Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus : Belenggu Game Online, Rimba Maya Keseruan yang Melenakan (1)

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 16 November 2025 | 18:42 WIB

Photo
Photo

Empati Hilang, Hobinya Uring-uringan

Masih adakah anak-anak yang tidak memainkan game online? Mayoritas sudah akrab dengan permainan di gawai itu sejak bangku TK. Jika awalnya hanya dianggap hiburan, belakangan akses tanpa kontrol berbuah kecanduan yang mengancam masa depan.

Panggil saja dia Rifki. Mata bocah kelas II SMP itu tidak lepas dari gawainya. Beberapa kali dia berteriak. Kakinya tersentak.

Kemudian, tiba-tiba saja tangannya memukul ke udara diikuti gerakan melempar ponsel ke kasurnya.

Respons Rifki saat memainkan game Free Fire siang itu memang aneh-aneh. Game bergenre tembak-tembakan beregu bisa membuatnya teriak gembira.

Namun, beberapa saat kemudian bisa berubah langsung emosi hingga mengumpat saat regunya kalah.

“Sudah kebiasaan,” sahutnya enteng saat ditanya tentang alasannya yang beberapa kali mengumpat saat sedang bermain.

Game online tak ubahnya ‘sahabat’ bagi Rifki. Praktis dia hanya meninggalkan aktivitas nge-game saat berada di sekolah.

Sepulang sekolah, dia langsung bermain game di kamar. Jika tidak demikian, dia memilih bermain game online di rumah temannya.

“Selain Free Fire, kadang juga main Mobile Legends,” lanjut Rifki tentang dua jenis game yang sering dimainkannya.

Saking asyiknya bermain game hingga malam hari, dia mengakui jika sering lupa mengerjakan pekerjaan rumah (PR).

Ada dorongan kuat yang membuat pemuda asal Kecamatan Mojoroto ini untuk terus bermain game.

Di Free Fire, dia terobsesi untuk mengejar rangking. Karena itu, dia harus terus bermain dan terus menang.

Baca Juga: Dampak Dolanan yang Kian Terlupakan, Kebersamaan Menurun, Ketidakpedulian Justru Meningkat

Tak hanya digemari pelajar SMP, game Mobile Legends dan Free Fire juga digemari siswa SD. Seperti diakui Tomi, bukan nama sebenarnya, yang mengaku sering memainkan Mobile Legends bersama teman-temannya.

Bocah berusia tujuh tahun itu mengaku sudah sering bermain game online sejak usia enam tahun.

Bahkan, partner-nya tidak melulu anak-anak. Melainkan juga dengan remaja berusia belasan tahun.

“Kalau tidak main, rasanya seperti gimana gitu,” aku siswa salah satu SD di Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri itu.

Tomi memang begitu menyukai game online. Makanya, begitu ponsel digenggamannya diminta sang ibu, dia langsung uring-uringan.

Anak yang awalnya terlihat manis itu mendadak langsung berteriak keras. Kakinya beberapa kali menghentak ke lantai sebagai tanda protes.

Mulutnya cemberut. Beberapa saat kemudian dia langsung menangis dengan keras.

Jika Tomi menangis keras saat aktivitas bermain game-nya dihentikan, Rafi, 15 (bukan nama sebenarnya), bisa leluasa bermain game. Siswa kelas IX SMP itu bisa bermain sampai 10 jam setiap harinya.

Selain keseruan di game, dia berdalih sekaligus berlatih agar bisa menang saat mengikuti lomba. Lalu, kapan waktunya belajar? Dengan santainya Rafi mengaku baru belajar jika ada ujian saja.

“Nilai aman. Paling lupa waktu makan dan mandi,” sahutnya enteng sambil tertawa.

Meski game dianggap banyak dampak negatifnya, pemuda yang bercita-cita menjadi polisi dan tentara ini berkelakar bisa berlatih menembak menggunakan banyak senjata canggih lewat game.

Dengan kepiawaiannya itu, Rafi yakin bisa membantu tahap seleksi nanti. 

Sementara itu, banyaknya anak-anak yang kecanduan game online membuat orang tua kelimpungan.

Rahma, 34, mengaku memberi ponsel untuk menghibur anaknya. Tak dinyana, keputusannya itu membawa sang anak pada kecanduan game online.

“Disuruh lepas HP sulit. Main game terus. Suruh belajar juga sulit,” keluhnya. Tidak hanya susah belajar, anak Rahma juga susah diajak untuk berkomunikasi.

Selebihnya, anaknya jadi gampang emosi. “Sampek jibek (putus asa) ngomongi,” gerutunya.

Senada dengan Rahma, Ayu, 28, juga sangat sedih melihat anaknya uring-uringan saat tak diberi izin bermain game.

“Kalau sehari tidak bermain game, langsung marah-marah. Disuruh membantu pekerjaan rumah tangga sulitnya minta ampun,” urainya.

Yang membuat Rahma ketakutan, belakangan anaknya juga menjadi antisosial. Terbiasa bermain game sendiri, anaknya yang duduk di bangku SD itu kesulitan bermain dengan temannya.

Keresahan yang sama juga dirasakan oleh Ayu, 45. Dia mengeluhkan sikap anaknya yang temperamental.

Kini dia baru menyadari jika keputusannya mengenalkan gadget di usia dini adalah kesalahan besar.

“Sekarang usianya 15 tahun, sudah sulit dinasihati,” sesal perempuan yang sering mendengar kata-kata kotor dari mulut anaknya itu.

Vivi Rosdiana, psikolog anak Kediri membenarkan tentang perilaku anak-anak yang kesulitan bersosialisasi itu.

Menurutnya, lebih dari 50 persen pecandu game terganggu aktivitas kesehariannya. “Kalau di persentasekan, lebih dari lima puluh persen activity daily life hancur. Tidur kurang, makan tidak teratur, mandi pun ikut terabaikan,” tutur perempuan yang akrab disapa Vivi itu.

Hal tersebut menurut Vivi terjadi karena beberapa alasan. Salah satunya karena terlalu asyik bermain game hingga kegiatan lainnya terabaikan. Bahkan, rasa laparnya hilang tergantikan serunya bermain.

          Anak-anak yang kecanduan game, menurut Vivi cenderung tidak mempedulikan kondisi di sekitarnya. Bahkan, terkadang rasa empati kepada orang lain ikut hilang.

 

“Mereka yang kecanduan bermain game biasanya karena tertarik dengan apresiasi yang diberikan.

Tak heran bagi mereka yang haus apresiasi merasa cukup ketika sudah bermain game,” imbuhnya.

Yang lebih berbahaya menurut Vivi adalah saat orang tua tidak mengambil peran. Anak-anak yang sudah kecanduan game ini bisa mencari tempat yang lebih menghargainya. Yaitu game dan orang-orang yang memiliki hobi sama.

Diakui Vivi, dampak game yang paling buruk adalah emosi anak menjadi tidak stabil.

“Sering tantrum, sorot mata tidak fokus, tidak betah untuk duduk, dan tak mau menatap orang tua. Bahkan mereka bisa sampai harus berhubungan dengan psikiater,” tandasnya meminta orang tua tidak menormalisasi kebiasaan anak-anak yang menggunakan mayoritas waktunya bermain game. 

 Dampak Buruk Kecanduan Game Online :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Mahfud
#game online #kecanduan