Mulai 14 Juli lalu, MBG di Kota Kediri mulai menyasar kelompok rentan, bumil, busui, dan baduta. Tujuannya, memenuhi gizi ke masyarakat yang lebih luas. Terutama kelompok masyarakat 3B itu, bumil, busui, dan baduta.
Program ini memang belum sepenuhnya menyasar ke semua sasaran yang ada. Dari total 2.500 jiwa penduduk berkategori 3B, program MBG baru bisa menjangkau 1.176 orang saja. Salah satu faktornya adalah keterbatasan dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).
“Itu jumlah yang bisa dilayani oleh tiga dapur,” terang Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Kediri Arief Cholisudin.
“Kalau semua sasaran, setidaknya butuh enam dapur untuk semuanya bisa tercover,” lanjutnya.
Penyaluran MBG untuk kelompok 3B jelas beda bila dibandingkan penyaluran program serupa bagi pelajar. Distribusinya tidak tiap hari. Melainkan dua kali dalam seminggu.
Setiap kali pengiriman berupa satu paket makanan siap santap untuk hari itu. Ditambah paket-paket makanan kering untuk dua hari berikutnya.
Jenis makanan yang disalurkan bervariasi. Roti, susu, telur, hingga pisang.
Cholis mengakui, tanggapan masyarakat terhadap program ini sangat bervariasi. Alasan itu membuatnya rutin menggelar pertemuan dengan penerima manfaat. Setidaknya satu bulan sekali. Agar fungsi pengawasan dan evaluasi juga melibatkan penerima manfaat.
“Jadi, satu bulan sekali itu kami berkumpul dan makan bersama. Sembari bertanya, kurang apa? Jadi sekalian kami evaluasi. Karena banyak juga yang komplain kurang asin atau segala macam,” ungkapnya.
Sebagai mitra di daerah, pemkot juga bertugas melakukan pengawasan. Termasuk melalui tim pendamping keluarga (TPK) yang ditugaskan membantu penyaluran MBG untuk kelompok 3B.
“Mereka tidak hanya mengantarkan paket makanan saja. Tetapi juga membantu memastikan makanan itu benar-benar dikonsumsi,” tandasnya.
Dalam pelaksanaannya, program nasional itu dikolaborasikan dengan program daerah yang sudah berjalan. Sebagai upaya percepatan penuntasan stunting, Pemkot Kediri mengolaborasikan berbagai elemen melalui pendekatan pentahelix.
Cholis membeberkan, upaya penanganan stunting tidak hanya dengan menyasar anak-anak stunting saja. Jauh sebelum itu, kelahiran anak stunting mulai dicegah sejak masa sebelum kehamilan.
“Perlibatan kami itu dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Seperti apa upaya-upaya yang dapat kita lakukan untuk pencegahan stunting. Utamanya terkait pola asuh, pola hidup, sejak orang mau menikah yang harus dipastikan siap segalanya,” ungkapnya.
Salah satunya, memastikan calon orang tua siap dari sisi usia. Pemkot bergerak mencegah pernikahan dini.
Bagi calon pengantin, didorong memeriksakan kesehatan sebelum menikah. Para kader yang tergabung dalam TPK menjadi kepanjangan tangan.
Pendampingan bagi calon pengantin itu juga dilakukan untuk mencegah kelahiran-kelahiran anak stunting. Sebab, salah satu langkah yang dirasa optimal mengatasi stunting justru dimulai sejak anak belum lahir.
Di Kota Kediri, sedikitnya ada 663 kader TPK. Mereka meliputi pembantu pembina keluarga berencana kelurahan (PPKBK) atau kader KB, bidan, dan tim penggerak pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga (TP PKK).
Menanamkan pemahaman tentang membangun keluarga yang berkualitas juga dimulai sejak remaja. Salah satunya dengan edukasi yang menyasar pelajar usia SMP dan SMA dengan melibatkan kader Generasi Berencana (GenRE).
“Pendampingan di lingkup wilayah juga kami lakukan. Salah satunya lewat kader PPKBK yang bersinergi dengan dinas kesehatan membantu pelayanan di posyandu,” imbuhnya.
Hingga pendampingan bagi orang tua lanjut usia pun juga dilaksanakan. Sebab, tak jarang orang tua lanjut usia masih merawat bayi hingga anak-anak. Dengan demikian, pola asuh yang diberikan orang tua lanjut usia tetap bisa sejalan dengan semangat menuntaskan stunting di Kota Kediri.
“Supaya kalau anak atau cucu ini gizinya tidak tercukupi atau pola makannya kurang benar, si kakek atau neneknya ini tahu. Ini juga dalam upaya kami memastikan asupan gizi anak tercukupi. Khususnya untuk anak-anak rawan stunting yang mungkin dalam pengasuhan orang tua lanjut usia,” urai Cholis.
Upaya menuntaskan stunting itu menurutnya juga berdampak signifikan pada penurunan angka kasus anak yang pertumbuhannya lambat itu. Data yang dihimpun koran ini dari satudata.kedirikota.go.id, selama 2024 terjadi penurunan prevalensi balita stunting.
Pada tahun 2024, prevalensi stunting Kota Kediri sebesar 4,9 persen atau 699 balita menderita stunting. Angka itu turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 771 balita atau 6,9 prevalensi stunting selama 2023. Ditarik ke belakang, selama 2020 sampai 2024, prevalensi stunting Kota Kediri juga mengalami tren penurunan. Yakni, dengan jumlah penurunan balita stunting mencapai 910 balita. (ayu ismawati/fud)
Editor : Mahfud