Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dari Tren Munculnya Pasar Tematik di tingkat Desa/Kelurahan, Pakar Ekonomi Beber Tantangannya

Ayu Ismawati • Kamis, 19 Februari 2026 | 04:05 WIB

EKONOMI BERGERAK: Aktivitas CFD JLS Rempi Pesantren setiap Minggu pagi berdampak pada ekonomi warga sekitar yang menggeliat.
EKONOMI BERGERAK: Aktivitas CFD JLS Rempi Pesantren setiap Minggu pagi berdampak pada ekonomi warga sekitar yang menggeliat.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Kemunculan pasar-pasar tematik semacam JLS Rempi Pesantren, Kampung Kuliner Kaliombo, Jangkepan Ngronggo, Jalan Kembar Tarokan, hingga CFD Balongjeruk, Kunjang, Kabupaten Kediri menunjukkan fenomena baru. Yaitu geliat ekonomi yang  didorong oleh aktivitas warga.

Selain itu, fenomena tersebut bisa dilihat sebagai pergeseran makna pasar oleh masyarakat. Pasar tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat bertransaksi. Tapi juga menjadi ajang interaksi sosial secara luas.

“Pasar tidak lagi dimaknai sebagai tempat transaksi. Melainkan juga sebagai ruang interaksi sosial, ruang budaya, sekaligus ruang rekreasi keluarga,” kata pakar ekonomi Subagyo.

Subagyo menyebut konsep slow morning market seperti itu menawarkan pengalaman yang santai, ramah keluarga, dan estetik. Relevan dengan gaya hidup masyarakat urban saat ini.

Dampaknya bagi perekonomian? Menurutnya sangat positif. “Membuka akses pasar bagi pelaku UMKM yang selama ini mungkin hanya bergantung pada penjualan harian dengan jangkauan terbatas,” ungkap dosen Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri itu.

Kemunculan CFD-CFD dadakan atau pasar tematik ini juga bisa menjadi ruang inkubasi wirausaha baru. Khususnya bagi anak muda yang ingin mencoba usaha kuliner atau produk kreatif, tanpa harus membuka toko permanen.

Tapi, Subagyo mengingatkan, tren ini rentan ramai di awal saja. Kemudian cepat ditinggalkan seiring berjalannya waktu. Karena itu penting ada upaya untuk survive dan sustainable atau berkelanjutan. Caranya dengan penguatan diferensiasi dan penguatan identitas.

“Setiap kelurahan tidak perlu meniru konsep yang sama persis. Justru kekuatan utamanya terletak pada kekhasan lokal,” sambungnya.

Akademisi dengan spesialisasi studi kewirausahaan dan manajemen UMKM itu mencontohkan, JLS Rempi di Kecamatan Pesantren bisa mengintegrasikan potensi kuliner dengan karakter wilayah yang berkembang sebagai kawasan penyangga kota.

Sedangkan Kampung Kuliner Kaliombo bisa memperkuat citranya sebagai pusat kuliner keluarga. Atau, festival Jangkepan di Kelurahan Ngronggo yang sudah memiliki modal kuat pada jajanan tradisional yang sarat nilai budaya. “Semakin jelas identitasnya, semakin kuat daya tariknya,” tandas Subagyo.

Tantangan yang tak kalah berat bagi pengelola pasar tematik ini–lanjut Subagyo–adalah keberlanjutan. Sudah banyak contoh pasar atau wisata tematik yang mati suri hingga hilang pamornya, tak lama setelah namanya meledak.

Subagyo menilai, cepat redupnya event lokal itu bisa disebabkan karena kurang konsistensi, manajemen yang lemah, hingga konflik kepentingan internal. Sehingga, tata kelola menjadi krusial agar event lokal bisa berkelanjutan.

“Komunitas harus menjadi aktor utama agar partisipasi tetap terjaga. Pemerintah kota dapat berperan sebagai fasilitator. Seperti memastikan aspek keamanan, kebersihan, pengaturan lalu lintas, serta promosi terpadu,” terangnya sembari menyebut, kolaborasi dengan lembaga eksternal seperti perbankan, kampus, hingga pelaku kreatif juga bisa memperkuat ekosistemnya.

