Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Maraknya Lembaga Kursus Musiman yang Ikut Berebut Cuan di Kampung Inggris, Rawan Merusak Citra Kediri

Emilia Susanti • Selasa, 30 Desember 2025 | 07:00 WIB
Ilustrasi kegiatan belajar dan mengajar.
Ilustrasi kegiatan belajar dan mengajar.

Setiap m usim liburan sekolah, kawasan Kampung Inggris Pare dipadati pelajar yang mengambil kursus singkat. Fenomena ini jadi peluang bisnis yang menjanjikan. Tak heran banyak lembaga musiman atau tempat kursus yang hanya buka saat musim liburan saja di sana.

Keberadaan lembaga kursus musiman di Kampung Inggris Pare ini sudah jadi sudah menjadi masalah klasik. Mereka tiba-tiba muncul saat musim liburan. Kemudian, menghilang setelah liburan selesai.

Penelusuran Jawa Pos Radar Kediri , salah satu lembaga kursus musiman di sana adalah lembaga V. Sesuai informasi yang tercantum di Instagram, alamat lembaga kursus tersebut di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, yang memang masih berada di kawasan Kampung Inggris.

Baca Juga: Melihat Destinasi Wisata Penyangga di Gunung Kelud yang Dulu Pernah Hits, Ibaratnya Hidup Segan Mati pun Enggan

Saat ditelusuri melalui Google Maps, alamat tersebut merujuk pada salah satu rumah yang dipasangi papan berisi informasi lembaga nama. Lengkap dengan program informasi belajar, media sosial, akta notaris, hingga nomor pokok wajib pajak (NPWP).

Namun informasi yang tertera di Google Maps tersebut adalah kondisi pada Januari 2024 silam. Adapun saat Jawa Pos Radar Kediri mendatangi rumah tersebut kemarin (27/12), rencana yang sama belum terpasang.

Meski begitu, nomor admin yang tertera di Instagram lembaga V tersebut masih aktif. Bahkan saat dihubungi, program liburan di Kampung Inggris juga masih berjalan.

Hanya saja, program untuk liburan akhir tahun ini sudah penuh dan akan segera berakhir. Sehingga tidak bisa dilakukan pendaftaran untuk program liburan mandiri atau individu.

“Untuk yang reguler mandiri sudah mau selesai. Kurang dua hari lagi,” tulis admin lembaga tersebut.

Selanjutnya admin lembaga V menawarkan program lain selain di momen libur. Meliputi program short course , undangan ke sekolah, dan online . Hanya saja, semuanya khusus untuk rombongan. Minimal 15 anak. Itupun harus memesan jauh-jauh hari.

“H-3 bulan (waktu pemesanan ). Itu pun biasanya sisa kursi kosongnya hanya sekitar 20 persen,” jelasnya melalui WhatsApp sambil menyebut saat ini berniat sudah mendapatkan member untuk program liburan berikutnya.

Baca Juga: Ingin Wisata Gunung Kelud di Kediri Hidup lagi

Seperti lembaga kursus tetap di sana, lembaga kursus musiman ini juga menawarkan fasilitas yang cukup menarik. Mulai menyediakan modul dan sertifikat. Asrama dengan fasilitas AC, TV, kamar mandi dalam, hingga kolam renang.

Tak hanya itu, mereka juga menawarkan perjalanan wisata sekaligus outbond . Dari segi biayanya lumayan mahal. Yakni Rp 1,8 juta untuk satu minggu dan Rp 2,8 juta untuk dua minggu.

“(Peserta) ada yang dari Jakarta, Jawa Tengah, Lampung, dan Malang,” terangnya sambil menyebut peserta didominasi dari Jakarta.

Informasi yang dihimpun koran ini, lembaga V ini tidak memiliki kantor di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Namun mereka selalu datang ketika momen liburan. Akibat praktik tersebut, lembaga musiman ini pernah terkena sidak yang dilakukan pemerintah desa beberapa tahun yang lalu.

Semakin banyaknya lembaga musiman, menimbulkan kekhawatiran. Terutama bagi lembaga kursus tetap di Kampung Inggris Pare.

Baca Juga: Liputan Khusus: Dilema Pekerja Gen-Z, antara Upah Minimum dan Upaya Menjaga Waras

Ketua Forum Kampung Bahasa (FKB) Ahmad Farih menjelaskan, keberadaan lembaga musiman bisa merusak nama baik Kampung Inggris. Jika lembaga tersebut meninggalkan kesan buruk kepada pesertanya, otomatis nama Kampung Inggris yang dipertaruhkan.

