Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus : Belenggu Game Online, Rimba Maya Keseruan yang Melenakan (2)

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 16 November 2025 | 18:41 WIB
Photo
Photo

Kecanduan Bisa Berujung Gangguan Mental

 

Tak sekadar kehilangan empati dan uring-uringan, kecanduan game online bisa membawa dampak yang lebih serius lagi. Yakni rawan terkena gangguan mental.

Psikiater RS Bhayangkara Kediri dr Roni Subagyo SpKJ (K) mengatakan, bermain game bisa memunculkan dopamin.

Hormon ini yang memunculkan rasa senang, menggembirakan, dan nyaman. Hal inilah yang dalam jangka panjang menimbulkan adiksi atau kecanduan.

Game ini juga seperti narkoba karena bikin candu. Bermain game ini membuat anak merasa senang,” kata Roni.

Pada kondisi tertentu, lanjut Roni, perasaan senang ini tidak bisa dikendalikan. Sebab, pikiran anak akan tetap fokus pada permainan.

Akibatnya, pemain game bisa lalai pada semua hal. Termasuk pada kewajiban seperti makan, mandi, ibadah, belajar, sekolah, dan lainnya.

Kecanduan game akan berdampak pada gangguan emosi. Anak jadi mudah marah atau tersinggung saat diganggu kenikmatannya.

Hal tersebut jika dibiarkan bisa berujung pada gangguan mental atau kejiwaan. “Seperti timbul rasa kegelisahan, kecemasan ataupun depresi,” lanjutnya terkait perilaku anak yang awalnya tidak mau sekolah, diingatkan marah, hingga perilaku impulsif dan agresif lainnya.

Diakui Roni, tidak sedikit pasien yang berobat padanya akibat kecanduan game online. Keluhan mereka sama.

Anak tidak mau menurut saat diingatkan akan kewajiban-kewajibannya. “Baru-baru ini ada satu (pasien). Anak SD nggak mau sekolah sampai tiga bulan (karena game online,” tuturnya memberi contoh.

Penanganan pasien yang kecanduan game online menurut Roni tak ubahnya penanganan pasien ketergantungan narkoba.

Keduanya sama-sama sulit. Sama-sama mengalami ketergantungan psikologisnya. “Ada suatu keinginan terus menerus tanpa memperdulikan akibatnya untuk melakukan lagi,” urainya.

Bagaimana cara menanganinya? Menurut Roni anak harus dipaksa berhenti bermain game. Selanjutnya, mencegah mereka untuk memainkannya lagi. Caranya bisa dengan mengalihkan perhatian lewat kegiatan positif.

“Dengan teman atau siapapun yang biasa bermain juga harus berhenti kontaknya. Kalau tetap kontak akan bangkit dan melakukan itu lagi (bermain game),” tandasnya.

Selebihnya, anak atau remaja yang kecanduan game harus mengikuti sesi konseling atau psikoterapi. Adapun yang sudah telanjurr parah harus minum obat peningkat dopamin.

“Karena saat main ini kan tinggi dopamin, saat berhenti jadi rendah dopaminnya. Agar tidak gelisah untuk kembali bermain, diganti kesenangan psikologisnya dengan obat yang meningkatkan dopamin,” paparnya.

Tak hanya gangguan psikologis, sering bermain game online juga dapat menyebabkan gangguan motorik.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Kediri dr Bambang Triyono Putro bermain game online, di satu sisi dapat meningkatkan koordinasi antara mata dan tangan.

Namun, di sisi lain juga dapat menurunkan kemampuan motorik secara umum.

Sebab, pemain game oline akan diam di tempat dalam waktu lama ”Seperti kelelahan dan nyeri otot akibat gerakan sama terus menerus dan berulang-ulang,” jelasnya.

Beberapa anggota tubuh yang terdampak seperti jari dan pergelangan tangan. Selebihnya, mereka juga rawan mengalami nyeri di tulang belakang.

“Untuk mengobati harus membatasi penggunaan gadget,” pintanya. (muhamad asad muhamiyus sidqi/ut)

 

 

Editor : Mahfud
#game online #kecanduan #gangguan mental