Tak terbersit soal kesetaraan gender di benak para perempuan tangguh ini.
Juga tak pernah merasa sentimentil dengan ingar-bingar perayaan Hari Ibu yang jatuh hari ini.
Yang mereka pikirkan adalah terus bekerja keras demi menghidupi keluarga.
Tangan Kecilnya Harus Mencetak 150 Keping Genting per Hari
Bangunan itu sangat sederhana. Dindingnya dari bata merah tanpa plester.
Atapnya rendah, nyaris menyentuh kepala orang yang ada di dalamnya. Di dalam bangunan itu tangan Sumini tak pernah berhenti bergerak.
Mengangkat adonan dari tanah liat. Meletakkan di cetakan. Kemudian, menekan tuas alat press.
Hingga membentuk adonan menjadi genting yang siap dibakar.
“Ya enggak susah (melakukannya) karena sudah terbiasa. Tapi setelahnya ya kuesel(lelah, Red). Biasanya satu bulan sekali pijet,” ucap perempuan 51 tahun ini, sembari mengumbar senyum.
Sumini adalah potret perempuan di Kediri, dan di Indonesia, yang harus bergulat dengan pekerjaan kasar.
Istilah kerennya, menjadi pekerja kerah biru.
Sehari-hari wanita kelahiran Tulungagung ini menjadi pembuat genting di desanya, di sentra industri genting Dusun Templek, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri.
“Awalnya karena memang nyari pekerjaan ke Pak RT. Terus dikasih kerjaan cetak genting,” terang ibu dua anak ini.
Soal bergelut dengan pekerjaan kasar dan berat, bukan hal baru bagi wanita yang sudah menjanda ini.
Sebelumnya dia bekerja sebagai pencetak batu bata. “Tapi saya cari yang gajinya lebih besar,” sambungnya.
Maka, sejak tiga tahun lalu dia menjadi pekerja di industri genting milik Marwan, tetangganya.
Menghidupi dia dan kedua anaknya.
Bahkan, meskipun kini kedua anaknya sudah mentas, sudah berkeluarga dan lepas dari dirinya, Sumini tetap memilih bekerja.
“Masih punya tanggungan angsuran,” akunya. Nada suaranya pelan ketika mengatakan hal tersebut.
Setiap hari, rutinitasnya berawal dengan bangun pagi, masak untuk makan sehari, kemudian bergegas ke tempatnya bekerja. Sepeda onthel tua menjadi temannya.
Menjadi saksi bagaimana dia harus mencetak 100 hingga 150 keping genting setiap hari.
Rasa lelah yang dia rasakan ditutupinya dengan rasa syukur tiada henti.
“Biasanya yang kerasa niku pundak karo sikil (yang terasa sakit biasanya pundakdan kaki, Red). Merga ora mandek mlaku (karena mesin cetak tidak berhenti jalan, Red),” ungkapnya.
Wajar bila Sumini mengatakan seperti itu. Badannya relatif kecil. Tingginya pun hanya 150 sentimeter.
Padahal menarik tuas alat cetak genting relatif berat. Belum lagi harus mengangkat adonan tanah liat.
Sumini adalah realita perempuan era sekarang. Hidup di persimpangan peran.
Hidupnya di bawah garis kemiskinan. Harus bekerja sejak muda hingga ketika sudah berkeluarga. Perannya sebagai ibu juga tak bisa dia tanggalkan.
“Dulu kerja bikin batu bata dari kecil, kelas 4 SD. Terus waktu berkeluarga dan punya anak satu, saya kerja di sawah. Anak kedua lahir, saya pindah ke sini sampai akhirnya kerja cetak genting. Jadi dari kecil sudah terbiasa sara (susah, Red). Makanya seumpama ditinggal bapake (suami, Red) itu nggak kaget. Bisa cari uang sendiri,” ungkap perempuan yang menjanda sejak empat tahun lalu ini.
Ironinya, perempuan seperti Sumini ini banyak di Dusun Templek. Bekerja sebagai buruh pembuat genting.
Jumlahnya mendominasi dibanding yang pria, hampir 70 persen.
“Pelaku utama pembuatan genting itu justru ibu-ibu. (Mulai) cetak sampai pengeringan. Cuman pekerjaan berat seperti angkat-angkat biasanya dikerjakan laki-laki,” kata Kepala Dusun Templek Asik.
Dulu, pekerjanya pernah didominasi pria. Seiring waktu, banyak ibu-ibu yang ikut bekerja.
Kebutuhan ekonomi menjadi penyebab. Karena mayoritas berstatus menengah ke bawah secara ekonomi.
Mempekerjakan perempuan juga punya keuntungan lebih bila dibanding buruh pria. Wanita lebih telaten.
“Wanita itu punya tanggung jawab yang tidak seperti laki-laki, yang banyakliburnya. Kalau yang laki kebanyakan sekarang lebih menjanjikan untuk kuli angkut, atau pekerjaan pembakaran, giling tanah,” beber Asik.
Ngojek sejak Subuh demi Hidupi Tiga Anak
Namanya Mudiarti. Punya tiga anak, tapi sudah bercerai dengan suaminya. Sulungnya berusia 22 tahun, sudah bekerja.
Yang kedua, usianya 15 tahun dan memutuskan tak sekolah lebih dulu. Sedangkan si bungsu masih kelas 5 sekolah dasar, berusia 10 tahun.
Demi menghidupi anak-anaknya itulah dia harus bekerja. Menjadi driver ojek online (ojol).
“Berangkat sejak pukul 05.00,” akunya, ketika ditemui saat istirahat sambil menunggu orderan di salah satu warung di Jalan Raden Patah, Kelurahan Kemasan, Kecamatan Kota.
Mudiarti sudah menjadi driver ojol sejak 2019.
Pekerjaan ini dia pilih karena dianggapnya fleksibel. Bisa nyambi, mencari uang sambil mengurus anak-anaknya.
“Kalau kerja ikut orang kan kita harus di situ. Enggak bisa urus rumah. Enggak bisa urus anak, gitu,” dalih warga Kelurahan Kaliombo, Kecamatan Kota ini.
Perempuan ini mengatakan hal itu karena sudah punya pengalaman. Pernah dia bekerja ikut orang.
Setelah itu sorenya dia gunakan untuk ngojol. Ternyata tak maksimal hasilnya.
“Pagi-pagi sudah harus kerja, ndak bisa ngurus anak. Sorenya, ojolnya juga tak maksimal karena aplikasi sering mati,” kenangnya, menceritakan alasannya menekuni driver ojol sepenuhnya seperti saat ini.
Peran ganda, sebagai pencari nafkah dan ibu, membuatnya harus beraktivitas sejak pagi.
Subuh dia mulai memasak. Menyiapkan bekal bagi anaknya yang bekerja.
Pukul 05.00 dia berangkat ngojol. Siang hari pulang lebih dulu, merawat anaknya.
Seperti menyiapkan makan siang. “Kalau mandi (yang anak bungsu) bisa sendiri. Berangkatnya (sekolah) juga naik sepeda,” terangnya.
Upaya kerasnya itu menghasilkan pendapatan berkisar Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu per hari.
Jika sepi, bisa kurang dari itu. Toh, semuanya tetap dia syukuri.
“Agak-agak susah juga ngaturnya. Tapi ya mau gimana lagi, memang itu kerjaan yang bisa saya lakuin sekaligus sama urus anak,” akunya.
Risiko menjadi driver ojol tidak kecil. Apalagi ketika bekerja malam hari.
Nyasar di kuburan, sepeda motor mogok, atau mendapat orderan fiktif sering dia alami.
Tak jarang pula dia mendapat penumpang yang dalam kondisi mabuk karena habis minum minuman beralkohol.
Takut? Tentu saja. Namun dia harus berusaha untuk menepis.
“Biar enggak kelihatan takut, karena kalau seperti itu memang harus kelihatan berani. Kalau takut malah diganggu. harus dilihat seperti laki-laki. Biar segan,” jelas perempuan berkaca mata yang memang terlihat garang ini. (muhamad asad muhamiyus sidqi/fud)
Warungnya Bangkrut, Jadi Pemulung demi Rp 300 Ribu Seminggu
Sundiyah adalah warga Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Sehari-hari bekerja menjadi pemilah sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Klotok.
Perempuan ini juga single parent. Suaminya meninggal dunia sejak lama. Padahal ada dua anak yang harus dia hidupi.
Apalagi, anak pertamanya butuh perhatian ekstra karena mengalami depresi.
“Depresi sudah lama, kambuh-kambuhan. Kalau anak yang bungsu sudah nikah. Biasanya juga masih bantu,” terang wanita yang jadi pemilah sampak sejak 2001 ini.
Mengapa memilih bekerja memilah sampah? Sebenarnya, dulu Sundiyah punya warung.
Namun modalnya habis. Sehingga warungnya harus tutup. Sementara itu, di usianya, pekerjaan yang bisa diambil adalah memilah sampah.
“Ditlateni ceker-ceker (cari sampah yang bisa dijual), lek kuli gak kuat (kalau jadi kuli tak kuat, Red),” aku perempuan 53 tahun ini.
Demi mendapat sampah yang bisa dijual, Sundiyah harus berangkat pagi, setengah enam.
Pulangnya pukul 11.00. Itupun hanya bisa mendapat satu karung botol bekas.
“Angel (sulit, Red) Mas,” akunya, menyebut sulitnya mendapat botol bekas yang sesuai dengan syarat pengepul sampah daur ulang.
Berapa pendapatannya? Tentu saja pas-pasan. Bila dia bekerja seperti itu, mendapat satu karung, paling seminggu memperoleh hasil Rp 300 ribu.
Bila waktu kerjanya dia tambah, masih ada kemungkinan memperoleh Rp 500 ribu.
Uang itu kebanyakan tersedot makan dan biaya pengobatan anaknya yang depresi. Meskipun sudah tercover BPJS Kesehatan tapi tetap butuh biaya lain.
Tak bermaksud berkeluh-kesah, Sundiyah menyebut telah mencari pengobatan anaknya itu ke berbagai tempat.
Namun, hingga kini belum berhasil.
“Lek wis mari ngono kae gak gelem ngombe obat. Tapi lek pas ngamuk aku sing diamuk (kalau tidak kambuh tak mau minum obat tapi kalau kambuh saya yang diamuk, Red), kejar-kejaran,” ucapnya, menceritakan sepenggal kesulitan hidup yang dia jalani selama ini.