Petugas dapur di Yayasan Bina Insani Kediri mempersiapkan menu makan siang untuk siswa sekolah tersebut.
Wali Murid Terlibat, Siswa Bisa Makan Sepuasnya
Sekolah-sekolah ini sudah menerapkan pemberian makan siang sejak lama. Jauh sebelum program MBG muncul. Bisa jadi contoh bagi pemerintah karena tak pernah ada persoalan seperti kasus keracunan.
Dapur ini milik Yayasan Bina Insani Kediri. Berada di salah satu sudut sekolah. Selalu terisi dengan lalu-lalang orang. Mulai yang sibuk menggoreng makanan hingga menata buah dalam kontainer berukuran sedang.
Sejak pagi para pegawai dapur terlihat sibuk. Mengejar waktu agar semua makanan tertata sebelum pukul 11.00. Dan bisa dibagikan begitu memasuki jam makan siang.
Sekolah milik Yayasan Bina Insani Kediri merupakan salah satu sekolah yang punya program makan siang. Jauh sebelum ada program makan bergizi gratis (MBG) dari pemerintah saat ini. Bahkan sudah ada sejak didirikan pada 1998 silam. Maklum, metode pengajaran di sekolah ini memang full day school. Belajar mengajar berlangsung pagi hingga sore hari.
“Kegiatan makan siang ini juga ada pembelajarannya. Mengajari anak-anak budaya antre, menjaga kebersihan, kebersamaan, dan banyak lagi. Juga, kalau mau makan berdoa dulu,” ucap Sekretaris Yayasan Bina Insani Kediri Triman Sholekhan.
Awalnya, awalnya program makan siang dibantu wali murid. Kini, sekolah mengelola sendiri. Baik persiapan bahan, pengolahan di dapur, hingga penyajian. Sehari, porsi yang disiapkan mencapai 1.200.
Pernahkah ada masalah? Menurut Triman sejauh ini tidak pernah terjadi masalah, terutama kasus keracunan. Menurutnya, aspek pengawasan dan evaluai sangat diperhatikan.
“Kami ada quality control juga, ada SOP-nya. Misal ada masalah langsung cari tahu letak permasalahannya di mana,” urai Triman.
Memang, Triman mengakui mengurusi makan siang untuk murid sebanyak itu memang rumit. Beberapa kali evaluasi pun terjadi. Termasuk mengubah mekanismse yang sudah ada. Semuanya bertujuan agar tercipta tata kelola yang baik. Termasuk menghimpun masukan dari murid dan wali murid untuk pilihan menu.
Ketika program MBG muncul, sekolah ini juga beberapa kali disurvei. Menjadi salah satu sekolah penerima manfaat. Namun, pihak yayasan mempertimbangkan bersama wali murid. Hasilnya, mayoritas wali murid tetap ingin program makan siang dari sekolah terus berlangsung. Dan mempersilakan agar program MBG diberikan ke sekolah lain.
“Tapi apakah Bina Insani tidak akan mengambil terus? Itu nanti akan dibicarakan berikutnya. Termasuk dengan wali murid karena keputusan juga kami ambil bersama,” pungkasnya.
Hal serupa juga terjadi di Islamic International School Pesantren Sabilil Muttaqien (IIS PSM). Sekolah dengan sistem full day school ini juga punya program makan siang sebelum ada MBG.
“Makan siang memang karena untuk kebutuhan anak. Karena memang full day dari pagi sampai sore,” jelas Kepala SD IIS PSM Adi Yunanto.
Program makan siang di sekolah ini tentu saja tak gratis. Ada biaya yang sudah disepakati bersama dengan orang tua.
“Sebulan Rp 250 ribu. Kalau dihitung perharinya Rp 11 ribu sampai Rp 12 ribu,” jelasnya ditemui Jumat (10/10) sore.
Ada dua kali pemberian makanan di sekolah ini. Pertama, saat jam istirahat pertama, pukul 10.00. Yang diberikan jajanan atau buah. Kemudian, pemberian nasi di jam istirahat kedua, pukul 12.30. Menu yang diberikan bervariasi.