"Yang sudah-sudah itu contohnya dia membuat program di sini, kemudian beberapa tutor nggak dibayar, kontrakan tidak dibayar. Akhirnya kan terkenalnya Kampung Inggris itu bermasalah. Orang luar itu mengira Kampung Inggris itu satu kesatuan, nggak tahu kalu di Kampung Inggris terdiri dari beberapa lembaga," katanya.

Oleh karena itu, keberadaan lembaga musiman terasa tidak adil bagi lembaga yang menetap dan berdiri di Pare. Sebab, mereka telah berjuang mulai dari nol. Hingga berjuang untuk terus bertahan dan juga berkembang.

“Lembaga musiman itu ibaratnya mereka hanya hit and run . Jadi hanya datang, ambil keuntungan, dan kabur,” lanjut pria yang akrab disapa Farih ini.

Padahal, menurut Farih Kampung Inggris merupakan kawasan bisnis. Di dalamnya ada pihak yang terlibat. Mulai dari lembaga kursus, warung, homestay , dan sebagainya. Sehingga, ketika ada kesan buruk terhadap Kampung Inggris, maka semua pihak ikut merasakan dampaknya.

"Ketika ada satu lembaga yang mengatasnamakan Kampung Inggris bermasalah, akhirnya yang lain kan juga kena. Citra Kampung Inggris akhirnya jelek. Yang menerjemahkan teman-teman seperti itu," tandasnya.

Terpisah, pengamat ekonomi Subagyo melihat ada sisi positif sekaligus negatif dari maraknya lembaga kursus musiman ini. Dari segi positif, keberadaan lembaga kursus musiman menandakan Kampung Inggris telah menjadi brand yang besar.

Merek Yakni yang memiliki dampak ekonomi tinggi. Mulai dari usaha makanan dan minuman, penginapan, transportasi, tenaga pengajar, dan lain sebagainya.

“Mungkin banyak alumni situ, mereka mempunyai kesempatan untuk berwirausaha atau mungkin membuat kursusan musiman bagi pelajar atau mahasiswa. Nah , biasanya mereka yang muncul musiman itu ya segmennya untuk program jangka pendek, menawarkan harga yang lebih ekonomis, yang tidak terlayani lembaga yang sudah mapan di situ. Itu sisi positifnya,” paparnya.

Baca Juga: Resmikan Jalan Stasiun Kediri, Pemkot Siapkan 2 Ribu Porsi Pecel Gratis saat Perayaan Malam Tahun Baru

Sedangkan sisi negatifnya, kualitas dari lembaga kursus musiman patut dipertanyakan. Pasalnya, mereka biasanya tidak memiliki kurikulum yang baku maupun tutor yang bersertifikat. Sehingga, Subagyo menilai hal itu bisa merusak merek Kampung Inggris.

"Mungkin juga menciptakan persaingan yang tidak sehat ya . Mereka memberikan harga yang murah misalnya, sehingga mungkin memberikan persepsi belajar di Kampung Inggris itu murah, seadanya. Itu membuat reputasi yang tidak baik untuk jangka panjang," jelasnya.

Melihat fenomena ini, menurut Subagyo pemerintah harus turun tangan agar Kampung Inggris Pare tetap eksis. Apalagi saat ini juga mulai bermunculan Kampung Inggris di daerah lain. “Hal utama yang dilakukan bisa dengan membangun tata kelola yang baik,” paparnya sambil menyebut harus ada standarisasi pengelola, sertifikasi tutor dan lembaga.

Baca Juga: Unjuk Gigi di Fun Run Waru Turi Kediri, Cocok untuk memulai Karnaval Lari untuk Para Pemula

Selebihnya, pemerintah juga bisa ikut membangun brand Kampung Inggris. Bukan saja pengalaman belajar bahasa Inggris di lembaga kursus. Melainkan menciptakan pengalaman belajar di kawasan Kampung Inggris.

“Istilahnya Learning English Ecosystem . Dan juga untuk branding bisa dengan event berskala nasional atau internasional. Itu bisa daya tarik wisata di samping edukasi,” imbuhnya. 

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

 

Editor : rekian
#libur sekolah #libur natal dan tahun baru #kampung inggris #belajar bahasa inggris #musim liburan #kampung inggris pare