Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Melihat Kenapa Angka Pernikahan Terus Turun: Begini Kata Gen Z

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 8 Februari 2026 | 05:30 WIB

 

Ilustrasi pernikahan (Ilustrasi Ai)
Ilustrasi pernikahan (Ilustrasi Ai)
 

Berbeda dengan kasus perceraian yang meningkat, jumlah pernikahan di Kabupaten Kediri terus menurun. Tren tersebut tak lepas dari pandangan Generasi Z (Gen Z) terhadap perkawinan. Jika dulu banyak keluarga yang meminta anaknya cepat-cepat menikah karena takut dianggap tidak laku, remaja sekarang lebih siap menyiapkan masa depannya sebelum berumah tangga.

Baca Juga: Lipsus Kopinang 1, Dulu Sepi, Kawasan Pecinan Kini Jadi Pusat Keramaian Baru Kota Kediri, Ini Omset Pedagang

Alih-alih buru-buru menikah demi menghindari stigma perawan tua atau bujang lapuk, banyak anak muda yang memilih fokus menata karir dan menstabilkan finansial terlebih dahulu.

Lisa, warga Kecamatan Kayenkidul mengaku tetap santai di usianya yang tahun 2026 ini memasuki usia 24 tahun. Jika dulu usia 20 tahun sudah dianggap 'tua', dia tidak lagi mengindahkannya.

“Menikah belum menjadi prioritas utama,” ungkap perempuan yang sedang menempuh pendidikan magister di UIN Sayyid Ali Rahamatullah Tulungagung itu.

Meski sudah memiliki pasangan atau pacar, bagi Lisa prioritas utama sekarang belum menikah.

Melainkan menata gaya lebih dulu. Selain itu, dia juga fokus meningkatkan pendidikan, menyiapkan mental, dan menata ekonominya.

Menurut Lisa hal itu sangat penting. Sehingga saat menikah nanti dia sudah benar-benar siap.

Baca Juga: LIPSUS: Modal Kreatif, BUMDes di Kabupaten Kediri Raup Pendapatan Puluhan Juta Saat Dana Desa Dipangkas

Baik mental, finansial, dan dukungan lainnya. “Intinya sekarang aku mikirin betapa cepat kaya dari pada mikirin nikah

. Ingin punya rumah sendiri, kendaraan sendiri, cukup finansial, karir melejit, dan berpendidikan,” ungkapnya sambil tertawa.

Usia, lanjut Lisa, tidak menjadi patokan dalam menikah. Melainkan yang jadi ukuran adalah kondisi kemapuan diri.

Tidak hanya secara final, namun mental juga harus kuat.

“Pernikahan adalah komitmen antara dua orang yang saling memahami, bisa diajak ngobrol, saling bertanggung jawab secara emosional, mental, dan finansial,” jelasnya.

Dia tidak ingin terburu-buru menikah dan anaknya yang nanti menjadi korban.

“Menikah ketika finansial belum siap akan menyeret anak ke dalam kemiskinan itu egois. Aku akan berusaha untuk memutus rantai kemiskinan demi masa depan anak,” tekadnya.

Baca Juga: LIPSUS: Dana Desa Dipangkas, BUMDes Kabupaten Kediri Kini Jadi Ujung Tombak Penggali PAD Desa

Hal serupa diungkapkan oleh Desi, perempuan asal Kecamatan Ngasem.

Meski tetap menjadikan pernikahan sebagai prioritas, perencanaannya tetap penting.

“Menikah merupakan fitrah manusia, stabilitas emosional, nilai spiritual, dan keinginan hidup,” tutur perempuan berusia 26 tahun itu.

Desi mengakui, usia ideal menikah adalah 21 tahun ke atas. Namun, menurutnya semua orang berhak memilih kapan dia merasa siap untuk menikah.

Meski sudah mantap dengan calon suami pilihannya, dia memilih menata mental dan finansial lebih dulu.

"Perlu juga menata visi dan misi dengan pasangan. Perlu belajar parenting . Saat ini juga sedang fokus karir dan masih ingin berekplorasi lebih banyak di dunia kerja. Serta masih mempersiapkan diri dengan tanggung jawab yang ada dalam kehidupan setelah pernikahan," jelasnya.

Baca Juga: Lipsus Tantangan Menjaga Kebersihan Kawasan Sumpang Lima Gumul KediriBegini Kata Pengamat

Senada dengan Lisa, menurut Desi faktor ekonomi sangat berpengaruh dalam pernikahan. Sebab, gaya hidup dan kebutuhan ekonomi juga harus selaras dengan gaji yang diperoleh.

