Berjuang dan Meninggal di Kediri tapi Arsip Hidupnya ‘Menghilang’
Siapa tak kenal lagu Dari Sabang Sampai Merauke? Salah satu lagu nasional yang sering berkumandang di banyak ruang dan waktu. Ironinya, sang komposer seakan dilupakan di tanah tempat dia menghabiskan usia, Kediri.
Ketika ditanya nama R. Soerarjo, sekumpulan bapak-bapak juru kelola TPU Kelurahan Mojoroto itu terdiam sejenak dan saling bertanya. Nama itu terasa asing bagi mereka. Namun, begitu ditanya tentang pencipta lagu nasional, mereka langsung kompak menunjuk sebuah pusara yang berada tak jauh dari gerbang TPU.
Di antara makam-makam yang nyaris tertutup belukar, makam itu memang lebih mencolok. Dua makam itu dikijing dengan warna dan bentuk serupa. Kecuali nisan salah satunya yang lebih mencolok.
Nisannya terbuat dari batu dipotong abstrak. Di permukaannya terukir ‘Di sini disemayamkan pencipta lagu Dari Sabang Sampai Merauke R. Soerarjo’. Diukir sejak 1993, tulisan itu nyaris luntur termakan usia.
Nama R. Soerarjo sebagai komposer lagu Dari Barat sampai ke Timur dikukuhkan melalui piagam kesenian Adicakti Prajnaparamita Inspeksi Daerah Kebudajaan Djawa Timur Perwakilan Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudajaan, tahun 1966.
Ya, lagu tersohor itu pertama kali ditulis dengan judul itu. Singkat cerita, Presiden Soekarno mengusulkan untuk mengubah sebagian lirik dan judulnya menjadi Dari Sabang sampai Merauke agar lebih empirik, sesuai kondisi geografis Indonesia.
Sayangnya, pamor lagu yang tersohor tak sejalan dengan nama sang komposer. Banyak masyarakat—khususnya warga Kota Kediri—yang tak mengenal sang komposer. Padahal, berdasarkan catatan sejarah, pernah tinggal di Kelurahan/Kecamatan Mojoroto.
“Lagunya tentu tahu, ya. Malah hafal sekali. Tapi nggak tahu sama sekali kalau penciptanya orang Mojoroto,” kata Hanifa, 26, warga Kelurahan Mojoroto.
Baca Juga: Kembangkan Pecinan Kota Kediri, Usulkan 5 Objek Jadi Cagar Budaya
Ketidaktahuannya itu menurutnya wajar. Sebab, tidak pernah ada ulasan tentang sosok R. Soerarjo. Baik di bangku sekolah maupun di lingkungannya sendiri. “Kaget juga ternyata penciptanya orang Mojoroto. Soalnya nggak ada yang pernah mengulas kalau penciptanya berasal dari Kediri,” akunya.
Hal serupa dikatakan Safira, 35, warga Kelurahan Bandarkidul, Mojoroto. Selama ini, dia hanya tahu lagunya saja. Tanpa tahu siapa penciptanya. Dia pun tak pernah menyangka bahwa penciptanya adalah orang Kota Kediri.
“Pikirku mungkin penciptanya sama seperti pencipta lagu-lagu nasional lainnya seperti WR Supratman atau Ismail Marzuki,” ungkapnya.
Berdasarkan piagam Adicakti Prajnaparamita, Raden Soerarjo lahir pada 17 Juli 1915 di Ponorogo. Dilansir dari berbagai sumber, R. Soerarjo merupakan seorang guru yang pernah mengajar di perguruan Taman Siswa Nganjuk.
Di sanalah, dia menciptakan lagu Dari Barat Sampai ke Timur, di Jumat malam, 20 Mei 1942. Yang kemudian pada tahun 60-an di sebuah rapat akbar, Bung Karno mengubah lirik dan judulnya menjadi Dari Sabang sampai Merauke.
Baca Juga: Pekik Kemerdekaan di Kediri Menggema di Taman Siswa, Penyambutan Proklamasi Dipimpin Mayor Bismo
Semasa hidupnya, pria dengan nama lengkap Raden Soerarjo Marwotokoesoemo itu cukup vokal memperjuangkan karyanya. Termasuk begitu memutuskan pindah ke Kota Kediri setelah masa kemerdekaan. Dari beberapa jejak pemberitaan surat kabar, banyak kesimpangsiuran atas siapa sosok di balik lagu itu.
