Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Hari Pers Nasional: Kuliah Jurnalistik, Tapi Ingin Jadi Content Creator

Ayu Ismawati • Senin, 9 Februari 2026 | 07:00 WIB
Ilustrasi jurnalis di persimpangan jalan.
Ilustrasi jurnalis di persimpangan jalan.

 

Disrupsi digital kian menggila. Homeless media dan akal imitasi datang mendominasi. Menjadi ancaman serius bagi media massa mainstream berikut para jurnalisnya. Toh, tetap ada nilai lebih yang membuat profesi ini tetap dibutuhkan.

Andika Syifa’kulmuna dan Nur Laili Maghfiroh baru saja selesai melakukan liputan kegiatan salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) di kampusnya, Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri.

Memang, keduanya dua tahun ini bergabung dengan pers mahasiswa (persma). Organisasi intra-kampus yang menjalankan kerja jurnalistik independen, sepenuhnya dikelola mahasiswa.

Ketertarikan mereka pada dunia jurnalistik didorong alasan berbeda. Ada yang suka dengan jurnalistik sejak di bangku sekolah.

Ada pula yang hanya karena relevan dengan program studi yang mereka ambil di perguruan tinggi.

Menariknya, sebagai generasi Z yang sangat terbiasa dengan teknologi digital dan media sosial, mereka sadar betul tantangan besar yang dihadapi jurnalisme konvensional di era sekarang.     

“Jurnalisme sekarang itu tidak hanya sekadar memberitakan. Tapi juga memilah berita, yang mana sekarang banyak oknum yang kerap menyebarkan berita tidak benar atau hoaks,” kata Nur Laili Maghfiroh.

Mahasiswi yang akrab disapa Fira itu menyoal semakin pesatnya penggunaan akal imitasi (AI). Yang tak hanya digunakan untuk membantu manusia melainkan juga untuk memanipulasi informasi hingga jauh dari kebenaran.

Belum lagi perkembangan media sosial yang pesat juga memengaruhi budaya masyarakat—khususnya anak muda—dalam mengakses informasi.

Karakter anak muda sekarang menurutnya lebih senang mengakses informasi melalui media sosial.

“Sekarang itu dunia digital penting untuk menangkap semua informasi. Orang-orang sekarang baca berita saja sudah malas karena waktu aku tanya ke teman-teman juga mereka bilang anak-anak muda itu butuh berita yang singkat, padat, jelas,” aku mahasiswi asal Tuban itu.

Meski mengambil program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), menurutnya, tak banyak teman-teman sebayanya yang ingin terjun langsung ke dunia jurnalistik. Menjadi content creator justru paling banyak menarik minat teman-teman sebayanya.

“Soalnya sekarang content creator juga salah satu pekerjaan yang benar-benar diinginkan. Lebih santai. Tinggal ngedit foto, ngedit video, nanti ada ratecard, pernah kerja sama dengan brand ini itu, ya sudah satu kali take langsung dibayar,” ungkap gadis 20 tahun ini. 

Hal sama diungkapkan Andika Syifa’kulmuna. Menjadi content creator lebih menarik bagi mereka karena jurnalisme konvensional yang dianggap terlalu kaku.

Sebagai jurnalis amatir, bagi Andika tidak ada salahnya jurnalis beradaptasi dengan perkembangan media sosial dengan menjadi content creator.

“Kalau nggak beradaptasi, jurnalis akan ketinggalan zaman. Makanya ingin mencoba ada perubahan sedikit demi sedikit di situ,” tandas mahasiswa asal Kelurahan Jamsaren, Pesantren itu.

Kebutuhan adaptasi dengan perubahan zaman itu juga diamini Hasan, 25, jurnalis profesional dari salah satu media TV nasional.

Perkembangan media sosial dan AI yang semakin pesat tak ubahnya dua sisi mata koin. Bisa membawa peluang dan tantangan. “Mau nggak mau harus beradaptasi,” katanya.

Sebagai jurnalis TV, perkembangan teknologi digital juga sangat dipertimbangkan induk perusahaannya.

Khususnya dalam hal memanfaatkan teknologi agar bisa menyajikan informasi dengan lebih cepat dan efisien.

Bahkan, ada pelatihan khusus kepada jurnalis sepertinya agar bisa memanfaatkan teknologi-teknologi itu.

“Kalau AI, kita tidak bisa benar-benar menghindar. Justru itu bisa dijadikan cara untuk biar lebih cepat, lebih simpel, efisien, dalam menyelesaikan tugas,” ungkapnya. Namun demikian, tetap ada batas-batas koridor yang harus dipatuhi. Demi menjaga profesionalitas.

Di sisi lain, media sosial justru menurutnya lebih punya peluang mengancam profesinya. Bagaimana tidak, di era sekarang, setiap orang bisa dengan mudah menyebarkan informasi dengan di bawah bendera akun media sosial masing-masing.

Sering kali pengelola homeless media ini juga hanya mengutip dan mengunggah ulang. Tanpa harus turun ke lapangan seperti yang sewajarnya dilakukan jurnalis media arus utama.

“Aku kurang cocok (dengan fenomena) ketika medsos itu nggak turun ke lapangan, cuma ngutip. Itu sebenarnya aku kurang setuju. Harusnya ada aturan yang memperketat itu,” harapnya.

Meski banyak masyarakat yang lebih sering mengakses homeless media, namun keberadaannya tetap tidak bisa menggeser peran media massa arus utama.

Ellya Destiara, 34, jurnalis asal Kediri ini menilai fungsi dan peran media massa dan media sosial tetap tidak bisa disamakan.

Homeless media yang juga kerap bersumber dari jurnalisme warga sering kali tidak memahami kode etik jurnalistik.

“Ketika mereka ada pelanggaran, mereka bisa langsung terjerat UU ITE. Sedangkan kami dilindungi undang-undang pers. Dan orang-orang dengan medsos itu, mereka hanya tahu dan menyampaikan informasi secara sepihak dan sebagian saja,” alasannya.

Itu yang membuat peran jurnalis menjadi penting. Karena ada fungsi verifikasi dan pendalaman yang selalu dilakukan.

Sayangnya, banyak masyarakat yang masih menyamaratakan media massa arus utama dengan homeless media di platform-platform populer seperti Instagram dan TikTok.

“Terkadang narasumber juga memukul rata. Memang secara pekerjaan bisa jadi sama, tetapi secara pemahaman dan kepentingan kan pasti berbeda,” ungkapnya. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#hari pers nasional #lpm #pers mahasiswa #hari pers #persma #disrupsi digital #hpn