Harus Pelihara Minimal Lima Ekor bila Tak Ingin Tekor
Para peternak sapi perah memang masih untung dalam kondisi sekarang ini. Namun, bagi peternak skala kecil, keuntungan sangat kecil. Itupun, harus kerja keras mencari pakan dan tak berhitung biaya tenaga yang dikeluarkan.
Akhmad Kholil Junaidi tergolong lama menjadi peternak sapi perah. Kandang di pekarangan belakang rumahnya di Desa Babadan, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri terisi delapan ekor sapi perah. Namun, yang bisa menghasilkan susu hanya lima ekor. Sisanya, tengah bunting tua.
Setiap hari, satu ekor sapi miliknya menghasilkan susu yang berbeda-beda. Ada yang 10 liter, 12 liter, hingga paling banyak 15 liter.
“Rata-rata ya 12 liter per hari,” ucap lelaki yang biasa dipanggil Junaidi ini.
Berapa keuntunganya? Dengan harga susu per liter saat ini yang hanya Rp 7.250, selama sepuluh hari keuntungannya adalah Rp 750 ribu. Sudah dikurangi biaya pakan, listrik, air dan lain sebagainya.
“(Keuntungan) sebulan ya sekitar Rp 2,25 juta,” sebutnya.
Menurutnya, harga susu per liter Rp 7.250 bagi peternak kecil seperti dirinya menyulitkan. Keuntungannya sangat ngepres.
“Untung segitu itu tenaga yang kerja belum dihitung,” akunya.
Kondisi seperti itu membuat peternak seperti dirinya harus bersiasat. Salah satunya adalah mengupayakan pakan hijau atau dedaunan dengan mencari, bukan membeli.
“Di lereng Kelud itu kan mayoritas ijon-ijonnya daun nanas.
Nah, bagi yang punya lahan maka daun nanas ini gratis. Tapi kalau tidak punya, kalau tidak dikasih tetangganya ya beli.
Ini yang juga mengurangi margin keuntungan,” jelasnya.
Bila ingin untung lebih banyak? Junaidi langsung mengatakan, harus menambah jumlah sapi.
Tapi, risikonya adalah biaya yang tidak sedikit. Karena itu, cara lain adalah meningkatkan produktivitas sapi. Agar bisa 15 liter per hari.
“Ketika sapi baru melahirkan biasanya bisa 20 liter sehari. Itu berlangsung selama empat bulan,” jelas peternak yang tak bergabung dalam koperasi susu ini.
Menurutnya, agar keuntungan bisa menyamai UMK, sapi yang menghasilkan susu minimal 10 ekor.
Jika tidak, otomatis harus punya pekerjaan sampingan.
“Kalau saya sampingannya tukang las. Kalau tidak ada sampingan, bagi peternak kecil ya kurang,” akunya.
Ucapan Junaidi itu dibenarkan Purnomo, peternak sapi perah yang tergolong besar di Desa Babadan.
Pemilik 21 ekor sapi perah ini menyebut sapi yang harus produktif minimal 10 ekor.
Itupun, sehari harus bisa menghasilkan 15 liter per ekornya.
“Kalau di bawah itu ya ngepres. Biaya pakan tidak sebanding dengan hasilnya,” aku pria yang menggeluti ternak sapi perah selama 20 tahun ini.
Sapi milik Purnomo yang menghasilkan susu ada 11 ekor. Dalam 10 hari, dia bisa mendapatkan keuntungan Rp 3,5 juta.
Namun, baginya, bila dihitung keseluruhan marjin keuntungannya tak terlalu besar. Sebab, dia masih harus merawat 10 sapi yang tidak menghasilkan susu.
Bagaimana agar peternak sapi perah bisa punya margin yang lumayan? Purnomo menyebut harga susu harusnya di kisaran Rp 7.500. Sebab, biaya operasionalnya juga tinggi.
Dia merinci, kebutuhan konsentrat dihitung per liter susu. Misalnya, satu sapi menghasilkan 20 liter, maka sekitar 50 persen dialokasikan untuk konsentrat. Artinya, kebutuhan sentrat sekitar 10 kilogram.
“Jadi kalau dalam 10 hari kita mendapatkan susu 100 liter, maka bisa menghabiskan sekitar setengah ton sentrat,” jelasnya terkait tingginya kebutuhan operasional.
Agak berbeda dengan pengakuan pasangan Anggoro dan Rindy Munika.
Peternak sapi perah di Desa Medowo, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri ini memiliki delapan ekor.
Dengan empat sapi yang berproduksi, dia bisa mendapat penghasilan kotor lebih dari Rp 10 juta sebulan.
Besar? Angkanya memang besar. Namun, itu belum dikurangi biaya pakan, pakan, listrik, hingga air.
“Bersihnya, bulan lalu, mendapat Rp 3,2 juta,” terang wanita yang biasa dipanggil Rindy ini.
Dalam periode itu, Rindy mengaku harus mengeluarkan Rp 7 juta.
Mulai dari katul, konsentrat, hingga vaksin.
Sedangkan rumput suaminya mencari sendiri.
“Kalau rumputnya beli, ya bisa nggak nyucuk hasilnya,” tandas Rindy.
Untuk mengurangi pengeluaran, perawatan juga dilakukan sendiri. Mulai memandikan, memberi makan, membersihkan kandang, hingga memerah.
Menurutnya, menjadi peternak sapi perah dirasa masih menguntungkan. Catatannya, yang dipelihara minimal tiga ekor.
Itupun, semua perawatan dan mencari rumput dilakukan sendiri.
Editor : Andhika Attar Anindita