Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Penanganan Bencana Kota Kediri : Kala BPBD Kota Kediri Berjibaku Melawan Amukan Puting Beliung, Personel Terbatas Bikin Molor Penanganan

Hilda Nurmala Risani • Selasa, 7 April 2026 | 20:15 WIB
Ilustrasi Bencana : Afrizal Syaiful M/JPRK
Ilustrasi Bencana : Afrizal Syaiful M/JPRK

 

KEDIRI, JP Radar Kediri - Bencana datang tak bisa dikira. Skala dan dampaknya pun bisa massif. Ini yang menjadi tantangan bagi BPBD, yang masih harus berkutat dengan keterbatasan personel dan peralatan.

Jumat (3/4), sekitar pukul 15.00, menjadi sore mencekam bagi warga Kota Kediri. Hujan deras mengguyur hampir di semua wilayah. Yang bikin miris, jatuhnya air disertai embusan angin kencang.

Begitu kencangnya, angin itu sampai memunculkan suara mendengung yang mengerikan. Di beberapa tempat membuat atap rumah beterbangan. Genting-genting dan lembaran galvalum penutup melayang-layang.

Baca Juga: Awas, Kemarau Tahun Ini Diprediksi Lebih Kering, BPBD Kediri Imbau Waspadai Potensi Bencana Pancaroba

Di bagian wilayah lainnya, pohon-pohon bergeretakan. Dahannya banyak yang patah dan menghujam ke aspal jalan. Tak sedikit pula yang bertumbangan hingga tercerabut akarnya. Melintang membelah jalan. Membuat kemacetan di jalanan. Kendaraan terpaksa berhenti hingga deretannya mencapai beberapa kilometer.

Situasi seperti itu tak hanya menakutkan bagi warga kota. Juga, tantangan berat bagi personel Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri, yang menjadi ujung tombak penanganan. Kendalanya sudah bisa diduga, keterbatasan personel dan peralatan yang masih belum mencukupi secara kuantitas dan kualitas.

“Kalau kejadiannya serempak seperti kemarin itu, ada di 13 titik yang berbeda. Maka kami akan pilah mana yang strategis dan harus didahulukan proses penanganannya agar tidak mengganggu kepentingan masyarakat umum,” aku Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Kediri Joko Arianto.

Baca Juga: Bansos PKH Tahap 1 Cair Bareng Sembako di Wilayah Ini, 1,7 Juta KPM Diutamakan Korban Bencana

Massifnya dampak bencana, serta keterbatasan jumlah personel itulah yang membuat penanganan seakan lamban. Bahkan, hingga beberapa hari usai kejadian masih banyak terlihat onggokan potongan batang pohon yang menumpuk di sisi jalan.

Joko mengaku, mereka mendahulukan proses penanganan yang menyangkut kepentingan banyak orang. Misalnya pohon tumbang berukuran besar menutup hampir seluruh badan jalan.

Contohnya pohon tumbang di Jalan Urip Sumoharjo, Kecamatan Kota yang didahulukan karena berada di jalur nasional. Akses yang menghubungkan Kediri dengan kota-kota lain seperti Tulungagung, Trenggalek, dan Blitar. Jalur ini sangat padat dengan lalu lintas kendaraan besar kecil.

Sementara di lokasi lain ditunda esok harinya. Sebab, penanganan tidak mendesak karena tak berdampak pada akses publik. Seperti di area sekitar GOR Jayabaya.

Baca Juga: Antisipasi Bencana Hidrometeorologi, USU Jembatani Dialog Akademisi, Industri, dan Pemerintah

“Terkadang kami kewalahan karena jumlah personel yang terbatas. Dan  hampir bersamaan kejadiannya,” aku pria kelahiran 1976 itu.

Berapa jumlah personel BPBD? Saat ini Joko menyebut 12 orang. Belasan orang itu dibagi dalam dua tim. Mereka bekerja bergantian ketika menangani bencana.

Misalnya, dalam satu lokasi ada dua orang yang melakukan evakuasi. Bila selesai, mereka berpindah ke lokasi lain.

Sebaliknya, ketika satu lokasi belum tertangani, personel akan ditambah. Catatannya, lokasi lain yang lebih krusial sudah selesai.

Jadi 12 personil itu di bagi enam (orang) di shift pagi. Kemudian tiga (orang) shift malam dan tiga lainnya libur,” paparnya.

Baca Juga: Pohon-Pohon Tumbang dan Puluhan Atap Rumah di Kota Kediri Beterbangan Tersapu Angin, BPBD Imbau Masyarakat Waspadai Cuaca Ekstrem di Pancaroba

Repotnya, kendala tak cuma personel terbatas saja. Juga peralatan yang digunakan. Ketika sedang butuh cepat, tiba tersendat atau macet.  Perlu dibetulkan terlebih dulu

“Kendalanya juga pada peralatan-peralatan. Terkadang butuh gerak cepat, alatnya ngandat (tersendat-sendat, Red). Tapi alhamdulillah dengan niat baik semua bisa terselesaikan,” tandasnya.

Gergaji mesin atau chainsaw misalnya, saat ini hanya enam unit. Nah, ketika ada belasan titik yang terjadi, BPBD harus memilih. Menangani enam titik krusial terlebih dulu. Sisanya, harus menunggu.

“Itupun menyesuaikan ukuran pohon yang tumbang,” terang pria asal Kelurahan Jamsaren itu.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem di Kediri Jadi Ancaman Masyarakat

Tak heran proses penanganan kadang sampai larut malam. Bahkan berlanjut keesokan hari karena beberapa faktor. Seperti kesehatan personel dan alat yang harus ‘diistirahatkan’.

Peralatan lain adalah pompa alkon untuk menyedot air dalam volume besar. Mereka memiliki dua unit. Namun, menurut Joko, untuk sementara ini dianggap cukup. Sebab, genangan yang terjadi biasanya tak bersamaan.

“Kebetulan tahun ini kami juga mendapatkan bantuan dari BPBD provinsi,” ujar pria asal Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Pesantren itu.

Equipment BPBD lain sebenarnya masih ada. Namun, yang paling sering digunakan adalah dua alat itu. Karena itu, ke depan, Joko menyebut butuh tambahan chainsaw yang lebih besar. Sebab, beberapa jenis pohon yang tumbang batangnya sangat besar. Sehingga nanti bisa menyingkat penanganan.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem di Kediri Jadi Ancaman Masyarakat

“Kalau cuaca ekstrem sejauh ini hanya dua alat tersebut yang dibutuhkan. Nanti coba kami koordinasikan dengan BPBD provinsi terkait pengadaan alat tersebut (chainsaw, Red),” ungkapnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri.

Realita itu yang membuat BPBD berharap warga memahami. Yaitu penanganan bencana tidak bisa instan. Tak bisa selesai dalam waktu singkat.

Demikian halnya dalam hal memberi bantuan. Mereka perlu melakukan asesmen terlebih dulu. Sebelum memberikan keesokan harinya.

“Selain dari BPBD juga ada stakeholder terkait. Seperti OPD (organisasi perangkat daerah, Red) lain, TNI, Polri, dan relawan yang membantu dalam proses penanganan bencana,” ucap Joko, sambil menegaskan bahwa penanganan dan bantuan selalu diupayakan secepat mungkin. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#rumah roboh #BPBD Kota Kediri #bencana #pohon tumbang #puting beliung