Setiap zaman membawa tantangan berbeda bagi dunia jurnalistik. Seperti sekarang, jurnalis berikut dunia media massa-terutama media mainstream-menghadapi kuatnya pengaruh media sosial. Media yang identik dengan model informasi singkat, ringan, dan mudah dipahami.
“Tantangan hari ini ada pada bagaimana jurnalisme itu meneguhkan perannya dalam membawa dan menyuarakan apa yang menjadi keresahan masyarakat, kepentingan publik, dan menyuarakan kebenaran,” kata pengamat media Lukman Hakim.
Menurut Ketua Program Studi Jurnalistik Islam UIN Syech Wasil Kediri itu, tanggung jawab media seperti itu dihadapkan dengan tren homeless media. Akun-akun di luar media mainstream yang juga menyajikan berita.
Sebenarnya, akun-akun penyedia informasi di media sosial tersebut belum bisa disebut media massa.
Sebab, belum mampu menyajikan informasi sesuai kaidah jurnalistik yang mengutamakan akurasi dan disiplin verifikasi. Sayangnya, justru makin banyak diakses oleh masyarakat.
“Ketidaksiapan masyarakat dalam mengonsumsi informasi yang sedemikian panjang dan seterusnya itu hari ini dikalahkan dengan media sosial yang ringan dan mudah diakses. Tetapi terkait verifikasi dan kelengkapan saya kira ini punya persoalan tersendiri,” nilai Lukman.
Meskipun demikian, perkembangan digital tak bisa diabaikan. Media massa arus utama harus beradaptasi.
Media massa harus bisa hadir dengan tetap menyesuaikan karakter dan kebutuhan masyarakat. Salah satunya melalui konvergensi.
“Dalam arti, konvergensi itu ketika wartawan turun ke lapangan, mereka akan punya tuntutan lebih besar. Bukan hanya menyajikannya dalam bentuk narasi atau teks, tetapi juga disusun dalam bentuk audio visual. Selain itu juga harus membuatnya lebih eye catching dan dekat, sesuai karakter pembaca,” sarannya.
Dia menambahkan, media konvensional yang paling tergopoh-gopoh dalam penyesuaian ini. Namun, penyesuaian karakter media sangat dibutuhkan agar bisa bertahan.
Tantangan berikutnya dunia jurnalistik adalah perkembangan akal imitasi (AI). Sekarang orang tidak lagi perlu membuka situs media massa untuk mencari informasi.
Melainkan langsung disajikan cuplikan informasi-infomasi oleh AI. Lukman menilai fenomena itu juga layak didiskusikan lebih jauh.
Hal itu dianggap akan lebih merugikan perusahaan media massa arus utama. Terlebih di tengah perubahan budaya akses informasi masyarakat.
“Cuma, cara kerja AI itu menghimpun informasi dari media, terutama media mainstream. Sehingga media mainstream masih dianggap sebagai penyedia informasi yang kredibel,” tandasnya.
Alasan itulah yang membuat Lukman menilai bahwa jurnalisme profesional yang dilakukan media massa masih tetap dibutuhkan. Utamanya dalam menyajikan informasi yang organik, kredibel, dan humanis.
Di tengah pesatnya arus informasi melalui media sosial dan perkembangan AI, media massa arus utama masih dipercaya sebagai penjaga gawang atau gate keeper informasi.
Sayangnya, jurnalisme saat ini juga dihadapkan dengan tantangan mempertahankan profesionalisme dan sulitnya regenerasi.
Diakui Lukman, banyak mahasiswanya yang secara terang-terangan tidak ingin menjadi jurnalis. Meskipun mereka kuliah di jurusan komunikasi ataupun jurnalistik.
“Karena pemikiran mereka sangat pragmatis. Untuk apa jadi jurnalis? Kita jadi content creator ‘a day in my life’ saja sehari sudah dapat uang, Pak. Sementara jurnalis kerjanya keras, dan seterusnya,” ucapnya mengulang alasan kebanyakan mahasiswanya.
“Tetapi saya sampaikan, kerja jurnalis itu menurut saya adalah panggilan hati nurani. Karena dia adalah penyambung apa yang ingin disuarakan masyarakat dan itu menurut saya adalah satu hal yang mulia,” ungkap akademisi yang juga mantan jurnalis itu.
Di sisi lain, perubahan zaman juga menuntut profesionalisme yang lebih dari seorang jurnalis atau perusahaan media massa pada umumnya.
Tak jarang, kinerja jurnalis sering terbentur konflik kepentingan dari perusahaan media yang menaunginya. Hingga mengesampingkan kaidah jurnalistik demi bisa menyajikan informasi dengan cepat.
Namun Lukman menilai, dalam mempertahankan profesionalisme, itu bukan hanya tugas media arus utama saja.
Melainkan pemerintah seperti melalui Dewan Pers dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) harus ikut andil memperkuat eksistensi media arus utama.
“Apakah dalam bentuk kebijakan, anggaran, atau hal lain yang saya kira menjadi satu kebutuhan supaya masyarakat juga bisa terjaga dari hoaks dan disinformasi,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita