Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ironi Nasib Mayor Bismo, Gagah Usir Penjajah, Gugur Dibantai Bangsa Sendiri

Ayu Ismawati • Senin, 10 November 2025 | 18:05 WIB

 

Ilustrasi pejuang asal Kota Kediri Mayor Bismo.
Ilustrasi pejuang asal Kota Kediri Mayor Bismo.

Pengamat Sosial Prof Suko Susilo menyoal tentang sisi tragis perjalanan kepahlawanan Bismo. Meski berhasil memimpin pengusiran Jepang yang menjajah bangsanya, Bismo justru gugur dibantai bangsanya sendiri.

Guru Besar Universitas Tribakti Lirboyo itu mengulas kembali jejak heroisme Bismo. Dimulai dari 19 Agustus 1945 saat para tokoh pemuda melakukan pertemuan di Taman Siswa.

“Pokok pikiran yang muncul dari pertemuan itu intinya adalah harus segera dilakukan pelucutan senjata bala tentara Jepang,” ungkap Suko tentang ihwal kiprah Bismo.

Setelah kesepakatan berbuah bulatnya tekad mengusir Jepang, maka Bismo yang saat itu masih berpangkat kapten, dan Kapten Roestamadji memimpin pengepungan markas tentara Jepang pada malam hari. Jejak kepahlawanan Bismo tak berhenti di situ. Dia dikenal punya karir militer yang terus menanjak.

Termasuk saat Bismo memimpin Batalyon Sandi Yudha yang merupakan bagian dari Brigade S di Divisi 1 Brawijaya. Brigade S merupakan brigade terbesar dari total tiga brigade di Divisi 1 Brawijaya. Divisi 1 Brawijaya merupakan cikal bakal Kodam V Brawijaya.

“Dua tahun setelah peristiwa heroik di Kediri, Kapten Bismo dipindahtugaskan ke Madiun. Tanggal 18 September 1948 meletus Pemberontakan PKI Madiun pimpinan Muso,” tuturnya.

Dari peristiwa itu, Bismo bersama beberapa prajurit lainnya ditangkap PKI dan ditahan. Hingga mereka dibawa ke Dungus, Madiun. Di sana—lanjut Suko—Bismo dibantai dengan cara diberondong tembakan. Setelah gugur, Bismo dinaikkan pangkatnya menjadi mayor.

“Mengingat perjuangan dan pengorbanan beliau, rasanya memang layak jika diusulkan jadi pahlawan nasional,” tandas Suko.

Terpisah, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kediri Ashari menyebut akan jadi kebanggaan bagi daerah jika memiliki tokoh pahlawan yang diakui masyarakat secara luas. Karenanya, jika Bismo dianggap memenuhi kriteria dan layak ditetapkan sebagai pahlawan nasional, menurutnya sudah sewajibnya daerah memperjuangkan itu.

Selama ini, upaya pemerintah mengangkat nama Bismo dilakukan melalui monumen patung dan nama jalan. Ashari menilai, adanya simbol-simbol di ruang publik itu tidak cukup untuk mengenalkan Bismo kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Baca Juga: Tanah dan Debu Proyek Kotori Jl Mayor Bismo Kota Kediri, Dinas PUPR Minta Pekerjaan Dihentikan Gara-gara Ini

“Tentunya tidak sebatas itu. Anak-anak kita di sekolah juga harus tahu bagaimana perjuangan beliau,” terang Ashari sembari menyebut anak-anak harus mendapat pengetahuan tentang nilai perjuangan dan patriotisme Mayor Bismo. Bukan sekadar mengetahui patungnya saja.

Politisi Partai Demokrat itu juga mendorong adanya edukasi tentang sejarah lokal Kediri kepada pelajar. Dia mencontohkan, napak tilas untuk mengenang jejak sejarah perjuangan Bismo. Sehingga, pengetahuan masyarakat tentang sosok Bismo tak hanya sebatas simbol-simbol yang ada saja.

“Itu yang harus kita dorong sebagai bentuk apresiasi. Agar pengetahuan anak-anak kita tidak terputus. Kalau ada simbol tapi mereka nggak mengerti siapa beliau, apa perjuangan beliau, ya, apa gunanya?” pungkasnya dengan nada tanya. (*)

 

Editor : Mahfud
#Pki madiun #kodam v brawijaya #Mayor Bismo #pahlawan #taman siswa #muso