Pada umumnya, kemunculan pasar-pasar tematik memang belum bisa berdampak besar pada pendapatan asli daerah. Namun, kata Subagyo, dalam perspektif ekonomi kerakyatan, efek multiplikasinya sangat signifikan.

Ketika satu pedagang meningkat omzetnya, dia akan membeli bahan baku lebih banyak. Termasuk menyerap tenaga kerja tambahan hingga memperluas jaringan pemasok. Dari situ, rantai ekonomi lokal pun bergerak.

“Jika dikelola dengan visi jangka panjang, menjamurnya pasar tematik ini bisa menjadi model pembangunan ekonomi berbasis komunitas di Kota Kediri. Bukan hanya menghidupkan akhir pekan warga. Tetapi juga membangun identitas kota yang dinamis, kreatif, dan berakar pada potensi lokal,” tandas Subagyo.

Sementara, pemerintah menyambut baik fenomena ini. Camat Pesantren Judy Kuntjoro mengatakan pemerintah mengapresiasi dan mendukung munculnya pasar tematik seperti itu. Seperti CFD JLS Rempi Pesantren yang memiliki dampak ekonomi yang signifikan.

Hanya saja, penataan parkir dan kebersihan menjadi beberapa hal yang harus dimaksimalkan tata kelolanya. Salah satunya melalui peran paguyuban yang dibentuk dari warga setempat.

“Paguyuban ini juga bertanggung jawab terkait lingkungan, khususnya kebersihan. Soalnya dikhawatirkan, orang-orang yang ngopi atau njajan dan sebagainya, buang sampah sembarangan,” ujarnya, terkait hal yang harus diantisipasi dengan viralnya kegiatan di sana.

Judy menilai, munculnya fenomena itu sebagai bentuk ekonomi kreatif yang tumbuh secara organik dari masyarakat sendiri. Dari yang semula hanya diikuti pelaku UMKM dari warga setempat, kian berkembang dengan didatangi pedagang-pedagang dari luar. Meski begitu, menurutnya pemerintah tetap akan memfasilitasi agar geliat ekonomi di sana bisa berkelanjutan.

“Kami berupaya membuat surat ke Mbak Wali Kota untuk melegalkan,” ungkap Judy, dengan harapan keberadaan kegiatan di sana bisa diketahui dan diakui oleh pemerintah kota.

Adapun nama Jalur Lintas Sumber Rempi diambil karena di sana juga terdapat sumber air bernama Sumber Rempi. Dia berharap, potensi itu juga bisa dikembangkan untuk mendukung program unggulan Pemkot Kediri, yakni Kediri City Tourism.

“Sementara masih CFD itu. Nanti rencana kami bersihkan jalannya untuk menuju sumber air, sehingga bisa untuk wisata edukasi juga di sana,” tandas Judy.

Agar berkelanjutan– sambung Judy– harus ada inovasi yang terus dihadirkan. Dia pun mendorong setiap Minggu bisa dihadirkan inovasi yang berbeda. Dia mencontohkan, Minggu ke-3 lalu, CFD berkolaborasi dengan komunitas reptil. Atau, lomba mewarnai untuk siswa TK dan SD yang dihadirkan pekan lalu.

Upaya agar bisa sustainable juga terlihat di Kampoeng Kuliner Kaliombo. Selain membuat tema-tema di setiap stan yang ada, juga mengedepankan keterbukaan seluruh pelakunya.

“Setiap minggu kami share pemasukan dan  pengeluaran. Jika penjualan menurun, bareng-bareng kami  pikirkan agar penjualan stabil lagi,” terang Ketua Kaliombo Kampoeng Kuliner Rendy Agung Santoso.

Di Jangkepan Ngronggo, upaya itu juga dikedepankan. Agar eksis mereka terus mengembangkan ekonomi kreatif berbasis komunitas. Sedangkan di CFD Balongjeruk, upaya survive diperlihatkan dengan mengisi CFD dengan hiburan DJ, senam bersama dan atraksi lain. 

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#komunitas #car free day #cfd #ekonomi masyarakat #Pasar Tematik #pakar ekonomi #ekonomi kreatif #identitas