Salah satunya, klaim bahwa lagu itu merupakan ciptaan WR Supratman, RA Sujasmin, Cornel Simanjuntak, hingga Ismail Marzuki. Dan suami dari mendiang R. Roro Surtiyanti itu vokal memperjuangkan haknya hingga akhir hayatnya.
Berdasarkan laporan Jawa Pos edisi Rabu, 5 Mei 1993, Soerarjo meninggal dunia di usia 78 tahun. Saat dia tengah menjalani proses persidangan atas pembajakan hak cipta lagunya.
Di Kota Kediri, alumnus Taman Guru, Taman Siswa Madiun itu pernah menjadi Kepala Ditjora Depdikbud Kotamadya Kediri. Dia pensiun pada 1971.
Di masa pensiunnya, bapak empat anak itu masih mengajar sebagai guru olahraga di SMAK Santo Augustinus Kediri pada 1985 selama empat tahun. Baik di Pemkot Kediri maupun SMAK St Augustinus, jejak sang komposer pun lenyap.
“Mungkin pernah dengar, ya. Tapi kalau dokumen atau jejak sejarahnya nggak ada,” ujar Lusia, petugas TU di SMAK St Augustinus.
Penelusuran Jawa Pos Radar Kediri di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Kediri juga nihil. Tak ada arsip sejarah tentang Soerarjo maupun karya ciptaannya yang tersimpan di sana. Begitu pula di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri.
Kepala Disbudparpora Kota Kediri Bambang Priyambodo mengatakan, pihaknya masih harus menelusuri jejak dan biodata Soerarjo sebagai pencipta lagu Dari Sabang Sampai Merauke. Sebab selama ini, dokumentasinya juga nyaris tidak ada sama sekali di Pemerintah Kota Kediri.
“Kami akan mencari referensi lebih lanjut. Kalau memang itu betul, ya harus diupayakan bahwa beliau memang penulis lagu yang bersejarah dan kalau perlu kami cari ahli warisnya,” ujar Bambang.
Dengan sumber dokumentasi dan referensi yang jelas, menurutnya jasa Soerarjo akan sangat layak untuk diabadikan. Cross check itu diperlukan, menimbang referensi dokumen yang saat ini masih sangat terbatas. Namun begitu, informasi ini menurutnya menjadi kabar baik yang akan segera ditindaklanjuti pihaknya.
“Kebetulan beberapa waktu lalu di pidatonya Bapak Presiden Prabowo tentang Radio Bung Tomo (menyoroti hilangnya situs bersejarah karena dibongkar, Red), akhirnya menjadi atensi semua daerah yang berlomba-lomba mempertahankan situs cagar budaya maupun peninggalan sejarah,” ungkap Bambang.
Hal itupun menjadi pembelajaran bagi seluruh pemerintah daerah agar bisa mempertahankan jejak peninggalan sejarah. Termasuk Soerarjo dan karyanya yang juga berpotensi untuk diabadikan dan disiarkan agar lebih dikenal dan tak dilupakan masyarakat.
“Tentu kami mengapresiasi dan akan menelusuri jejak ataupun dokumen pendukungnya,” pungkas Bambang. (ayu isma/fud)
Jejak Hidup sang Komponis yang Terlupakan
- Soerarjo lahir di Ponorogo pada 17 Juli 1915
- Setelah masa kemerdekaan, R. Soerarjo tinggal di Kota Kediri, tepatnya di daerah Mojoroto.
- Menjadi pengajar di Taman Siswa Nganjuk, di periode inilah R. Soerarjo menciptakan lagu ‘Dari Barat Sampai Ke Timur’.
- Nama R. Soeraarjo sebagai komposer lagu Dari Barat Sampai Ke Timur dikukuhkan melalui piagam kesenian Adicakti Prajnaparamita Inspeksi Daerah Kebudajaan Djawa Timur Perwakilan Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudajaan, pada 1966.
- Menjadi Kepala Ditjora Depdikbud Kotamadya Kediri dan pensiun 1971.
- Menjadi guru olahraga di SMAK St Augustinus Kediri selama empat tahun, mulai 1985.
- Getol memperjuangkan hak cipta atas karyanya yang banyak disebut diciptakan oleh komponis lain seperti WR Soepratman, RA Sujasmin, Cornel Simanjutak, hingga Ismil Marzuki.
- Meninggal pada Mei 1993 di usia 78 tahun, saat masih dalam proses sidang atas pembajakan hak cipta lagunya.
- Dimakamkan di TPU Kelurahan Mojoroto.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Andhika Attar Anindita