Tren gen-Z yang terpikat jasa ramalan melalui pembacaan kartu tarot, satu sisi, adalah fenomena menarik.
Di sisi lain, menjadi satu hal yang juga harus diwaspadai. Karena mencakup dinamika psikologi dan pergeseran sosial yang rawan bila tidak diantisipasi dengan benar.
Psikolog Vivi Rosdiana memiliki argumen kuat. Yang melihat fenomena ini sebagai manifestasi dari fase perkembangan remaja.
Menurut sang psikolog, gen-Z berada pada masa pencarian jati diri yang sangat rentan. Ciri khasnya yaitu mereka sering overthinking, resah, dan labil.
Nah, ketika berada di fase tersebut, mereka mudah terpengaruh. Ketika ada tren jasa baca tarot dan ramalan bintang, para generasi muda ini tak hanya melihatnya sebagai obrolan peneman nongkrong. Melainkan jadi pegangan dalam menentukan keputusan.
"Pada saat ada ramalan bintang atau tarot yang mengemukakan tentang kehidupan mereka, anak muda ini mudah masuk. Merasa mendapat jawaban atas kegalauannya. Padahal, secara ilmiah itu belum tentu benar," urai psikolog yang biasa disapa Vivi ini.
Ia menyebut faktor FOMO, fear of missing out atau ketakutan tertinggal tren, menjadi penggerak utama.
Banyak anak muda yang sekadar ikut-ikutan lingkungan atau ramai di media sosial karena tarot sedang dianggap keren. Tanpa menyadari dampak jangka panjangnya bagi mentalitas mereka.
Vivi menilai tarot terletak pada stigma dan sugesti. Ramalan, menurutnya, bisa menjadi pisau bermata dua bagi motivasi seseorang. Jika hasilnya buruk, motivasi individu juga akan menurun.
"Dampaknya, mereka akan terpatok pada aturan ramalan itu. Usahanya jadi tidak maksimal karena ada sugesti negatif. Sebaliknya, kalau hasilnya bagus, mereka bisa percaya begitu saja dan mengurangi effort (usaha, Red) untuk mencapainya," jelasnya.
Vivi menjelaskan bahwa sistem tubuh manusia dirancang untuk senang pada harapan. Namun sangat rentan terhadap stres berkepanjangan hingga depresi jika realita tak sesuai ramalan.
Hal ini dianggap sudah tidak sehat jika rasa percaya akan ramalan ini mulai mengganggu activity daily life (ADL), seperti menurunnya produktivitas kerja atau mengalami burn out.
Sedangkan dari sudut pandang sosiologi, pengamat menyebut bahwa fenomena ini dilihat sebagai bentuk komodifikasi ketidakpastian.
Pengamat Sosial sekaligus dosen Sosiologi Agama UIN Syekh Wasil Dr Taufik Alamin, menegaskan bahwa masifnya jasa tarot saat ini telah menciptakan ekosistem pasar baru.
"Ini sebenarnya tidak rasional. Jangan karena teman ikut, lalu ikut-ikutan juga tanpa melihat dampak akibatnya," tegasnya.
Ia menyoroti bagaimana kepercayaan Gen-Z ini kemudian dikapitalisasi. Para penyedia jasa melihat celah bisnis dari kegalauan remaja.
"Mereka yang percaya mungkin tidak merasa menjadi sasaran konsumen, padahal mereka diharuskan membayar sejumlah uang untuk hal yang tidak rasional," tambahnya lagi.
Taufik menyebut diperlukan cara bijak dalam menyikapi ramalan. Yaitu tidak seharusnya ramalan dijadikan pedoman hidup. Melainkan sekadar pemantik semangat jika hasilnya positif.
"Misal diprediksi sukses, maka harus apa? Ya harus lulus kuliah, rutin masuk, dapat nilai bagus. Jangan berpaku pada ramalannya, tapi pada upayanya," tambah Vivi.
Selain itu anak muda juga dihimbau untuk lebih selektif dalam memilih lingkungan pertemanan. Karena remaja sangat percaya pada komunitas sebaya, bergabung dengan kegiatan positif adalah benteng terbaik agar tidak terjebak dalam pusaran tren yang merugikan fungsi psikis mereka di masyarakat.
Editor : Andhika Attar Anindita