“Permainan tradisional ini sarat makna dan nilai karakter. Seperti tanggung jawab, kreativitas, kebersamaan hingga kelincahan. Semakin ke sini permainannya hilang, nilai karakternya pun ikut luntur.”
Ida Sulistyowati
Pegiat Seni Omah Panji
Kemajuan teknologi memberi dampak luar biasa bagi kehidupan manusia. Ada positif, tapi juga menyertakan hal negatif. Porsinya pun bisa sama besar. Bergantung dari cara penggunaan.
“Permainan tradisional ini sarat makna dan nilai karakter. Seperti tanggung jawab, kreativitas, kebersamaan hingga kelincahan. Semakin ke sini permainannya hilang, nilai karakternya pun ikut luntur,” jelas Ida Sulistyowati, pegiat seni Omah Panji.
Situasi seperti ini ibaratnya menjadi pedang bermata dua. Bisa berakibat positif tapi sekaligus membawa dampak negatif. Canggihnya teknologi membuat siswa semakin modern.
Tetapi, bagi mereka yang memiliki sikap individual, tentu canggihnya teknologi ini membuatnya semakin anti-sosial. Karena semuanya bisa didapatkan di handphone tanpa harus berkomunikasi dengan orang lain.
“Adanya handphone ini merubah tatanan sosial anak-anak. Yang seharusnya dunianya bermain dan berinteraksi dengan orang lain justru yang terjadi sebaliknya. Mereka lebih memilih bermain handphone seharian daripada bermain bersama teman sebaya,” beber perempuan asal Kecamatan Mojoroto itu.
Ida menyebut, kunci dari perkembangan teknologi yang sebenarnya adalah mampu memanfaatkan sesuai dengan porsi dan perannya. Misalkan YouTube dan TikTok pun bisa membantu para orang tua dalam memperkenalkan budaya lokal kepada anaknya.
Namun, bila tidak hati-hati, kemudahan teknologi itu bisa menghilangkan permainan dan budaya tradisional. Dia mengambil contoh, anak-anak saat ini berlomba-lomba memahami cara bermain Squid Game. Dibandingkan permainan gobak sodor yang dari daerahnya sendiri.
“Waktu Apeksi bertemu anak-anak mereka lebih fasih bermain game di handphone tetapi kaku ketika memainkan permainan tradisional secara langsung. Ini yang membahayakan takutnya permainan tradisonal semakin terancam eksistensinya,” ingatnya.
Jika fenomena seperti ini dibiarkan, maka yang terjadi adalah keberadaan permainan tradisional semakin terancam. Pemiliknya seolah tidak peduli untuk merawat dan melestarikan. Tetapi nanti ketika diklaim negara lain baru bersuara karena merasa kepemilikannya diambil alih.
Pernyataan serupa disampaikan oleh Anggota Komisi C DPRD Kota Kediri Ashari. Dia mengatakan, memang benar permainan tradisional ini membentuk nilai karakter pada masing-masing individu yang tidak bisa digantikan oleh permainan di handphone.
“Zaman saya kecil dulu setiap permainan punya nilai karakternya. Misal lompat tali menguji kelincahan pemain, bongkar pasang menguji kreativitas, petak umpet menguji keberanian,” bebernya satu per satu.
Ashari pun menyayangkan ketika melihat fenomena anak-anak yang tidak tahu permainan tradisional. Padahal ini termasuk pengetahuan dasar yang wajib dimiliki.
Jika anak-anak ini tidak bisa cara mainnya masih masuk akal. Setidaknya mereka masih mengerti. Tapi realitanya selain tidak bisa cara mainnya ternyata mereka juga tidak tahu jenisnya.
"Ini perlu jadi perhatian khusus. Sebab jika tidak segera diatasi yang terjadi adalah generai muda semakin asing dengan budayanya sendiri," terang lelaki berbadan tegap itu
Ke depan Ashari akan mendorong budaya lokal termasuk permainan tradisional, cerita sejarah, dan tarian masuk ke dalam kurikulum sekolah. Itu agar ada rasa ketertarikan siswa mempelajari budaya lokalnya.
"Meskipun awalnya terpaksa tidak apa-apa. Yang penting mereka jadi mau belajar dan memahami budayanya," tandasnya.
Ashari pun menyebut, permainan tradisional yang masuk dalam kurikulum ini tidak membutuhkan biaya yang banyak. Sebab bisa memanfaatkan bahan alam.
"Paling tidak tahun depan permainan tradisional ini sudah bisa masuk kurikulum sekolah," janjinya. (*)
Editor : Mahfud