“Setiap hari berganti. Yang jelas harus gizi lengkap. Sayur dan protein,” jelasnya.
Awalnya, pengelolaan program ini dikerjakan oleh pihak sekolah. Dengan memberdayakan wali murid. Namun, dalam perkembangannya, mereka pun menunjuk rekanan. Yang kebetulan juga anak-anaknya pernah bersekolah di tempat ini.
Di IIS PSM Kediri, ada juga yang boarding atau berasrama. Untuk yang kelompok ini makannya tiga kali. Pagi dan malam di asrama. Sedangkan makan siang di sekolah.
Hingga saat ini tak ada keluhan yang berarti. Juga tak pernah ada kejadian seperti keracunan makanan. Kuncinya, menurut Adi, adalah peran aktif wali murid. Mereka mengawasi makanan yang diberikan. Setiap minggu ada listing makanan yang akan disajikan. Jika ada yang tidak setuju bisa memberikan usulan.
“Siswa setiap tiga bulan sekali juga melakukan rapat. Salah satunya juga membahas terkait menu yang ada,” jelasnya.
Bagaimana dengan MBG? Adi mengaku tidak bisa langsung menolak, ataupun menerimanya. Menurutnya, pihak sekolah masih harus mendiskusikannya dengan para orang tua.
“Karena ini sekolah swasta ya. Jadi tergantung kesepakatan orang tua. Kalau memang orang tua menolak ya kami turuti, kalau menerima kami turuti,” jelasnya.
Namun, karena banyaknya kasus keracunan akibat MBG, dia merasa khawatir. Karenanya, dia berpendapat akan lebih aman jika yang mengelola langsung sekolah masing-masing. Karena sekolah yang tahu bagaimana kondisi para siswa.
Sekolah yang juga menerapkan makan siang sendiri adalah SD NU Insan Cendekia Ngadiluwih. Di sekolah yang berada di tepi Jl Raya Kediri-Tulungagung itu juga sudah menerapkan program makan siang sejak awal berdiri.
“Sejak pertama berdiri tahun 2013,” jelas Kepala Tata Usaha (TU) SD NU Insan Cendikia Ngadiluwih Aryuni, sembari menjelaskan bahwa di sini juga menerapkan full day school.
Di sekoalh ini peran orang tua juga besar. Mereka aktif mengawasi pelaksanaan program. Juga memberikan masukan yang konstruktif.
“Wali muridnya kan beragam ya, ada yang guru, dari puskesmas dan macam-macam. Jadi mereka juga tahu makanan yang baik untuk anak-anak. Dan memang selalu memberikan masukan-masukan,” jelas perempuan yang akrab disapa Yuni itu.
Untuk biaya, Rp 9 ribu per hari. Yang bisa mengkover makanan bergizi dan kue.
“Hitungnya per hari tapi dibayar per bulan. Namun kalau libur tidak membayar. Jadi bayarnya sesuai masuk,” jelasnya sembari menyebut total siswa ada 532 anak.
Biaya itu juga untuk mengkover 55 anak yatim yang juga bersekolah di tempat ini. Itu pun para siswa juga masih bisa ambil tambah jika merasa kurang.
“Kan ada anak yang memang makannya banyak, jadi mereka bisa. Makan sampai berkali-kali. dan memang cukup untuk mencover itu,” jelasnya sembari menyebut bahwa dapur dikelola oleh sekolahan. Dimasak langsung di dapur sekolah di hari itu juga.
Kontrol makanan juga ketat. Pihak puskesmas rutin mengecek. Juga oleh orang tua.
Soal program MBG, seperti dua sekolah yang disebut sebelumnya, Yuni mengaku tak bisa serta merta memutuskan. Selain khawatir siswa kaget karena tak bisa makan sepuasnya, mereka juga perlu berkonsultasi dengan orang tua. “Tergantung dari wali murid seperti apa nanti kesepakaannya,” kilahnya. (ayu isma/m. asad muhamiyus sidqi/fud)