KEDIRI- JP Radar Kediri- Setelah viral, kawasan tersebut kini dipenuhi sekitar 100 pedagang yang berjualan setiap harinya.
Viral sejak pertengahan Desember 2025 lalu, hingga minggu kedua Januari ini patung macan putih di Desa Balongjeruk masih jadi magnet.
Jumlah pengunjungnya membeludak dan menjadi sentra ekonomi baru.
Selain makanan, aksesori berbau macan, kaus bergambar Cak Suwari juga banyak dipesan .
Patung macan memang banyak didapati di sejumlah daerah. Bahkan, patung macan putih di depan Stadion Brawijaya sudah dipasang sejak puluhan tahun silam.
Meski sering jadi objek foto Persikmania, macan putih ‘senior’ di sana tidak bikin heboh masyarakat.
Adapun patung macan putih di Desa Balongjeruk, Kunjang yang dipasang pada pertengahan Desember tahun lalu langsung jadi perbincangan luas.
Tidak hanya ramai di media sosial, melainkan berhasil mendatangkan ribuan pengunjung yang penasaran dengan wujud macan lucu itu.
Awalnya Cak Suwari memang ingin membuat macan putih yang garang selayaknya image hewan karnivora itu.
Namun, setelah patung selesai dibuat, penampakannya justru disebut mirip kuda nil, mirip kapibara, dan coraknya yang mirip zebra.
Bentuknya yang unik itu berhasil mengundang ketertarikan warga hingga viral.
Tidak sedikit pengunjung dari luar daerah yang sengaja datang untuk melihat langsung bentuk patung.
“Sampai sekarang (10/1) masih ramai. Turun pun nggak seberapa,” kata Anggraini Helmi, pedagang soto yang berjualan di dekat patung macan putih.
Perempuan yang akrab disapa Helmi itu sejatinya sudah membuka warung soto di pertigaan lokasi patung macan itu sejak lima tahun silam.
Menjual Soto Branggahan, selama ini pendapatannya hanya berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per hari.
Namun, setelah patung macan putih viral, omzetnya ikut terkerek. “Bisa sampai Rp 500 ribu per hari,” lanjut perempuan berusia 26 tahun itu.
Lokasi macan putih tidak hanya ramai di momen libur panjang saja. Melainkan, pada hari-hari biasa juga banyak yang berkunjung ke sana.
“Kalau pun sepi tidak sesepi sebelum macan viral. Minimal masih dapat di atas Rp 200 ribu,” tuturnya senang.
Tidak hanya Helmi yang meraup untung dari viralnya patung macan putih, Adi Mulyo, pedagang balon karakter asal Desa Belor, Purwoasri pun turut kecipratan cuan.
Begitu melihat patung macan putih viral, pria yang biasa berjualan di Car Free Day (CFD) Pare ini berpindah ke sana.
Padahal, sebelumnya dia belum pernah bepergian ke Desa Balongjeruk. Tahu namanyapun tidak.
Insting bisnisnya yang terasah membuat Adi langsung kulakan balon karakter macan putih di pabrik.
Kebetulan, balon bentuk karakter itu sudah ada sejak lama. “Ambil momen. Pas belum ada yang jual saya dahului. Eh, pas jual saya ikut viral di sosmed,” tuturnya sembari terbahak.
Balon macan putih yang dijualnya bisa laku hingga 50 buah per hari. Padahal, biasanya dia hanya bisa menjual 30 balon saja.
“Bisa sampai Rp 750 ribu per hari. Biasanya hanya Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu,” terangnya senang karena pendapatannya melonjak.
‘Menangkap’ momen juga dilakukan oleh Yuliani, warga Desa Wonorejo,Kunjang.
Begitu macan putih viral, dia membuka penjualan kaus bersablon patung tersebut.
“Macam-macam (sablonnya). Ada yang gambar macan asli. Ada yang editan kartun. Yang sering dicari yang gambarnya asli. Gambar macan dan Pak Suwari (pembuat patung) asli,” papar perempuan berusia 49 tahun itu.
Yuliani tak menyangka minat masyarakat sangat tinggi. Bahkan, saat kaus belum ready stock, sudah banyak yang pesan.
“Ada yang pesan 50 kaus. Padahal barangnya belum ada,” lanjut Yuli sembari menyebut setiap hari rata-rata kaus bergambar patung macan putih bisa terjual 50 buah.
Mayoritas pembelinya adalah anak-anak dan bapak-bapak.
“Yang paling laris gambar Pak Suwari,” beber Yuli sembari menyebut dalam sehari dia bisa mengumpulkannya hingga Rp 5 juta.
Dengan prospek bagus, dia berharap ke depan area patung macan putih tetap ramai. Sehingga bisa membantu perekonomian warga sekitar.
Terpisah, Pengamat Ekonomi Dr Subagyo menyebut viralnya macan putih sebagai fenomena charm of imperfection.
Yaitu, daya tarik emosional yang muncul dari sesuatu yang tidak sempurna.
“Jadi macan yang dianggap aneh tidak seperti aslinya. Seperti kapibara, kuda nil, dan sebagainya. Itu malah menimbulkan respons ingin tahu dari masyarakat. Kalau macan yang biasa kan sudah biasa. Namun kalau ini berbeda, sehingga membuat orang tertarik,” jelasnya.
Biaya pembuatan patung macan yang hanya Rp 3,5 juta juga menambah daya tarik.
“Karena banyak proyek-proyek yang dinilai tidak bagus ternyata biayanya tidak murah. Sementara yang ini berbeda,” jelas doktor ilmu ekonomiitu.
Fenomena viralnya macan putih juga tak lepas dari FOMO (fear of missing out) atau ikut-ikutan karena sedang tren. Terutama yang sering terlihat di media sosial.
“Ketika orang datang, bikin konten, kemudian disebarkan, orang yang lihat jadi tertarik kemudian berkunjung. Dan begitu seterusnya. Sampai akhirnya ramai,” urainya.
Berdasar dari pengalaman, hal yang ramai karena FOMO ini tidak akan bertahan lama.
Dia lantas mencontohkan fenomena viralnya objek wisataKampung Indian, Kampung Korea, dan sebagainya.
Ada pula Citayam Fashion Street, hingga fenomena dukun cilik Ponariyang semuanya kini tidak diminati.
“Mungkin bertahan enam bulan. Ya ramai-ramainya satu sampai tiga bulan mungkin,” prediksinya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian