Tren penurunan jumlah pernikahan selama beberapa tahun terakhir, tidak hanya karena perubahan pandangan Generasi Z akan perkawinan saja.
Melainkan juga tidak lepas dari tekanan ekonomi yang mereka hadapi.
Pengamat Ekonomi Dr Subagyo mengatakan, ada dua akar persoalan utama yang saling berkaitan dalam fenomena tersebut.
Yakni, faktor tekanan ekonomi yang makin kuat. Serta pergeseran psikologi sosial masyarakat.
“Sekarang tidak seperti dulu. Usia 24 atau 25 tahun dianggap sudah harus menikah. Saat ini, pernikahan lebih dipandang sebagai pilihan pribadi,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, Subagyo menegaskan, pernikahan masih dipersepsikan sebagai keputusan dengan biaya tinggi.
Tidak hanya pada saat prosesi. Melainkan juga kebutuhan pasca-menikah. Seperti tempat tinggal, biaya hidup, hingga standar kelayakan hidup.
Yang menjadi persoalan, tingkat pemenuhan kebutuhan tersebut dinilai jauh lebih cepat dibandingkan peningkatan pendapatan generasi muda.
“Pendapatan naiknya pelan, sementara tuntutan hidup datang lebih cepat,” jelas doktor ilmu ekonomi itu.
Kondisi itu diperparah dengan struktur pasar kerja yang belum stabil.
Menurut Subagyo, peluang kerja saat ini lebih banyak didominasi sektor informal. Seperti wirausaha atau pekerja tanpa ikatan kerja tetap.
Sektor ini memiliki tingkat ketidakpastian tinggi. Bisa untung. Namun juga bisa rugi tanpa jaminan pendapatan dan kepastian kerja.
“Kalau menikah, beban ekonomi bertambah. Sementara penghasilan belum tentu pasti. Ini yang membuat pernikahan dianggap sebagai potensi kerentanan ekonomi baru,” jelasnya.
Di Kediri, diakui Subagyo, ketimpangan antara pendapatan dan kebutuhan hidup juga menjadi pertimbangan serius.
Dengan upah minimum sekitar Rp2,6 juta, pengeluaran rutin seperti sewa rumah, transportasi, dan makan kerap menghabiskan sebagian besar pendapatan.
Beban tersebut akan semakin berat ketika pasangan hidup terpisah dari orang tua dan harus mandiri sepenuhnya.
“Belum lagi kalau sudah punya anak. Ada biaya susu, kesehatan, dan kebutuhan lain yang tidak sedikit,” imbuhnya.
Subagyo menegaskan, paparan informasi di media sosial ikut membentuk cara pandang generasi muda.
Konten yang menampilkan besarnya biaya membesarkan anak membuat mereka semakin realistis.
Yakni dalam menghitung risiko ekonomi setelah menikah.
“Ini bukan soal takut menikah, tapi lebih pada keputusan yang diambil secara rasional,” jelas Dosen Prodi Magister Manajemen UNP Kediri itu.
Selain faktor ekonomi, perubahan psikologi sosial juga berperan besar. Menurutnya pernikahan tidak lagi diposisikan sebagai kewajiban sosial.
Melainkan keputusan personal yang harus dipersiapkan matang.
Banyak generasi muda kini lebih berorientasi pada pengembangan diri, karier, serta kesiapan mental. Tingginya angka perceraian juga dinilai memunculkan kecemasan tersendiri.
“Ada ketakutan gagal, salah memilih pasangan, atau kehilangan kebebasan setelah menikah,” papar Wakil Ketua Kadin Kota Kediri Bidang Pengembangan Ekonomi, Keuangan dan Perbankan.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian