Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus Hari Tani Nasional, Krisis Regenerasi Petani Ancam Swasembada Pangan

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Rabu, 24 September 2025 | 13:45 WIB
Ilustrasi tantangan di Hari Tani.
Ilustrasi tantangan di Hari Tani.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Menambah luas lahan pertanian saja tak cukup untuk menyukseskan swasembada pangan.

Pekerjaan rumah (PR) mendesak yang harus segera diselesaikan adalah ancaman krisis tenaga pertanian.

Anak muda enggan menjadi petani karena pekerjaan yang identik dengan lumpur dan kotor itu dianggap tidak bergengsi. Bahkan sarjana pertanian pun enggan bercocok tanam.

Bekerja di balik meja dan menatap layar laptop kini menjadi rutinitas Nadia, 32. Sarjana Agribisnis; program studi gabungan ilmu pertanian dan niaga itu memang tidak terjun di bidang pertanian.

Dia justru mengambil karir yang tidak linier. Yakni, menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu lembaga negara.

Bagi Nadia, keputusannya kuliah di jurusan pertanian memang tak serta merta karena ingin menjadi petani.

Justru, sejak awal dia tidak ingin menjadi petani selepas lulus kuliah. Sebab, impiannya memang menjadi pekerja kantoran.

“Dari awal aku masuk pertanian bukan karena ingin jadi petani. Karena kalau di kampus sendiri mereka memberi pengertian kalau kuliah di pertanian itu nggak melulu harus di lapangan. Tapi bisa jadi petani yang modern yang bisa di bidang lainnya yang berhubungan dengan pertanian. Atau bisa juga seperti aku di bidang sosial ekonomi. Bisa masuk bank juga,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya menjadi petani juga tak bisa menjamin kesejahteraannya. Meski, seiring waktu Nadia mengetahui ada banyak potensi pertanian yang bisa dikembangkan dan membutuhkan peran anak muda.

“Terutama dalam penggunaan teknologi. Karena pada dasarnya bertani tidak melulu perkara menanam tanaman di sawah. Tapi bagaimana hasil pertanian itu dapat memiliki nilai tambah,” ungkap Nadia.

“Bahkan beberapa komoditas pertanian kalau telaten, bisa diekspor dan nilai jualnya bisa tinggi,” sambungnya sembari menyebut, inovasi pertanian yang diterapkan anak-anak muda juga bisa menghapus stigma petani yang hanya bisa menanam padi dan jagung saja.

Selain Nadia yang merupakan sarjana pertanian, anak muda Kediri yang lahir dan dibesarkan oleh keluarga petani juga tidak mau meneruskan pekerjaan orang tua mereka itu.

“Antara kerja dengan hasilnya (uang) tak seberapa,” kata Rudi Cahyo, salah satu pemuda asal Pare.

Pria berusia 27 tahun itu lebih memilih bekerja sebagai pengajar dan freelance desain grafis. Meski orang tuanya petani, dia tidak tertarik untuk mewarisi pekerjaan leluhurnya itu.

Apalagi, orang tuanya juga meminta Rudi untuk mencari pekerjaan yang lebih baik dari mereka.

“Orang tua memang tidak ingin saya jadi petani. Diminta sekolah saja,” lanjut pria kelahiran tahun 1998 silam.

Tumbuh di keluarga dan kerabat yang bertani, Rudi memang tidak melihat hal menggiurkan yang memikatnya untuk mau bercocok tanam. Yang dilihat justru kesulitan para petani.

Misalnya, saat panen mereka mendapat hasil tak seberapa karena harganya murah. Kemudian, saat menanam orang tuanya juga harus kesulitan mencari pupuk bersubsidi.

“Belum lagi kalau karena faktor cuaca akhirnya panenan tidak sesuai dengan harapan,” paparnya tentang suka duka orang tuanya dalam bertani.

Senada dengan Rudi, Mochamad Febrian Reonaldo juga tidak mau melanjutkan pekerjaan orang tuanya bertani.

Pemuda berusia 22 tahun itu memilih bekerja di perusahaan swasta. Job-nya sebagai petugas administrasi membuatnya lebih nyaman.

“Meski di beberapa sektor pertanian juga sudah menggunakan teknologi, tetapi tetap saja belum cukup canggih untuk membuat Gen Z merasa nyaman dan berminat,” katanya sembari menyebut bekerja sebagai petani kesannya terlalu keras karena berkubang dengan lumpur dan terik matahari.

Langkah Febrian untuk tidak menjadi petani lebih mantap lagi karena orang tuanya juga mendukung. Mereka meminta agar Febrian mencari pekerjaan lain yang lebih ringan.

“Orang tua mengambil garis besar lebih baik menjual tanah sawahnya untuk memodali anaknya menjadi pegawai negeri karena masa depannya lebih terjamin,” terangnya sembari menyebut tantangan petani bukan hanya lahan pertanian yang sempit, tapi juga cuaca buruk dan gagal panen.

Meski mayoritas Gen Z tidak mau bertani, masih saja ada pemuda yang tertarik untuk bercocok tanam.

Misalnya, Harun Pasahadi, warga Desa Nambakan, Kecamatan Ringinrejo. Laki-laki kelahiran 2000 itu sudah bertani sejak 2020 lalu.

Jika mayoritas pemuda beranggapan bertani itu kotor dan pendapatan minim, baginya justru memberi keleluasaan untuk berinovasi dan mandiri.

“Tidak ada aturan baku di pertanian. Tidak ada bosnya yang menekan,” ungkap pria berusia 25 tahun itu tentang alasannya bertani.

Hanya saja, seperti pekerjaan lain, diakuinya jika petani juga harus kreatif. Misalnya, saat kekurangan modal harus mau mencari alternatif lain. Sehingga, mereka tetap bisa survive.

Gen Z yang akrab dengan teknologi menurut Harun juga lebih memudahkan dalam bertani. Sebab, mereka bisa mengadaptasikan teknologi di pertanian.

“Mencari informasi bertani sekarang juga jauh lebih mudah,” terang pria yang belajar bertani dari media sosial itu.

Terlepas dari itu, diakuinya jika bidang pertanian memang banyak tantangan. Salah satu yang tidak bisa dikendalikan adalah cuaca dan regulasi pertanian yang terus berubah.

“Seperti regulasi pupuk subsidi yang gonta-ganti dan menyusahkan. Ribet. Selain itu pupuk subsidi juga sangat dibatasi,” keluhnya meminta para penyuluh pertanian memaksimalkan edukasi untuk petani.

Untuk diketahui, berdasar data Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan), di Kabupaten Kediri ada 160.586 orang yang bertani.

Dari jumlah itu, sebanyak 137.868 orang berusia 40 tahun ke atas alias generasi tua. Hanya 22.718 orang saja yang berusia 19-40 tahun atau tergolong muda. Persentasenya 14,4 persen.

Hal yang sama juga terjadi di Kota Kediri. Sesuai data Sensus Pertanian 2023 lalu, sedikitnya ada 4.972 petani di Kota Kediri. Dari usianya, mayoritas mereka berusia 45 tahun ke atas. Persentasenya 77,11 persen.

Selanjutnya, petani dengan usia di bawah 25 tahun hanya kurang dari dua persen. Misalnya, hanya ada 32 petani berusia 15-25 tahun.

Kemudian, usia 25-34 tahun hanya ada 251 orang. Khusus petani milenial atau mereka yang berusia 19-39 tahun hanya ada 596 orang.

Jika tidak ada kebijakan regenerasi yang pas, 30 tahun ke depan Kabupaten dan Kota Kediri akan menghadapi krisis tenaga petani.

Dua daerah yang menjadi lumbung pangan nasional ini pun akan kesulitan merealisasikan swasembada pangan yang digalakkan oleh Pemerintah Pusat.

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#petani #hari tani #swasembada pangan