Meski gajinya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, namun untuk ke jenjang pernikahan masih membutuhkan pendapatan tambahan.

Mempertimbangkan hal itu, dia memilih abai dengan rasa 'lelah' saat ditanya “kapan menikah?” dan pertanyaan menyudutkan lainnya.

“Karena menikah adalah keputusan dari diri sendiri dan pasangan. Menikah juga bukan satu-satunya jalan hidup bahagia,” tandasnya.

Tak hanya perempuan, Deni, 26, pegawai negeri sipil (PNS) di Kecamatan Semen juga berpandangan santai dengan pernikahan.

Meski sudah memiliki pekerjaan tetap, dia juga memilih menunda pernikahannya.

Baca Juga: Ketika Kartu Tarot Jadi 'Bagian Hidup' Gen-Z Awalnya FOMO, Tak Hati-Hati Bisa Kecanduan

”Apalagi sebagai calon pemimpin keluarga harus siap dengan segala konsekuensi ketika menuju ke jenjang yang lebih serius,” akunya.

Seperti Desi dan Lisa, menurut Deni tidak ada patokan usia dalam menikah. Melainkan kesiapan mental, finansial, dan komitmen rumah tangga yang lebih penting.

 “Nikah itu jangka panjang. Jadi nggak mau asal jalan meski sekarang pekerjaan sudah bisa dikatan setel ,” paparnya.

Terlebih lagi, ada juga yang menunda pernikahan karena melihat beberapa kasus kegagalan rumah tangga.

Seperti Roni, 27. Pria asal Pare ini mengaku sudah siap secara finansial. Namun, dia memilih memaangkan diri lebih dulu.

“Jangan sampai gagal dalam pernikahan. Makanya mencari ilmu dulu,” aku dosen di salah satu universitas di Kediri itu.

Baca Juga: Lipsus HUT RI: Sekolah Taman Siswa Kota Kediri Layak Menjadi Cagar Budaya

          Meski sempat menghadapi beberapa tekanan sosial, Roni memilih menanggapinya dengan santai. Sebab, menata masa depan adalah prioritas utama.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kediri Achmad Faiz melalui Kasi Bimas Agus Salim membenarkan bahwa angka pernikahan terus menurun.

Menurutnya, hal itu disebabkan beberapa sebab. “Memang banyak faktor terkait penurunan jumlah peristiwa nikah,” katanya.

Yang pertama menurut pria yang akrab disapa Salim itu karena keberhasilan program keluarga berencana (KB).

Sehingga populasi tidak dapat dikendalikan. “Penurunan juga karena regulasi pendewasaan usia nikah.Dari 16 tahun ke 19 tahun,” terangnya.

Selebihnya, pernikahan turun karena ada tren urban ke kota. Sehingga banyak rumah di pedesaan kosong.

Baca Juga: Lipsus Merasakan Geliat Bisnis Prostitusi yang Masih Marak di Eks Lokalisasi Dadapan Kabupaten Kediri

Hasilnya, angka kelahiran turun. Bagi Salim, turunnya angka pernikahan itu merupakan hal positif.

Terutama jika banyak remaja yang memilih menunda pernikahan karena merencanakan masa depan.

“Namun kalau konteknya orang malas mencatatkan nikah, ini baru menyebutkan. Perlu adanya kordinasi pihak-pihak terkait untuk mengurai permasalahannya,” tandasnya sambil menyebut tidak sedikit yang malas mencatatkan pernikahan karena enggan mengurus persyaratan.

Khusus untuk fenomena ini, Kemenag melakukan berbagai upaya untuk mencegahnya.

Di antaranya menerjunkan penghulu untuk sosialisasi ke majelis taklim dan forum lainnya tentang pencatatan pernikahan. ”Dan perlu diketahui pencatatan nikah itu gratis,” imbuhnya.

 Baca Juga: Lipsus Imlek: Merangkai Puzzle Sejarah Kapan Awal Mula Warga Tionghoa Datang ke Kediri?

Pernikahan di Kabupaten Kediri:

2024 : 10.928

2023 : 11.628

2022 : 12.407

2021 : 11.725

2020 : 11.912

2019 : 12.875

2018 : 13.204

*Sumber : BPS Kabupaten Kediri

Editor : rekian
#radar kediri #pernikahan dini #kediri #kasus perceraian #Kemenag #keluarga berencana