Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ratusan Tempat Sampah Berjajar di Simpang Lima Gumul Kediri tapi Buang Kotorannya Masih Sembarangan

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 2 Januari 2026 | 22:43 WIB
Banyak tempat sampah namun masyarakat abai dan membuang sampah sembarangan (Foto Aad MS)
Banyak tempat sampah namun masyarakat abai dan membuang sampah sembarangan (Foto Aad MS)

Kawasan SLG adalah ikon Kabupaten Kediri. Jadi jujukan banyak pelancong, baik  dari dalam maupun luar kabupaten.

Sayangnya, tempat ini jadi darurat sampah, banyak yang abai dengan kebersihannya.

Namanya Kawasan Simpang Lima Gumul. Tempat ini lebih dikenal dengan SLG. Penandanya sangat khas, yaitu bangunan besar  segi empat di tengah-tengahnya.

Mirip dengan monumen Arche de Triomphe di Paris, Perancis. Daya tariknya tidak hanya di monument tersebut. Wisatawan juga disuguhi destinasi lain di sekitarnya.

Ada kawasan pedagang kaki lima (PKL) tempat orang bisa berburu aneka kuliner ataupun souvenir. Atau, taman hijau yang bisa untuk bersantai menikmati suasana.  Ada pula Taman Pinggir Kali (Pinka), yang rampung pertengahan Desember lalu.

Jadi, bagaimana bila kawasan SLG jadi kumuh? Ketika sampah berserakan di banyak tempat. Misal, di ruas jalan depan Masjid Baitul Aisyah. Di sini belasan tempat sampah seakan sekadar hiasan belaka.

“Ada yang mau buang di tempat sampah. Kadang ada yang pas jalan-jalan itu langsung jatuhkan sambil jalan,” jelas Sri-bukan nama aslinya- pedagang minuman di area itu.

Di jalan depan masjid  berasitektur indah itu, sampahnya banyak berserakan. Didominasi sampah plastik.

Bungkusan kresek besar, yang penuh sampah, digeletakkan begitu saja di bawah pohon.

Jika kita menepi, kondisinya lebih kotor lagi. Di lahan kosong tepi jalan, yang ditumbuhi semak belukar, sampahnya berserakan di sana-sini.

Mayoritas sampah plastik, baik yang baru maupun lama.

Sebenarnya, ada bak dari semen. Awalnya untuk pot tanaman hias. Tapi, saat ini seakan-akan jadi tempat sampah.

“Kadang ada (petugas kebersihan). Kadang gak ada. Saya datang sekitar jam 10.00 itu kadang sudah bersih. Walau ada sisa-sisa. Tapi kadang juga belum besih. Kalau belum bersih ya pedagangnya yang nyapu-nyapu bersihin sendiri,” jelas Sri.

Di lokasi parkir juga serupa. Pelatarannya memang terlihat bersih. Namun, Ketika sampai di tangga, sampah ada di mana-mana.

Padahal, tempat sampah sudah tersedia. Jumlahnya belasan, ada di setiap sudut. Toh, pengunjung tak peduli.

Mereka tetap membuang sampah semaunya. Jadi menumpuk hingga berbau. Karena ebagian juga berupa sampah basah.

“Tadi ada pekerja juga susah sapu-sapu tapi gatau belum bersih. Mungkin bersihin tempat lain dulu. Karena memang luas,” jelas Tri -bukan nama aslinya- penjual bakso keliling di area itu.

Di area PKL, tercium aroma pesing. Sepertinya berasal dari kencing kuda, yang banyak di situ sebagai penarik andong wisata.

“Jadi terganggu sama baunya. Jadi gak selera kalau mau beli makanan,” terang Fana, pengunjung asal Wates.

Beda lagi di Taman Hijau. Kondisinya relatif lebih bersih. Namun, ketika melihat ke kolam ikan, pengunjung yang bersihan pasti mengelus dada.

Beberapa sampah mengapung, terutama bungkus pakan ikan. Seperti yang  terlihat dibuang anak kecil.

Padahal dia juga bersama kedua orang tuanya, yang terlihat cuek anaknya membuang sampah sembarangan.

Terkait kondisi itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri Putut Agung Subekti mengatakan, tempat sampah yang di pasang di area SLG sudahlah banyak. Sedikitnya ada 160 unit.

“Tempat sampah yang ditempatkan di titik strategis di ruang banyak bahkan menurut kami lebih dari cukup lah. Ada yang produk jadi pabrikan. Ada yang memang ditemakan dengan lokasi juga,” jelasnya.

Selain itu, menurut Putut, khusus di area SLG juga disiagakan 23 personel petugas kebersihan. Bekerja pada pagi dan sore hari.

Namun, yang jadi masalah bukan berapa jumlah tempat samaph maupun personel. Melainkan kebiasanaan masyarakat yang membuang sampah sembarangan.

“Mau ditambah tempat lagi pun sebenarnya bisa. Tapi mungkin merusak estetika. Taman yang terlalu banyak tempat sampah. Tapi mau bagaimanapun tergantung dari kesadaran masyarakat,” jelasnya.

Dia mengaku, sebenarnya terus melakukan edukasi dan sosialisasi. seperti yang dilakukan selama Nataru ini misalnya.

Mulai dari edukasi verbal sampai dengan pemasangan banner imbauan. Namun agar masyarakat paham tidaklah mudah.

Karena itu, hal ini jadi tantangan. Agar masyarakat bisa sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan. Sehingga, hal itu juga tidak merusak citra SLG.

“Makanya terus dilakukan edukasi. Untuk menumbuhkan kesadaran,” jelasnya. (muhamad asad. Muhamiyus sidqi/fud)

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#kepedulian #kebersihan #slg kediri #taman hijau #tempat sampah #dlh #kawasan slg