Berjuang Wujudkan Porkot meski Harus lewat PAK
Prestasi atlet Kota Kediri di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur tak perlu diragukan lagi. Sejak gelaran pertama, Kota Kediri selalu masuk lima besar. Namun di balik itu para atlet harus berjuang di tengah keterbatasan fasilitas dan anggaran.
Pada porprov tahun ini, Kota Kediri menjadi daerah yang paling sedikit mengirimkan atletnya dibandingkat empat daerah lainnya yang masuk peringkat lima besar. Hanya sebanyak 289 atlet. Mereka terjun dalam 39 cabang olahraga (cabor).
Hal itu membuat, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Kediri punya catatan khusus. Yaitu menjadi daerah yang paling efisien dan efektif.
Ketua KONI Kota Kediri Eko Agus Koko mengatakan salah satu rahasia keberhasilan dalam meraih prestasi tersebut adalah program pemusatan latihan kota (puslatkot). Di Kota Kediri, program puslatkot ini berlangsung dalam jangka panjang. Tidak hanya dilakukan ketika mendekati kejuaraan.
"Atlet-atlet yang kemarin dapat medali langsung kami masukkan puslatkot. Jadi kami ikat langsung," kata pria yang akrab disapa Koko itu.
Berbicara mengenai puslatkot, Ketua KONI yang juga mantan atlet angkat besi itu membeberkan bahwa puslatkot membutuhkan anggaran yang lumayan besar. Pasalnya, setiap atlet yang masuk dalam puslatkot ini akan mendapatkan uang pembinaan. Nominalnya saat ini Rp 1 juta.
Selanjutnya, bukan hanya atlet saja yang menerima uang puslatkot ini, pelatih pun begitu. Nominalnya sebesar Rp 1,3 juta setiap bulannya.
"Sekarang atlet yang masuk puslatkot ada sekitar dua ratus, tinggal mengalikan saja," tekan Koko.
Jika asumsinya ada 200 atlet yang masuk dalam program puslatkot maka anggaran yang dibutuhkan setiap bulannya adalah Rp 200 juta. Jika setahun maka kebutuhan anggarannya menjadi Rp 2,4 miliar.
Jumlah tersebut belum ditambahkan dengan uang puslatkot untuk para pelatih. Sehingga, Koko mengklaim jika pihaknya kembali mendapatkan anggaran Rp 4 miliar seperti 2024 lalu maka anggaran tersebut akan habis untuk puslatkot saja.
Padahal, di sisi lain, setiap cabor juga memerlukan anggaran tersendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Entah untuk biaya mengikuti kejuaraan atau untuk membeli peralatan dan perlengkapan latihan atlet. Belum lagi bila cabor tersebut berniat untuk menyelenggarakan kejuaraan.
"Tahun ini, karena ada porprov, anggaran untuk cabor hanya Rp 5 juta," aku Koko.
Melihat angka tersebut, tentu saja cabor harus nombok. Tak ayal setiap cabor yang hendak menggelar kegiatan kejuaraan harus pintar-pintar untuk mencari pendanaan sendiri. Entah itu dari sponsor, menarik biaya pendaftaran, dan sebagainya.
"Seperti finswimming kemarin. Untuk sewa tempat saja butuh Rp 12 juta untuk dua hari. Ya mau nggak mau mereka harus bisa cari dana sendiri, kalau mengandalkan dana cabor yang nggak bisa," ungkapnya.
Oleh karenanya, Koko merasa Pemerintah Kota (Pemkot) Kota Kediri perlu memberikan perhatian khusus dalam dunia olahraga. Pasalnya, prestasi atlet Kota Tahu sudah tidak bisa disepelekan lagi. Terbukti dari posisi Kota Kediri yang belum pernah keluar dari peringkat lima besar.
"Jadi sekarang KONI juga deg-degan dapat anggaran berapa tahun 2026 nanti," aku Koko.
Kegelisahan Koko tersebut tidak muncul begitu saja. Pasalnya, pihaknya memiliki agenda besar untuk menggelar Pekan Olahraga Kota (Porkot) di tahun depan. Jika aggaran untuk KONI hanya Rp 4 miliar maka tentu saja anggaran itu tidak bisa digunakan untuk menggelar kejuaraan tersebut.
"Jadi di porkot itu kami akan menyeleksi atlet-atlet terbaik Kota Kediri. Terutama untuk cabor yang beregu seperti voli, basket, dan lain-lain Mbak. Kalau ternyata hanya dapat Rp 4 miliar lagi, ya kami akan usahakan waktu PAK (Perubahan Anggaran Keuangan) nanti," tegasnya.(*)
Kota Kediri di Porprov dari Tahun ke Tahun
2007 Peringkat 3 (9 emas, 3 perak, 7 perunggu)
2009 Peringkat 4 (8 emas, 8 perak, 14 perunggu)
2011 Peringkat 3 (31 emas, 34 perak, 31 perunggu)
2013 Peringkat 3 (36 emas, 29 perak, 24 perunggu)
2015 Peringkat 3 (32 emas, 37 perak, 45 perunggu)
2019 Peringkat 2 (60 emas, 44 perak, 49 perunggu)
2022 Peringkat 5 (57 emas, 27 perak, 53 perunggu)
2023 Peringkat 4 (56 emas, 37 perak, 56 perunggu)
2025 Peringkat 4 (69 emas, 53 perak, 53 perunggu)
Editor : Mahfud