KEDIRI, JP Radar Kediri- Nama Djuwari sebagai penandu Panglima Soedirman masuk dalam catatan sejarah. Sayangnya, hingga akhir hayat pada 2012 silam, hidupnya seolah belum ‘terjamah’ bantuan pemerintah.
Lokasi rumah Djuwari berjarak sekitar 500 meter dari Sasana Pangripta Gelar Panglima Besar Jenderal Soedirman. Untuk bisa sampai ke rumahnya, medannya terbilang sulit. Jalannya sempit, berliku, dan menanjak.
Tinggal di rumah kecil bersama enam anaknya, mereka hanya bisa mengenang keberanian almarhum ayahnya. Rumah berlantai semen dan atap yang belum dipasang plafon itu memang sangat sederhana. Sekat antar ruangan bukanlah dinding. Melainkan gorden lawas.
Yang lebih memprihatinkan adalah kamar mandinya yang dalam kondisi terbuka. Di sana juga belum dilengkapi dengan water closet (WC).
"Dulu nggih teng kali (Dulu ya ke sungai untuk buang air besar, Red)," aku Warsini, anak Djuwari, penandu Jenderal Soedirman.
Sebenarnya, tawaran untuk perbaikan rumah sudah berkali-kali datang. Demikian pula dengan kamar mandi. Tawaran itu datang sejak Djuwari masih hidup. Namun, hingga dia berpulang 2012 lalu, sampai sekarang belum kunjung terealisasi. “Sampai sekarang tidak ada apa-apa. Padahal kamar mandi dan WC sudah dilihat dan ditinjau," lanjut Warsini.
Terlepas dari kondisi keluarga yang hidup dalam keprihatinan, mereka pernah diundang untuk berkunjung ke makam Soedirman. Di sana, dia mengaku pernah bertemu dengan cucu Soedirman. "Hari Pahlawan nggeh nate diundang Bu Khofifah teng Surabaya (Hari Pahlawan juga pernah diundang Bu Khofifah di Surabaya)," kenangnya.
Sementara itu, Pengamat Sejarah Kediri Achmad Zainal Fachris menyoroti kepedulian pmerintah terhadap kisah Panglima Soedirman diakuinya masih kurang. Termasuk kepada masyarakat yang sempat andil dalam membantu perang kemerdekaan.
"Zaman orde baru dulu memang banyak sekali bentuk-bentuk kepedulian kepada para keturunan dari pahlawan dan orang-orang yang berjasa membantu dalam upaya perang kemerdekaan, itu dulu banyak dibantu. Termasuk juga keluarga dari Pak Badal,” papar Fachris.
Di sisi lain, menurutnya pemerintah pernah mengadakan kegiatan napak tilas gerilya Jenderal Soedirman. Namun, kegiatan itu dihentikan pada 2019 silam. Saat kegiatan serupa digelar kembali, semangatnya telah berkurang.
Baca Juga: Fenomena Maraknya Kredit Fiktif di BRI Wilayah Kediri
"Semangatnya tidak semeriah zaman dulu. Dulu dilombakan, sekarang hanya jalan. Dan dulu membawa tandu," terang Fachris.
Selain kepedulian untuk keluarga orang-orang yang berjasa dalam gerilya Jenderal Soedirman, Fachris berharap Pemerintah Kota dan Kabupaten kediri bisa menghidupkan lagi napak tilas gerilya Soedirman. “Bukan sekadar formalitas, tapi harus disisipkan nilai-nilai kepahlawanan,” pintanya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian