Kasus HIV/AIDS banyak ditemui di usia produktif, 25-29 tahun. Memunculkan kemungkinan penularan sudah terjadi saat usia remaja. Gaya bergaul yang kian liar menjadi sebab terbanyak.
Seruan terperanjat sontak terdengar dari aula SMP Negeri 5 Kota Kediri. Keluar dari mulut ratusan siswa yang saat itu mendengarkan penjelasan dari tenaga kesehatan. Penjelasan tentang jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno-Deficiency Syndrom (HIV/AIDS), salah satu virus dan penyakit yang sangat mematikan.
“Baiyyuuuh….!!” bunyi seruan kaget dari para siswa itu.
Wajar bila remaja-remaja itu heran dan kaget. Sebab, tenaga kesehatan yang tengah berbicara di depan mereka menyodorkan fakta besar. Ada dua ribu lebih kasus HIV/AIDS di Kota Kediri tahun lalu.
Meskipun sebagian datang dari warga luar kota yang terdeteksi di fasilitas kesehatan Kota Kediri, tak mengurangi pesan yang disampaikan bahwa penyakit ini sangat berbahaya. Sangat perlu diwaspadai dan diantisipasi sejak dini.
Berdasarkan data tersebut, mayoritas penderita HIV/AIDS merupakan orang-orang dalam rentang usia 25-29 tahun. Usia yang dilabeli sebagai usia produktif dalam kehidupan sosial-masyarakat di Indonesia.
“Padahal, perjalanan virus ini berkisar 3 - 10 tahun,” ucap pemateri.
“Kalau dia diketahui menderita AIDS di usia 20an, berarti kemungkinan tertular HIV di usia remaja seperti kalian,” lanjut sang pemateri.
Fakta itu membangunkan kesadaran para remaja tersebut. Tentang perlunya pencegahan dini. Terutama menghindari hal-hal yang rentan menjadi sarana penularan.
“Kayaknya penularan paling banyak lewat hubungan seksual deh,” ucap Lailita, 15, salah satu siswi.
Perkataan Lailita tak salah. Bahkan, langsung mengaitkan pada fenomena pergaulan bebas yang marak di kalangan remaja saat ini. Fakta yang juga dibenarkan oleh data-data teranyar.
Kozin, pengelola Program Yayasan Redline Indonesia Kota Kediri tak menampik potensi penularan HIV yang sudah dimulai sejak usia remaja. Dia mengatakan, kasus HIV pada anak usia sekolah mayoritas dipicu faktor pergaulan bebas. Yakni, perilaku seksual berisiko yang dapat menularkan HIV. Meskipun ada pula beberapa yang menderita HIV/AIDS karena tertular dari ibu saat proses kehamilan maupun persalinan.
Mengapa dia menilai seperti itu? Salah satu bukti konkret adalah sudah banyaknya ditemui anak-anak usia sekolah yang bergabung dengan circle populasi kunci. Di antaranya seperti grup lelaki seks lelaki (LSL) atau homoseksual di media sosial.
“Kasusnya untuk kelompok LSL atau gay ini sebenarnya sudah mulai ada yang usia-usianya masih muda. Seperti usia SMA,” ungkapnya.
Dengan mulai banyaknya anak-anak usia sekolah yang terjerumus dalam pergaulan bebas, Kozin menyoal kembali peran orang tua. Menurutnya, orang tua harus berperan aktif mengawasi pergaulan anak. Salah satunya di media sosial yang kerap kali lepas dari pengawasan.
“Di usia mereka ini seharusnya masih fokus belajar. Tapi ternyata banyak juga anggota yang di grup itu (grup komunitas LSL di Facebook, Red) yang masih usia remaja,” tandasnya.
Selain itu, edukasi seksual dan pencegahan HIV juga harus dimulai sedini mungkin. Hanya saja, komunitas yang bergerak di bidang pendampingan kasus HIV/AIDS itu kerap menghadapi kendala. Salah satunya dipicu stigma terhadap edukasi seksual dan HIV yang dianggap masih tabu di masyarakat.
“Yang agak riskan di kami ketika petugas lapangan kami tahu bahwa anak ini–yang statusnya kalau di bawah 18 tahun secara hukum masih anak–seksualnya aktif. Perilakunya juga berisiko. Di kami karena berorientasi pada kesehatan mereka, ya kami ajak mereka tes. Kalau memang positif, akses pengobatannya bisa lebih dini diberikan,” kata Kozin.
Namun, secara prosedural, anak di bawah usia 18 tahun harus didampingi wali atau orang tua. Sedangkan anak cenderung tidak bisa terbuka dengan orang tua jika berkaitan dengan hal-hal privat seperti perilaku seksual.
“Akhirnya kami biasanya diskusi dengan pengelola program HIV di puskesmas, ini gimana, dites nggak? Karena dia perilakunya berisiko. Biasanya kami (petugas pendamping di lapangan, Red) akhirnya mengambil risiko dengan menjadi walinya,” bebernya.
Prinsip kerja komunitas dan petugas kesehatan adalah menjangkau sasaran agar mau mengikuti tes. Jika terbukti positif HIV, akses pengobatan bisa segera diberikan. Dengan demikian, rantai penularan pun bisa diputus.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Kediri juga berupaya menekan penularan HIV di masyarakat. Salah satunya dengan memberikan pemahaman tentang edukasi seksual dan pencegahan HIV sedini mungkin. Perluasan edukasi itu di antaranya dimulai sejak anak-anak duduk di bangku SMP.
“Berdasar temuan di dinkes (dinas kesehatan) dan komunitas, disinyalir ada kenaikan kasus HIV pada anak usia sekolah. Maka kami antisipasi untuk mencegah dengan gerak cepat mensosialisasikan dan memberikan edukasi ke anak-anak,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri M. Anang Kurniawan.
Selama sepekan lalu, dinas pendidikan mengadakan penyuluhan kepada pelajar di seluruh SMP negeri. Selanjutnya, edukasi serupa akan bertahap dilakukan di sekolah-sekolah lain. Baik negeri maupun swasta.
“Nanti akan bertahap ke SMP swasta juga. Dan ini juga upaya kami menjaga anak-anak generasi penerus dari pengaruh pergaulan bebas saat ini,” tandas Anang. (*)
Editor : Mahfud