BPBD Kota Kediri juga memiliki pengalaman suka dan duka. Kalaksa sejak 2024 ini mengaku banyak hal yang dia rasakan dan timnya.

Baca Juga: Detik-Detik Mengerikan! 3 Pekerja Terjatuh dari Lantai Dua, Damkar dan BPBD Kediri Berjibaku Evakuasi

“Ada rasa puas, kemanusiaan, dan batin. Solidaritas tim  juga semakin kuat,” ujar Joko.

Tentu tak memungkiri juga jika pengalaman dan ketrampilan personel semakin meningkat ketika sering terjun ke lapangan untuk melakukan penanganan. Itu mengingat apa yang terjadi di lapangan biasanya di luar dugaan. Sehingga perlu strategi khusus yang diterapkan.

Di balik itu semua, bapak dari tiga anak ini juga tidak menepis duka yang dialaminya. Mulai dari risiko keselamatan tinggi, kelelahan fisik  dan mental, hingga keterbatasan sarana dan prasarana.

“Terkadang kondisi lapangan juga sulit. Sehingga diperlukan strategi dalam proses evakuasi atau penanganannya,” pungkasnya. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#rumah roboh #TRC BPBD KOTA KEDIRI #SENYUM #angin kencang #pohon tumbang