KEDIRI, JP Radar Kediri- Mengadopsi pengelolaan sampah di TPA Winongo, Madiun memang sudah dicanangkan oleh Wali Kota Vinanda Prameswati usai kunjungan 2025 lalu.
Mengawali langkah tersebut, Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri akan memaksimalkan pengolahan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).
“Sampah yang dikirim ke TPA masih cukup tinggi. Seharusnya dari TPS3R itu bisa melakukan reduksi di angka 30 persen,” kata Kepala DLHKP Kota Kediri Indun Munawaroh yang 2025 lalu juga berkunjung ke TPA Winongo bersama Wali Kota Vinanda Prameswati itu.
Kenyataannya, reduksi sampah di TPS3R saat ini baru sekitar 10 persen. Dari sampah sebesar 1 ton, idealnya yang masuk ke TPA hanya sekitar 700 kilogram saja. Namun, karena TPS3R belum maksimal, yang masuk ke TPA mencapai 900 kilogram.
Apa yang membuat TPS3R tidak beroperasi secara maksimal? Salah satunya menurut Indun karena pemilahan sampah di sana belum optimal.
“Semua pemilahan sampah (saat ini) dilakukan oleh manusia. Jadi kami butuh alat untuk meningkatkan jumlah sampah yang bisa diolah,” lanjutnya sembari menyebut DLHKP baru melakukan pengadaan alat pengolah sampah tahun ini.
Alat yang dimaksud mulai dari mesin pencacah sampah, conveyor belt pemilah sampah, dan pengayak sampah. Jika alat tersebut bisa dioperasikan, pemilahan sampah tidak lagi dilakukan secara manual.
Ke depan, DLHKP akan menjadikan tiga TPS3R sebagai pilot project-nya. TPS yang mendapat alat pengolah sampah itu akan dipantau secara intens. Termasuk volume sampah yang diolah juga akan dihitung.
“Saya belum menentukan dimananya (TPS3R yang jadi pilot project). Tapi yang pasti adalah di TPS3R yang produksi sampahnya cukup tinggi, lokasinya luas. Karenanya peralatannya kan cukup besar jadi butuh tempat yang agak luas,” beber perempuan yang sebelumnya menjabat kepada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) ini.
Meski keberadaan alat pengolah sampah memiliki peran sentral, Indun menyebut peran serta masyarakat dalam memilah sampah juga sangat penting. Minimnya kesadaran masyarakat membuat 68 bank sampah di Kota Kediri juga tidak banyak memberi sumbangsih dalam pengolahan sampah. Setiap harinya masih ada 160 ton sampah yang masuk ke TPA.
“Makanya, pemilahan sampah mulai dari lingkungan terkecil atau dari rumah tangga tetap harus dimaksimalkan,” tandasnya.
Senada dengan Indun, Aktivis Lingkungan Endang Pertiwi menyebut bank sampah tidak bisa berfungsi maksimal jika kesadaran masyarakat memilah sampah masih rendah.
“Harusnya (pemilahan) sampah selesai di rumah tangga,” katanya.
Untuk mendisiplinkan masyarakat, menurut Endang pemerintah daerah harus lebih tegas lagi. Misalnya dengan membuat regulasi yang disertasi sanksi. Kemudian, penegakan aturan juga tidak boleh pandang bulu.
“Adakan regulasi terkait dengan pembatasan kemasan plastik sekali pakai. Itu untuk toko-toko retail dan sebagainya itu tidak pandang bulu, semuanya harus bisa mengurangi,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian