Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pengamat Musik Kediri Sebut R. Soerarjo Sebagai Tokoh Lokal yang Menasional tapi Minim Penghargaan

Ayu Ismawati • Minggu, 22 Februari 2026 | 15:26 WIB

Prof. Dr. Suko Susilo, M.Si saat ditemui di studio miliknya, di Kelurahan/Kecamatan Mojoroto (15/1).
Prof. Dr. Suko Susilo, M.Si saat ditemui di studio miliknya, di Kelurahan/Kecamatan Mojoroto (15/1).

KEDIRI, JP Radar Kediri- Nama R. Soerarjo yang tak banyak dikenal masyarakat– bahkan warga Kota Kediri– mendapat sorotan. Pengamat musik asal Kediri Prof Suko Susilo menilai, sang komponis merupakan tokoh lokal yang sudah menasional melalui karyanya.

Dan ini perlu mendapat penghargaan serta apresiasi tersendiri. Baik oleh masyarakat maupun pemerintah daerah.

Memang, tak seperti lagunya, Dari Sabang Sampai Merauke, yang masih sering dikumandangkan di ruang-ruang kelas hingga di momen hari kemerdekaan, nama R. Soerarjo nyaris tenggelam. Begitupun jejaknya di sudut-sudut Kota Kediri.

“Jadi moyang intelektual seni Kediri ya Pak Soerarjo itu. Tentu saya bisa salah. Tetapi bagi saya, Pak Rarjo merupakan tokoh lokal yang menasional. Yang sumbangannya berupa komposisi lagu Dari Barat Sampai ke Timur yang kemudian oleh Bung Karno dianjurkan untuk diubah (liriknya) jadi lebih empirik,” kata Prof Suko.

Untuk itu, guru besar Universitas Tribakti Lirboyo Kediri itu menilai, perlu ada sosialisasi yang masif. Baik di tingkat pendidikan maupun di masyarakat umum. Dengan begitu, masyarakat Kota Kediri bisa mengenal dan ikut bangga dengan ketokohan Soerarjo.

Sebagaimana karyanya yang dikenal sebagai salah satu lagu wajib nasional, nama sang komponis di baliknya juga layak untuk dikenal dan dibanggakan sebagai seniman Kota Kediri dengan karya yang menasional.

“Bahkan kalau ada niat baik dari pemerintah untuk mendokumentasikan atau paling tidak menanamkan di dalam memory bank masyarakat lokal, bikinkanlah, misal, patung setengah badan,” usulnya.

Karena Soerarjo berasal dari Kelurahan/Kecamatan Mojoroto, Taman Sekartaji bisa menjadi opsi strategis. Apalagi, lokasinya juga dekat dengan kompleks pendidikan. Dokumentasi nyata itu menurutnya juga bisa menjadi sarana edukasi sejarah bagi masyarakat. Khususnya anak-anak muda.

Prof Suko mengungkapkan, gagasan itu sebelumnya juga sudah pernah disampaikan kepada Pemerintah Kota Kediri. Namun masih belum terrealisasi hingga sekarang.

“Tetapi kembali lagi, pemerintah lokal yang lebih punya otoritas untuk mengeksekusi gagasan yang dianggap layak untuk direalisasi,” sambung guru besar bidang psikologi sosial itu.

Belum banyaknya dokumentasi terhadap sosok Soerarjo juga sangat disayangkan. Belum adanya kejelasan pemahaman itu rentan memicu kesimpangsiuran. Bahkan– di beberapa kasus– terjadi plagiasi hingga pengakuan karya.

“Kesimpangsiuran terkait siapa yang mencipta juga menjadi wajar, yang akhirnya banyak pengakuan,” tandasnya. (ayu isma/fud)

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Andhika Attar Anindita
#Jejak Sejarah #dari sabang sampai merauke #Menasional #sejarah #Soerarjo #Komponis