Hari Autisme Sedunia jatuh setiap 2 April. Momentum menumbuhkan pemahaman bahwa kondisi itu bukan penyakit yang harus disembuhkan. Melainkan perbedaan cara kerja otak yang unik dan istimewa.
Belasan anak berkumpul di Omah Stimulasi PKBM Krisna, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Mereka terlihat sibuk sendiri, meskipun ada orang tua dan guru pendamping di sekitarnya. Mereka asyik berlarian. Mengutak-atik apapun di dekatnya. Tapi ada pula yang terdiam dengan tenang. Menatap orang-orang dewasa yang tengah bercengkerama.
Mereka adalah anak-anak penyandang neurodivergent, termasuk autisme. Kemarin (1/4) kebetulan mengikuti acara halal bihalal di lembaga pendidikan non-formal tersebut. Di tempat yang sama pula dalam lima kali seminggu mereka juga mengikuti kelas.
Baca Juga: Peringati Hari Peduli Autis Sedunia, SDIT Bina Insani Kota Kediri Gelar Karya Kelas Inklusi
Di antara 12 anak itu salah satunya adalah Fakhry Zafran. Usianya baru sebelas tahun. Ketika teman-temannya terlihat aktif, kemarin Fakhry terlihat lebih tenang. Lebih banyak diam dan memandang orang-orang.
“Ini tergantung pola tidurnya. Kalau salah (jam tidurnya kurang, Red), sensory-nya tetap bermasalah. Seperti tidur siang itu wajib minimal satu jam. Karena untuk memperbaiki sensory itu sebenarnya cukup jam tidur,” ucap Willia Revana, ibu Fakhry.
Willia duduk memperhatikan putranya itu. Sesekali sang anak menggerakkan jemari tangannya berulang, biasa disebut stimming. Lalu kembali duduk diam di sofa.
Bagi orang lain, mungkin itu terlihat berbeda. Namun bagi Willia, setiap gerakan yang dilakukan putranya itu adalah bagian dari cara anaknya memahami dunia.
Putra pertamanya itu didiagnosa autisme pada usia tiga tahun. Dia mulai menyadari itu saat anaknya tersebut mengalami speech delay. Hingga saat ini, bocah yang hobi bersepeda itu juga masih memiliki kemampuan bersosialisasi dan komunikasi yang berbeda dari anak seusianya. Dan perjalanannya memahami kondisi anaknya itu juga tidak singkat.
Baca Juga: Autisme Butuh Ruang Berekspresi untuk Tingkatkan Kepercayaan Diri
“Kalau sebelum tiga tahun biasanya dibilang speech delay. Tapi setelah itu baru bisa ditegakkan diagnosis autis,” ungkap perempuan 38 tahun itu.
Sejak diagnosa itu, puluhan dokter dari berbagai rumah sakit dan kota telah dia datangi. Tujuannya untuk mencari bentuk penanganan atau treatment terbaik bagi anaknya.
Dan hingga saat ini, berbagai terapi dan pendampingan klinis telah dilaluinya. Hingga akhirnya dia sampai pada fase pendampingan untuk tumbuh kembang sang putra.
Perempuan kelahiran Desa Tugurejo itu sadar betul autisme yang disandang putranya bukanlah penyakit yang harus disembuhkan. Untuk itu, sudah sejak lama dia berdamai dengan keadaan dan fokus mendampingi sang putra pertama. Utamanya mendampingi agar tumbuh kemandirian, minimal terhadap diri sendiri.
“Setidaknya dia bisa mandi sendiri, makan sendiri, untuk dirinya sendiri sebenarnya. Jadi bukan seperti harus seperti anak normal. Itu impossible kalau menurut saya. Namanya saja anak berkebutuhan khusus, pasti berbeda,” tandasnya.
Baca Juga: Guru dan Terapis Pengajar Anak Autis dan Down Syndrom di Sekolah CII
Dengan pendampingan stimulasi yang rutin dilakukan tiap hari, perkembangan Fakhry perlahan terlihat. Dia mulai lulus toilet training, mengucapkan beberapa kata, hingga menunjukkan penurunan perilaku berulang atau stimming serta lebih tenang.
Meski begitu, perjalanan tersebut masih penuh dinamika. Fakhry masih mengalami hambatan dalam komunikasi verbal dan interaksi sosial. Kondisi sensorinya pun memengaruhi perilaku sehari-hari. Mulai dari sensitivitas terhadap suara hingga rutinitas tidur yang harus dijaga ketat.
“Kami tidak mengejar anak jadi seperti anak pada umumnya. Yang penting dia bisa mandiri, bisa mengurus dirinya sendiri. Dan itu tanggung jawab saya untuk mendampingi,” kata Willia, teguh dengan prinsipnya mendidik anak berkebutuhan khususnya, sesuai kapasitas anak.
Baca Juga: Tim PkM Dosen UNP Kediri Implementasikan Sistem Edukasi Digital Sehat untuk ABK
Kendala pendampingan anak autis juga sering kali datang dari masyarakat. Banyak orang tua yang masih belum terbuka dengan kondisi anak. Sehingga memengaruhi keberhasilan terapi atau pendampingan yang telah dilakukan.
“Setiap pendampingan dan terapi itu kan yang kami kejar dulu itu fokusnya anak. Kalau anak sudah bisa fokus, otomatis diajarkan apa saja bisa. Tapi seringkali orang tua itu nggak telaten. Akhirnya pembelajaran di Omah Stimulasi tidak berulang di rumah,” ungkap Miftahur Roisah, pendamping anak berkebutuhan khusus di Omah Stimulasi PKBM Krisna.
Kemampuan fokus anak-anak berkebutuhan khusus yang berbeda juga jadi tantangan bagi para guru pendamping. Tidak adanya pembiasaan di rumah kerap kali membuat pembelajaran harus diulang lagi dari nol.
Belum lagi pola treatment dan penerimaan anak berkebutuhan khusus yang berbeda-beda setiap anak.
Mendampingi tumbuh kembang anak bukan tantangan satu-satunya. Masih banyak masyarakat yang keliru pemahamannya tentang anak-anak autis.
“Masih banyak yang menyebutnya ‘kurang bek, gak penuh 100’. Padahal anak-anak ini juga bisa mandiri dan bisa terjun ke masyarakat,” tandasnya. (ayu isma/fud)
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri