Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Geliat Pasar Gombek Gringging Kediri dan Bisnis Thrifting di Tengah Larangan Impor Pakaian Bekas

Diana Yunita Sari • Jumat, 28 November 2025 | 16:26 WIB
pembeli memilih celana di area Pasar Gombek Grogol (Diama Yunita Sari)
pembeli memilih celana di area Pasar Gombek Grogol (Diama Yunita Sari)

JP Radar Kediri- Area ini sangat terkenal di era 1990-an hingga awal 2000-an. Jadi pusat perdagangan pakaian bekas impor yang terkenal di Jawa Timur. Kini, kios-kios yang berjajar sudah banyak yang gulung tikar.

Orang mengenal tempat ini sebagai Pasar Gombek. Akronim dari gombal bekas, pakaian bekas. Lokasinya di sepanjang jalan Kediri-Nganjuk. Tepatnya di Desa Wonoasri, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri.

Dulu, di sepanjang jalan padat ini, banyak kios yang menjajakan pakaian bekas-yang saat ini dikenal dengan istilah thrifting. Baju, celana, jaket, hingga selimut bekas yang mudah ditemui. Bergantungan di toko-toko yang berderet hingga ke Pasar Gringging.

Para pembelinya pun tak sedikit. Mereka hanya datang dari sudut-sudut Kediri dan Nganjuk. Melainkan juga datang dari seantero Jawa Timur. Ada yang beli eceran, ada pula yang beli partai alias borongan, dengan tujuan dijual kembali.

Baca Juga: Eksklusif! Liputan Khusus Maraknya Fenomena Rojali-Rohana di Mal-Mal Kediri Raya (1)

Tapi itu dulu. Saat ini kondisi pasar gombek sepi pembeli. Dari puluhan pedagang yang dulu beroperasi di sepanjang jalan hanya menyisakan lima toko saja. Banyak yang gulung tikar.

“Sepi sekali sekarang,” ucap Elli, salah satu penjual thrifting yang masih bertahan.

Wanita itu menjual produk celana. Dia mengaku omzetnya terjun bebas bila dibanding dulu. Tak sampai Rp 200 ribu dalam satu hari.

“Dulu sehari bisa terjual lebih dari sepuluh potong. Sekarang, tiga potong saja belum tentu,” keluhnya.

Elli, yang telah berjualan sejak 1998, menceritakan bahwa dulunya wilayah tersebut menjadi pusat penjualan-beli pakaian bekas. Ada banyak gudang besar tempat kulakan untuk dijual kembali. Kemudian, diikuti tumbuhnya kios-kios di sekitarnya, yang menjajakan pakaian bekas secara retail. Tapi, semua itu tinggal kenangan.

Hal serupa dikatakan Jantik, yang berjualan khusus pakaian wanita. Dia membenarkan bahwa saat ini banyak kios yang memilih tutup.

Baca Juga: Eksklusif! Liputan Khusus di Hari Guru Nasional: Guru Honorer Menggapai Asa Sejahtera (2)

“Yang (bertahan) berjualan ya hanya yang telaten-telaten saja,” sebut Jantik.

Banyak hal yang membuat kondisi seperti itu. Setidaknya terdapat tiga faktor yang menjadi penyebab sepinya pasar gombek.

Pertama, kesulitan stok karena gudang-gudang besar di sekitar Jalan Raya Kediri-Nganjuk tutup karena larangan impor pakaian bekas. Aturan ini diterapkan sejak 2022.

Banyak pedagang yang kini hanya menghabiskan stok. Ada pula yang beralih membeli secara online per lembar, seperti yang dilakukan oleh Mat, salah satu pedagang.

"Gudang tidak ada, ya belinya sekarang per lembar. Sekitar 20–85 lembar lewat online di Bandung. Habisnya juga tidak tentu," ungkap Mat.

Faktor kedua adalah pedagang di tempat ini kebanyakan usia lanjut. Tak bisa mengeksplorasi tren baju. Juga tidak bisa menjual secara online .

Hal ini berbeda dengan thrift shop seperti di Kelurahan Bandarlor, kawasan CFD SLG, atau sekitaran Pare. Tempat-tempat itu masih ramai digandrungi anak muda karena menyediakan pakaian bermerek ternama dan berkesan vintage . Pakaiannya juga dijual secara online melalui Instagram atau siaran langsung di medsos.

Faktor ketiga, harga pakaian di pasar gombek dianggap mahal. Kaus atau atasan misalnya, dijual Rp 15–40 ribu. Kemudian celana pendek atau rok pendek sekitar Rp 15–25 ribu. Celana panjang sekitar Rp 50–65 ribu. Serta rok sekitar Rp 40–60 ribu.

