Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mimpi TPA Klotok Kediri Jadi Kebun Buah Seperti Kota Madiun: Mungkinkah Terwujud Tanpa Campur Tangan Swasta?

Emilia Susanti • Selasa, 20 Januari 2026 | 23:41 WIB
Ilustrasi persoalan sampah.
Ilustrasi persoalan sampah.

 

 

Saat Kota Kediri masih bergelut dengan kondisi tempat pembuangan akhir (TPA) yang overload, Pemkot Madiun berhasil mengatasi pekerjaan rumah (PR) besarnya itu. TPA tidak lagi identik dengan gunungan sampah saja. Melainkan bisa diubah menjadi tempat wisata.

Jawa Pos Radar Kediri berkesempatan melihat kondisi TPA Winongo bersama rombongan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri pada 10 Desember 2025 lalu. Kondisi TPA seluas sekitar tujuh hektare itu jauh dari gambaran TPA kebanyakan.

Memasuki zona penampungan sampah yang aktif tidak tercium bau busuk yang menyengat. Kawasan TPA yang biasanya kotor juga tidak terlihat di sana. Sebaliknya, jalan menuju ke zona penimbunan sampah sudah dipaving.

Zona sampah yang pasif ditanami dengan pohon buah-buahan. Tak ayal gunungan sampah itu berubah menjadi gunungan pohon buah. Meski, hingga awal Desember 2025 lalu pohon-pohonnya belum tinggi. Sehingga, sepintas tetap saja terlihat panas di sana.

Di area TPA juga tersedia beberapa joglo tempat pengunjung berteduh atau bersantai saat berkunjung ke sana. Kemudian, ada pula satu gedung estetik yang digunakan untuk menerima tamu. Pun jadi ‘kantor’ bagi Wali Kota Maidi saat berada di sana.

Masih di area TPA, Pemkot Madiun juga menyiapkan kereta wisata yang siap mengantar pengunjung keliling area TPA. Termasuk untuk naik ke puncak gunung sampah yang kini berubah jadi taman buah.

Untuk mengubah TPA menjadi ruang publik representatif itu ternyata butuh proses yang lumayan panjang. Wali Kota Madiun Maidi yang Selasa (13/1) berkunjung ke Pemkot Kediri mengaku melibatkan banyak pihak sebelum mengubahnya.

“Kami libatkan perguruan tinggi (untuk mengubah konsep TPA),” kata Maidi.

Untuk menghilangkan bau sampah yang menyengat, gunungan sampah diuruk setebal 80 sentimeter. Selanjutnya gas metana dari gunungan sampah itu disalurkan ke rumah-rumah warga di kawasan TPA Winongo.

“Dengan kita tutup maka gas metan semakin kuat. Gas metan yang biasanya digunakan 200 KK, sekarang bisa digunakan 250 KK,” lanjut Maidi.

Selain memanfaatkan gas metana, zona sampah TPA yang pasif dan diuruk itu ditanami pohon buah-buahan. Keberhasilan Maidi menyulap TPA Winongo itu membuat Madiun jadi jujukan studi banding.

Apalagi, dia juga berhasil menerapkan ekonomi sirkular dari produk sampah di sana. Belakangan TPA Winongo juga jadi destinasi wisata baru.

“Tahun 2027 nanti Madiun harus sudah zero sampah. Sampah sudah selesai, TPA udah ditutup,” target Maidi dalam beberapa tahun ke depan.

TAMAN SAMPAH: Zona penimbunan sampah yang sudah tidak aktif di TPA Winongo diubah jadi taman dengan banyak bunga dan pohon buah-buahan.
TAMAN SAMPAH: Zona penimbunan sampah yang sudah tidak aktif di TPA Winongo diubah jadi taman dengan banyak bunga dan pohon buah-buahan.

Kesuksesan Maidi mengubah TPA Winongo berkat ketegasan dan tekadnya yang kuat.

“Saya ngantor di sana. Saya tunggui. Ya harus kerja keras dan cepet,” papar Maidi tentang prosesnya.

Selebihnya, dia juga melibatkan masyarakat agar anggaran daerah tidak banyak tersedot ke sana. Dia mencontohkan pengurukan sampah TPA yang tanahnya disumbang oleh para pengembang. 

Ada pengembang yang menyumbang tanah uruk lima ribu truk, ada pula yang tiga ribu truk, hingga 30 ribu truk.

“Pengembang kan juga punya produk sampah dari perumahan. Makanya mereka juga harus membantu (menangani sampah),” tandas Maidi.

Sementara itu, Wali Kota Vinanda yang berkunjung ke TPA Winongo pada Oktober 2025 lalu mengaku sudah mempelajari pengelolaan sampah di Kota Madiun. Dari sana, pemimpin muda itu berencana mengadopsi pola pengolahan sampah di Kota Madiun tersebut.

“Memang luar biasa ya. Sarprasnya lengkap dan sebagainya. Tidak menutup kemungkinan kami juga akan meniru atau bahkan nantinya kami juga akan menerapkan hal yang sama,” tegas Vinanda (13/1). (emilia susanti/ut)

 

 

Wisata Sampah ala Pemkot Madiun:

-Pemkot Madiun melibatkan masyarakat dalam memilah sampah dari rumah dan menggunakan teknologi pengolahan sampah di TPS

-Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi diubah menjadi produk yang bisa dijual kembali sesuai konsep ekonomi sirkular sampah

-Pemkot Madiun menghilangkan bau tidak sedap sampah dengan menimbunnya, kemudian di bagian atas ditanami pohon buah-buahan

-Gas metan dari timbunan sampah disalurkan jadi gas yang dimanfaatkan untuk memasak oleh 250 KK warga di sekitar TPA

-TPA Winongo Kota Madiun juga dilengkapi dengan sarpras peralatan yang memadai

-Di area TPA dibangun beberapa joglo untuk pengunjung dan bangunan khusus yang digunakan Wali Kota Maidi untuk ngantor memantau penanganan sampah

-TPA yang areanya sudah berpaving itu dilengkapi dengan kereta wisata yang siap mengantar pengunjung keliling area TPA

 

Editor : rekian
#masalah sampah #TPA Winongo #tpa klotok #Maidi #pemkot madiun #Kota Madiun #Vinanda Prameswati #sampah overload #kota kediri