Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Eksklusif!Liputan Khusus Mengurai Penyebab Kemacetan di Simpang Empat Veteran (2)

Hilda Nurmala Risani • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 17:00 WIB
Pelajar yang berangkat sekolah menggunakan sepeda motor melintas di area simpang empat Veteran
Pelajar yang berangkat sekolah menggunakan sepeda motor melintas di area simpang empat Veteran

Berangkat Mepet Waktu demi Pacu Adrenalin

Kemacetan lalu lintas yang belakang viral di sosial media ternyata memiliki banyak cerita unik. Ada yang memang sengaja datang mepet waktu untuk memacu adrenalin. Ada juga yang jadi korban kemacetan. Tak jarang mereka terpaksa putar balik ke rumah.

“Saya berangkat dari rumah pukul 6.15. Sekolah masuk pukul 7.00. Prediksinya sih bisa tepat waktu,” tutur Zer. Sekolah pelajar berusia 19 tahun ini berada di Jalan Veteran, Kota Kediri. 

Menurutnya, waktu berangkat dari rumah hingga tiba ke sekolah sudah di prediksi dengan baik. Rumahnya ada di Kecamatan Ngadiluwih. Jika tidak ada kemacetan atau kendala di jalan, hanya membutuhkan waktu 30 menit. 

Zer berdalih tidak suka berangkat lebih awal karena menunggu masuk jam pelajaran terlalu lama. Dia lebih senang ketika tiba di sekolah bersamaan dengan bunyi bel masuk.

“Tidak tahu ya tapi saya lebih suka memacu adrenalin. Kalau berangkat terlalu awal itu sampai sekolah masih sepi jadi malas,” kilah pelajar pria ini. 

Alasan serupa juga dikatakan Din, 18. Siswa kelas XI itu mengaku jika berangkat ke sekolah selalu mepet waktu. Dia merasa jarak tempat tinggal ke sekolahnya dekat.

“Ya kalau saya ke sekolah cuma membutuhkan waktu 10 menit. Tapi biasanya kena macet di sini (simpang empat Veteran, Red). Durasi terjebak macetnya bisa sampai 5 menit,” ungkapnya.

Din mengaku tidak bisa berangkat lebih awal karena menunggu orang tuanya menyelesaikan  pekerjaan rumah terlebih dahulu. Seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. 

Kenapa tidak berangkat ke sekolah sendiri? Sejujurnya Din mengaku ingin mandiri. Sayangnya, orang tuanya belum tega jika melihat dia mengendarai sepeda motor sendiri. 

“Banyak ketakutan yang membuat orang tua saya tidak memperbolehkan membawa motor. Takut anaknya kecelakaan katanya,” ujar perempuan asal Kecamatan Mojoroto itu. 

Di lain sisi, salah satu wali murid mengaku jika dia sudah mengestimasi waktu kebarangkatan anaknya sebaik mungkin. Hanya saja seringkali dia menjumpai pengendara yang kurang memiliki kesadaran dalam berlalu lintas. Sehingga mengakibatkan kemacetan.

“Saya itu kalau mengantar anak ke sekolah jamnya sudah sesuai. Tapi gara-gara pengendara yang menerobos lampu merah dan diikuti yang lain jadi kacau,” dalih Fera.

Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya petugas kepolisian yang mengatur arus lalu lintas. “Setidaknya kalau ada polisi pengendara jadi sungkan mau melanggar aturan,” tandas perempuan asal Kecamatan Mojoroto.

Keberadaan masyarakat yang sering melanggar aturan ini berdampak banyak. Selain meresahkan pengguna jalan yang sudah tertib juga mengakibatkan pekerja terpaksa putar balik ke rumah.

“Saya kerja sebagai kurir paket. Kalau terlambat 15 menit saja sudah diambil alih oleh yang lain,” beber Rif, selaku kurir paket.

Akibat kemacetan lalu lintas kemarin target pengantaran paketnya jadi berkurang. Yang sebelumnya dia bisa mengantar 20 paket setiap harinya.

“Kemarin (karena lalu lintas macet) ya cuma bisa mengantar 10 sampai 12 saja,” ujarnya.

Kenapa tidak berangkat lebih awal? Rif mengaku sudah berangkat lebih awal di hari-hari tertentu. Misalnya di Senin. Namun usahanya gagal karena lagi dan lagi pengendara yang tidak tertib aturan. 

“Ya, harapannya sesama pengendara bisa saling menjaga. Begitupun pihak kepolisian. Saya yakin kalau semua menjalankan kewajibannya tidak ada lagi kemacetan,” harapnya, sembari memungkasi obrolan. (hilda nurmala risani/fud)

Editor : Mahfud
#macet #Mepe Kasur #jalan veteran