Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

LIPSUS: Modal Kreatif, BUMDes di Kabupaten Kediri Raup Pendapatan Puluhan Juta Saat Dana Desa Dipangkas

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Sabtu, 17 Januari 2026 | 19:14 WIB
Sumber Sirah Desa Kerkep Gurah.
Sumber Sirah Desa Kerkep Gurah.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Banyak desa kelimpungan usai dana desa mereka dipangkas hingga 70 persen. Harapannya kini adalah  menggali pendapatan asli daerah melalui bumdes.  Sayangnya, tidak semua desa memiliki bumdes yang sudah ‘berdaya’.

Percetakan  ini berdiri di jalur utama ke arah Bandara Dhoho Kediri. Dekat dengan kantor imigrasi. Plakat atau papan nama juga terpampang di bagian depan.

Sepintas, orang yang melihat akan mengira bila usaha digital printing itu dimiliki perseorangan.

Atau, setidaknya milik perusahaan non-pemerintah. Nyatanya, percetakan ini adalah salah satu unit usaha yang dipunya Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Jaya Makmur, bumdes yang dimiliki oleh Desa Grogol, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri.

Persis seperti yang tercantum di papan nama di samping bangunan.

“Ini (unit usaha percetakan, Red) sudah berdiri sejak 2020 lalu. Saat awal saya menjabat,” kata Kepala Desa Grogol Suparyono.

Bumdes Jaya Makmur Grogol adalah satu di antara 322 bumdes di Kabupaten Kediri yang sudah berjalan dan menghasilkan.

Sebenarnya, total desa yang dimiliki kabupaten ini adalah 343 desa. Sayang, 15 desa bumdesnya kurang aktif.

Kemudian, ada enam desa yang bumdesnya belum aktif atau belum memulai usaha.

Memiliki bumdes yang berjalan dan sudah menghasilkan pendapatan menjadi satu hal yang krusial saat ini.

Ini tak lepas dari aksi pemotongan dana desa (DD) oleh Pemerintah Pusat.

Keberadaan bumdes yang aktif dan sehat jelas menjadi sumber pundi uang yang bisa membantu operasional program desa.

Bumdes Jaya Makmur Grogol menjadi salah satu yang menghasilkan. Salah satunya ya dari unit usaha percetakan.

Dalam setahun, percetakan itu bisa menghasilkan pendapatan  hingga Rp 60 juta. Dari jumlah itu 30 persennya, sekitar Rp 17 juta, menjadi pendapatan asli daerah (PAD) Desa.

Kemudian, 50 persennya diputar sebagai modal. Sisanya, untuk penggajian karyawan dan pengurus.

“Untuk gaji karyawan sekitar Rp 1 juta sampai Rp 2,5 juta. Tergantung pengalaman kerja dan posisi,” terang sang kades.

Unit usaha percetakan milik bumdes ini punya beberapa produk. Mulai cetak spanduk hingga sablon DTF.

Selain itu mereka juga punya unit usaha lain, yaitu payment point online bank (PPOB).

Di loket PPOB yang bekerja sama dengan Bank Jatim itu bumdes melayani jasa pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB), pajak kendaraan bermotor, hingga beragam tagihan seperti listrik dan lainnya.

Menurut Suparyono, saat membentuk unit usaha bumdes, pemdes tidak asal-asalan.

Banyak pertimbangan yang dilakukan. Termasuk mencari bidang usaha yang belum digeluti oleh warganya.

Kebetulan, warga di desa ini belum ada yang menggeluti bisnis percetakan. Kemudian, lokasi yang dipilih juga sangat strategis.

“Jadi kami berupaya agar usaha yang dibentuk itu juga tidak mengganggu usaha masyarakat. Dengan memilih usaha yang memang belum digeluti masyarakat,” akunya.

Bumdes di Desa Grogol masih ingin mengembangkan bisnisnya. Tahun ini, 2026, ada beberapa unit usaha yang disiapkan.

Yaitu peternakan ayam. Kebetulan, belum ada warga yang menggeluti peternakan ayam.

Bergeser ke Desa Ngancar, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, bumdesnya juga sudah  berdaya guna. Namanya Abdi Sukses Mandiri.

Desa yang ada di lereng Gunung Kelud ini memiliki bumdes dengan tiga unit usaha. Semuanya mampu menghasilkan PAD Desa.

“Ada pelayanan air bersih yang sudah berjalan sejak lama. Berikutnya ada simpan pinjam dan permodalan ternak kambing sejak awal saya menjabat pada 2023 lalu,” jelas Kepala Desa Ngancar Mochammad Aminudin. 

Bisnis penjualan air bersih ini disalurkan melalui pipa dengan meteran ke rumah warga. Airnya diambil dari sumber yang berada di puncak bukit. 

Untuk bisnis simpan pinjam, Aminudin mengaku bila memiliki risiko tinggi.

