Dusun Goliman menyimpan cerita tentang perjuangan Jenderal Soedirman melawan penjajah. Pada 1948 silam, sang panglima singgah di rumah Badal, salah satu warga di lereng Wilis itu sebelum melanjutkan gerilnya ke Desa Bajulan, Loceret, Nganjuk dengan ditandu.
Keberadaan Sasana Pangripta Gelar Panglima Besar Jendral Soedirman di kaki gunung Wilis jadi saksi bisu perjuangan Soedirman saat bergerilya. Bangunan di Dusun Goliman, Desa Parang, Kecamatan Banyakan itu terlihat terawat dengan baik. Gentingnya seperti masih anyar. Lalu pintu serta pilar bangunan yang terbuat dari kayu juga baru dicat ulang.
Di sasana tidak ada meja atau kursi untuk tamu. Juga, tidak ada funitur lain seperti rumah pada umumnya. Namun, di sisi utara ada sebuah ruangan lagi yang disekat dengan kayu.
Di dalamnya ada sebuah dipan, kursi, dan meja yang dilengkapi dengan kendi dan gelas. Benda-benda itu rupanya pernah digunakan oleh Soedirman saat singgah di rumah Badal.
Tak hanya benda-benda yang pernah digunakan oleh Soedirman, di sana juga ada beberapa lukisan. Salah satunya lukisan Badal, sang pemilik rumah. Ada pula riwayat perjuangan Soedirman yang dipajang di pigura terpisah.
Di sana tertulis Panglima Besar Jenderal Soedirman mendatangi rumah Badal pada 27 Desember 1948. Sekitar pukul 12.30. "Kata Mbah Putri (istri Badal), ceritanya itu Pak Jenderal Soedirman ke sini itu ngakunya bukan Pak Jenderal, ngakunya kepala guru, mantri. Terus pembantunya (pengawal, Red) ada empat," ungkap Hartin, cucu Badal, menceritakan kembali penuturan dari Ruminah, neneknya.
Kala itu, Soedirman memang sedang sakit. Karenanya, istri Badal turut membantu merawat Soedirman. Menu makannya saat itu nasi putih dan telur setengah matang. Adapun minumnya hanya air putih. Dia mengonsumsi menu itu selama sembilan hari tinggal di sana.
Untuk melestarikan sejarah dan merawat jejak sang jenderal di rumah keluarganya, cucu-cucu Badal sepakat untuk terus merawat sasana. Beberapa kali mengalami renovasi, rumah memang sudah berubah.
Jika dulu rumahnya terbuat dari bambu atau gedek, kini sudah diplester. Hanya saja, benda-benda yang pernah dipakai Soedirman tetap dijaga keasliannya. Terutama dipan, kursi, dan meja.
Selain tiga benda itu, sebenarnya menurut Hartin di sana juga ada alat untuk menandu Soedirman. “Alat untuk manggul (tandu) itu dibawa ke Jawa Tengah,” lanjutnya.
Untuk diketahui, Badal dan Ruminah memiliki empat orang anak. Salah satunya adalah Suwandi yang juga ayah Hartin. Wanita berusia 54 tahun itu merupakan sulung dari tiga bersaudara.
"Mbah Putri pesan agar (sasana) dirawat terus,” tutur Hartin tentang kondisi bangunan yang oleh Bupati Kediri Usrie Sastradiredja dulu sempat akan dijadikan museum itu.
Sementara itu, selain keluarga Badal, keluarga Djuari juga menyimpan cerita tentang sosok Soedirman. Sebab, pria yang meninggal pada 2012 silam itu juga ikut menandu sang pahlawan.
Selain Djuari, total ada empat warga yang menandu Soedirman. Yakni, Marto, Djoyodari, Mangun, dan Karmo. Jika Hartin menyebut Soedirman tinggal selama sembilan hari, Mijan yang merupakan anak keempat almarjum Djuari menyebut panglima perang itu hanya singgah satu hari di Goliman.
Kala itu, tidak semua orang berani menandu Soedirman. Mayoritas takut dengan Belanda. Apalagi, mereka sudah berada dekat dengan Dusun Goliman. Menurut penuturan Djuari, dia dan tiga pria lain harus menandu Soedirman melintasi hutan di lereng Wilis.
Setibanya di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Nganjuk, empat pria yang menandu itu mendapat upah. “Opahe jarik kalih yotro sing dereng digunting (upahnya selembar jarik dan uang yang belum digunting,” sahut Warsini, anak ketiga Djuwari.
Sayangnya, jarik pemberian Soedirman itu kini sudah tidak ada. Sebab, jarik langsung digunakan oleh keluarganya. Sekarang keberadaan jarik bersejarah itu tidak diketahui lagi.
Terpisah, Pengamat Sejarah Kediri Achmad Zainal Fachris mengatakan, Kediri memang jadi salah satu rute gerilya Panglima Soedirman. Saat sampai di Kediri, Soedirman pernah tinggal di salah satu rumah yang berada di Jalan Moh. Husni Thamrin, Kelurahan Kemasan selama satu malam. Saat ini rumah bersejarah itu berubah menjadi kafe.
"Setelah itu ke arah Barat. Melanjutkan ke arah Wilis. Rutenya menuju selatan. Dari Sukorame ke arah Karangnongko kemudian menuju ke utara ke Goliman," terangnya sembari menyebut sebelum sampai di Kediri, Soedirman terlebih dahulu bergerilya di daerah Trenggalek.
Di setiap tempat yang disinggahi, menurut Fachris Soedirman tidak pernah tinggal lama. Melainkan hanya 2-3 hari saja. Hanya saja, saat singgah di Kediri Soedirman dalam kondisi sakit. Karenanya dia tinggal hingga sembilan hari. "Praktis waktu di Kediri Pak Dirman tidak pernah jalan. Ditandu terus karena kondisi memang sakit," jelasnya.
Saat singgah di suatu daerah, Soedirman juga selalu menghindari menginap di rumah perangkat desa. Pasalnya, ada banyak mata-mata tentara Belanda. Karenanya, dia selalu memilih menginap di rumah warga biasa.
"Pak Dirman memilih tempat tersebut karena selain tertutup juga biar banyak tidak diketahui. Rumah itu kemudian dibangun seperti joglo namun dengan mempertahankan bagian dalamnya tetap utuh," tandasnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian