Banyaknya temuan gangguan depresi anak sekolah dari hasil cek kesehatan gratis (CKG) seolah-olah menunjukkan kenyataan di lapangan.
Psikolog Kediri Dhea Ravea Eka Putri mengatakan, data hasil CKG merupakan indikator risiko awal. Bukan diagnosa klinis.
Meski begitu, menurutnya data temuan dinas kesehatan itu tetap harus disikapi secara serius. Yakni, fakta tentang adanya masalah sistemik pada kesehatan mental anak-anak di Kediri Raya saat ini.
Di Kediri Raya, lanjut Dhea, masalah kesehatan mental anak umumnya tidak berdiri sendiri. Banyak anak yang didampinginya datang dengan kondisi kelelahan emosional kronis.
Baca Juga: Hasil Cek Kesehatan Gratis , Banyak Pelajar di Jatim Terkena Diabetes dan Gangguan Mental, Mengapa?
“Bukan hasil satu peristiwa besar.Melainkan akumulasi dari berbagai faktor,” ujar perempuan yang membuka praktik di Kelurahan Dandangan, Kecamatan Kota itu.
Beberapa faktor pemicunya antara lain kesadaran orang tua yang rendah dalam melihat kesiapan sekolah anak. Anak yang secara emosi, sosial, dan regulasi diri belum sepenuhnya siap memasuki jenjang pendidikan tertentu. Akibatnya, mereka rentan dalam tekanan terus menerus.
Selain itu, minimnya interaksi emosional berkualitas dalam keluarga juga sering menjadi faktor pemicu.
“Masalah yang paling sering kami tangani adalah bullying di sekolah.Terutama bullying verbal yang berdampak langsung pada kondisi psikologis anak,” lanjut Dhea.
Bullying, jelas Dhea, banyak terjadi pada anak-anak rentan. Misalnya anak berkebutuhan khusus. Akibatnya, tidak jarang mereka jadi mogok alias enggan masuk sekolah.
Baca Juga: Bocah SD Korban Pencabulan di Kediri Alami Trauma, Tetap Sekolah meski Mental Terganggu
Rata-rata rentang usia anak yang membutuhkan pendampingan psikologisnya berkisar 5 – 17 tahun. Kondisi anak waktu dibawa ke psikolog dan beragam. Kebanyakan masih pada taraf ringan dan tidak sampai depresi berat.
“Dalam praktiknya, bullying verbal sering dianggap ringan karena tidak meninggalkan luka fisik. Padahal dampaknya sangat kuat terhadap harga diri, rasa aman, dan kesehatan mental anak. Juga berkontribusi pada munculnya kecemasan dan gejala depresi,” tutur Dhea.
Oleh karena itu, menurut Dhea, perilaku bullying—termasuk verbal—tidak bisa dianggap sepele. Beberapa gejala depresi ringan pada anak yang sering ditemui antara lain yang menarik.
Kemudian penurunan minat belajar, mudah marah dan menangis, gangguan tidur. Ada pula yang mengalami keluhan fisik berulang seperti sakit perut tanpa penyebab medis yang jelas.
Baca Juga: Dua Psikolog Dampingi Korban Pencabulan, Lakukan Kunjungan Tiap Tiga Hari Sekali
“Masalah lain yang juga cukup menonjol adalah tingginya penggunaan gawai pada anak sejak usia dini. Dalam praktiknya, kondisi ini berkaitan dengan munculnya berbagai keluhan seperti kesulitan fokus, mudah marah, gangguan pemrosesan sensorik, serta kecenderungan menarik diri secara sosial,” sambungnya.
Dhea juga menyoal tentang kapasitas pendidik di sekolah yang belum memiliki literasi kesehatan mental yang memadai. Utamanya menghadapi inklusi anak-anak yang jumlahnya terus meningkat.
Dampaknya, sinyal distress (respons emosional negatif saat menghadapi tekanan) psikologis pada anak sering disalahartikan sebagai masalah disiplin semata. Sehingga kebutuhan dukungan emosional anak tidak tertangani secara optimal.
“Temuan dinkes melalui CKG ini seharusnya menjadi alarm dini bahwa Kediri membutuhkan langkah tindak yang lebih terstruktur dan berkelanjutan,” tanda lanjutnya sambil menyebut perlu asesmen psikologis lanjutan, peningkatan literasi kesehatan mental orang tua dan guru, serta penguatan pencegahan bullying di sekolah.
Editor : rekian