Yaitu terkait dengan pinjaman macet. Karena itu unit usaha ini hanya untuk perangkat desa, mulai ketua rukun tetangga (RT) hingga kepala desa.

Intinya, mereka yang bisa memanfaatkan jasa ini adalah seseorang yang mendapat gaji atau honor melalui alokasi dana desa (ADD).

“Karena bumdes akan memotong honornya perangkat yang meminjam. Otomatis tiap bulan pasti terselesaikan (pembayarannya),” tekannya.

Simpan pinjam sengaja dipilih untuk membantu dan memudahkan perangkat desa yang memiliki keperluan mendesak.

Sebab, bunga  pinjaman dibuat rendah, tidak setinggi seperti bila pinjam di bank.

Unit usaha ternak dipilih karena sumber daya alam di desa ini melimpah. Tumbuhan hijau sebagai pakan ternak banyak tumbuh.

Mulai rumput hingga daun-daunan. Sistemnya pun melalui bagi hasil dengan warga yang  bersedia merawat.

Bila ternak mati? Tentu ada mekanismenya. Misal, keuntungan diambil Sebagian untuk mengembalikan modal kambing yang mati tersebut.

“Jadi tidak sampai modal kita habis sama sekali. Alhamdulillah juga tetep masih eksis, tidak mati. Lihat dari laporan keuangannya masih bisa dipertahankan,” jelasnya. 

Menurutnya, agar bumdes bisa berjalan, pemdes perlu kreatif memikirkan potensi desa.

Belum tentu desa satu dengan desa lainnya mencoba usaha yang  sama bisa menghasilkan PAD Desa yang sama.

Untuk diketahui, sebelumnya Desa Ngancar mendapatkan DD sekitar Rp 1 miliar. Akibat pemotongan, saat ini tinggal Rp 370 juta.

Untungnya, dari tiga unit usaha bumdes itu mereka mendapat PAD Desa sekitar Rp 35 juta.

Bumdes Maju Makmur di Desa Jabon, Kecamatan Banyakan lain lagi. Mereka sempat mati suri lantaran pengurus lama kurang aktif.

Kini, unit usaha persewaan ruko jadi sumber PAD Desa selain lelang aset. 

Pemicu kebangkitan adalah alokasi permodalan untuk ketahanan pangan. bumdes tinggal beroperasi karena legalitas, izin, hingga rekening bank sudah beres.

Fokus utamanya kini adalah sektor ketahanan pangan.

“Usahanya apa desa belum tahu karena kepengurusan baru terbentuk, yang jelas tentang ketahanan pangan entah pertanian atau peternakan,” kata Sekretaris Desa Jabon Anang Sanjaya.

Anang mengiyakan, bila di tengah efisiensi anggaran ini desa mau tidak mau harus memanfaatkan potensi.

Di desanya, ada aliran air melimpah namun terkendala pengolahan yang belum tahu untuk apa.

Desa Tenggerkidul, Kecamatan Pagu juga baru memiliki bumdes. Bumdes bernama Mahesa Kencana tersebut baru saja memulai langkah perdana.

Jadi harapan penggali PAD Desa selain lelang tanah kas desa seperti selama ini.

"Tahun 2025 ini modal bumdes sudah ditransfer. Sehingga tahun 2026 diharapkan sudah ada pemasukan," ungkap Sekdes Tenggerkidul Thony Nourman.

Unit usahanya? Penggemukan sapi jadi fokus utama. Bumdes membeli sapi berukuran sedang, digemukkan, kemudian dijual setahun sekali.

Juga, ada program usaha ternak bebek peking.

Beda lagi dengan Desa Kerkep, di Kecamatan Gurah. Bumdes bernama Kerkep Mandiri sudah mengelola wisata Sumber Sirah.

Juga sudah menyumbang PAD dalam empat tahun terakhir.

Bumdes Kerkep Mandiri berdiri pada 2018. Namun, memulai usaha wisata pada 2012.

Modalnya Rp 1,5 miliar. Yang berasal dari berbagai sumber, mulai DD, hibah provinsi, hingga hadiah lomba desa wisata.

"Hasilnya, unit wisata saja sudah bisa setor PAD Desa bersih Rp 20 juta per tahun," ungkap Kepala Desa Kerkep Bhondan Wijokangko.

Di sektor ketahanan pangan, Pemdes Kerkep juga menggelontor bumdes senilai Rp 240 juta.

Juga membangun kandang bebek dan mendirikan unit usaha produksi telur asin. Estimasi omzetnya diperkirakan Rp 5 hingga 8 juta per bulan.

Dari dua unit tersebut Bumdes menyerap tenaga kerja hingga 15 orang yang sudah tergaji setiap bulan.

"Gaji pegawai berkisar Rp 1 juta sampai Rp 1,8 juta. Mereka sudah gajian rutin setiap bulan," kata Bhondan.

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

 

 

Editor : rekian
#wisata #pad desa #pemkab kediri #keuangan #bumdes #anggaran dana desa (ADD) #pasar #Dana Desa (DD)