Kasus gangguan kesehatan mental rawan jadi bom waktu. Bisa meledak setiap saat. Tak terkecuali pada anak-anak usia sekolah. Mereka menunjukkan gejala depresi yang sayangnya sering tidak terdeteksi orang dewasa.
Rutinitas Vania, 15, berbeda jauh dengan pelajar SMA lainnya. Sehari-hari dia lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah. Mengisi hari dengan mengikuti pembelajaran. Sesekali diselingi kegiatan ekstrakurikuler.
Aktivitas di sekolah yang seharusnya menyenangkan, bisa jadi hari yang buruk bagi siapa pun. Seperti yang dialaminya beberapa waktu lalu. Ejekan dari teman sekelasnya yang dilontarkan terus-menerus secara langsung mempengaruhi psikologisnya.
Apalagi, pelakunya merupakan teman sebaya yang kerap ditemui di lingkungan sekolah. Suatu kali, Vania pernah meminta penjelasan tentang materi pelajaran yang membuatnya bingung. Bukannya mendapat pencerahan, yang diterima justru diterima.
Baca Juga: Hasil Cek Kesehatan Gratis , Banyak Pelajar di Jatim Terkena Diabetes dan Gangguan Mental, Mengapa?
“Tiba-tiba temanku yang satunya lagi langsung bilang, 'Kamu bodoh, pasti sukanya nyontek terus!' ” kenang siswa kelas X itu tentang kejadian yang tak mengenakkan yang dialaminya itu.
Selain itu, menurutnya banyak perundungan verbal yang terjadi di sekolah. Tidak sedikit yang mengolok-olok kondisi fisik. Misalnya, saat ada anak laki-laki potong rambut gundul, mereka langsung diolok-olok mirip tuyul atau seperti penderita kanker stadium akhir.
"Mungkin bagi mereka bercanda. Tapi di sini dikatain mirip orang kanker itu udah keterlaluan banget," tuturnya.
Perundungan verbal yang terjadi berulang-ulang, diakui Vania berdampak pada mentalnya. Nahasnya, dia bukan tergolong anak yang bisa melawan atau hanya bisa pasrah saja.
Baca Juga: Bocah SD Korban Pencabulan di Kediri Alami Trauma, Tetap Sekolah meski Mental Terganggu
Kenapa tidak melapor ke guru konseling konseling (BK)? Siswa kelas X itu mengaku enggan melakukan hal tersebut. Sebab, kasus perundungan verbal jarang masuk ke sana. Mereka baru menangani jika pengganggu sudah merembet ke perkelahiran atau masalah besar lainnya.
"Ada temanku yang sampai bingung. Mau melapor nanti tambah diejek baperan. Mau diem saja tapi makin keterlaluan. Terus dia merasa tidak layak diajak berteman, menutup diri, tiba-tiba nangis nggak mau cerita logika apa," beber pelajar asal Mojoroto itu.
Dampak buruk perundungan verbal itu juga dirasakan Sintya—bukan nama sebenarnya—salah satu orang tua pelajar SMP di Kediri.
Imbas dari ucapan teman-teman di sekolah, mengukir sekolah. Sebagai orang tua, dia mengaku kesulitan mengatasi kondisi anak itu.
“Setiap mau berangkat sekolah itu selalu muntah-muntah. Diperiksakan juga tetap kondisi itu terulang,” kenangnya.
Kasus kesehatan mental pada anak sekolah juga menjadi temuan yang menarik perhatian di Kediri.
Berdasarkan hasil pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) anak sekolah di Kota Kediri, terungkap ada 318 kasus gejala depresi berat pada anak sekolah. Atau, 2,58 persen dari jumlah anak sekolah yang mengikuti CKG mulai Agustus – awal Desember 2025.
“(Dari proses CKG) itu kan ada daftar pertanyaan. Akhirnya bisa disimpulkan ada gangguan atau tidak berdasarkan jawaban dia,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinas Kesehatan Kota Kediri Dwi Sunaryati, terkait temuan kondisi gangguan kesehatan mental melalui metode skrining kesehatan itu.
Selebihnya juga terdapat temuan gejala kecemasan berat anak sekolah yang mencapai 261 kasus. Gangguan itu ditemukan dari analisa hasil skrining yang diikuti pelajar dari jenjang SD hingga SMA/sederajat.
Menindaklanjuti temuan itu, Dwi menyebut dinas kesehatan memaksimalkan upaya pendampingan dengan melibatkan guru di sekolah.
Baca Juga: Periksa Puluhan Ribu Pelajar, Ini 16 Penyakit yang Coba Dideteksi Dinkes Kota Kediri
"Tetap nanti pihak sekolah tahu gambarannya seperti ini. Sehingga nanti bisa dibimbing. Seperti dari guru BK-nya kalau ada kecemasan seperti itu," beber Dwi.
Terkait referensi ke fasilitas kesehatan, menurut Dwi baru dilakukan jika gangguan mental yang diderita siswa sudah di taraf mengganggu aktivitas. Selebihnya, tindak lanjut dimaksimalkan dengan pendampingan yang melibatkan guru BK di sekolah.
"Misalnya sudah di taraf mengamuk, atau nggak bisa tidur, itu harus segera dirujuk. Dan sebenarnya hal seperti ini tidak bisa hanya anaknya, tapi juga butuh kerja sama dengan guru dan orang tua," paparnya.
Editor : rekian