Baca Juga: Liputan Khusus : Ironi KONI Kota Kediri, Prestasi Oke tapi Anggaran Masih Memble

“Menurutku mahal ya. Ada celana warnanya sudah pudar harga Rp 60 ribu. Harga segitu, ditambah sedikit, bisa dapat celana baru,” ungkap Nita, seorang pembeli asal Kecamatan Mojoroto.

Hal senada juga disampaikan oleh Aldo, warga Kecamatan Grogol. "Gombek sekarang mahal-mahal tidak seperti zaman dulu. Dulu Rp 100 ribu bisa dapat 3 sampai 4 celana. Sekarang satu celana sampai Rp 100 ribu," ungkapnya.

Lalu, bagaimana dengan penjual thrift modern? Berbanding terbalik dengan pasar gombek Gringging, baju thrift kini malah menjadi tren tersendiri bagi anak muda. Hal ini terbukti dari banyaknya festival thrift atau stan CFD yang selalu ramai. Salah satu toko thrift yang ramai adalah toko di Kelurahan Bandarlor.

Lily, karyawan toko tersebut, mengatakan bahwa pembeli yang datang tak hanya ingin membeli baju bekas. Melainkan juga berburu brand-brand ternama seperti Nike, Adidas, dan lainnya. Kemudian harganya juga lebih mencengangkan dibandingkan beli baru. Atau barang yang sudah tidak diproduksi alias langka atau vintage.

Baca Juga: Liputan Khusus : Belenggu Game Online, Rimba Maya Keseruan yang Melenakan (1)

“Mereka bisa mencari merek, bukan sekadar barang bekas. Ada pasarnya sendiri, dan kebanyakan malah anak muda. Bos juga kulakannya sesuai tren,” jelas sang karyawan.

Namun, meskipun saat ini banyak diminati, mereka tetap waswas. Apalagi alasannya bukan soal wacana larangan impor pakaian bekas yang ramai diungkapkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

"Sekarang saja sudah kesulitan cari stok. Kalau nanti benar-benar dilarang ya nggak tahu lagi," ungkap Lily.

Kekhawatiran yang sama juga dirasakan Edwin, pedagang hemat asal Kecamatan Pare. Apalagi, pria ini mengatakan ia sudah meninggalkan usaha berjualan baju thriftnya dan beralih ke usaha kuliner.

Menanggapi hal ini, Kabid Perdagangan Disperindag Kabupaten Kediri Roni Jatmiko mengatakan, larangan penjualan baju bekas/thrifting sebenarnya sudah ada sejak lama. Yakni mengacu pada Permendag Nomor 20 Tahun 2022 (perubahan atas Permendag No 18 Tahun 2021) tentang barang yang dilarang ekspor dan barang yang dilarang impor. Pakaian bekas sendiri masuk ke dalam daftar barang yang dilarang impor.

“Kami Dinas Perdagangan tegak lurus dengan peraturan yang ada di Pusat. Larangan ini bukan tanpa alasan, pertama karena kesehatan, yang kedua untuk melindungi industri lokal,” jelasnya.

Roni menyebut, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Kemendag terkait kebersihan dan kesehatan, pakaian impor berpotensi membawa bakteri serta jamur. Keduanya bisa menyebabkan atau menularkan penyakit di masyarakat.

Baca Juga: Liputan Khusus Hari Tani Nasional, Krisis Regenerasi Petani Ancam Swasembada Pangan

Ia juga menyebut Kediri memiliki banyak industri tekstil seperti UMKM dan industri rumahan. Pelarangan ini juga bertujuan untuk melindungi pelaku industri tersebut.

Terkait banyaknya gudang-gudang besar yang tutup di sekitar Jalan Raya Kediri-Nganjuk, Roni menyebut belum melakukan penindakan secara langsung. Hal itu mungkin disebabkan oleh tindakan bea cukai yang sudah diterapkan sehingga toko tutup dengan sendirinya.

“Yang jelas di tingkat Pemda saat ini masih pembinaan dan ajakan persuasif. Para pedagang kami himbau untuk perlahan beralih menjual produk lokal sambil menghabiskan stok jika masih ada,” jelasnya.

Roni mengatakan, penindakan akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari sosialisasi dan menghimbau para pedagang thrifting. Kedepannya, jika masih banyak pedagang yang membandel, penindakan akan dilakukan melalui kerja sama lintas sektor.

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#Thrifting #kabupaten kediri #thrifting baju #kediri #baju impor #gringging #Gombek #pakaian bekas #Larangan Thrifting