Minim Atraksi, Kawah Jadi Satu-satunya Daya Tarik
Pandemi Covid-19 sudah teratasi tahun 2022 lalu. Namun, wisata Gunung Kelud yang menjadi andalan Kabupaten Kediri belum bergairah kembali. Atraksi yang minim hingga fasilitas yang masih seadanya, membuat kecantikan salah satu gunung aktif di Jawa Timur itu belum banyak menarik minat pengunjung.
Setiap hari Sabtu atau Minggu, memang masih ada ratusan pengunjung yang menghabiskan waktu di area kawah Gunung Kelud. Namun, jumlah itu turun separo lebih dibanding sebelum Pandemi Covid-19 atau sebelum erupsi tahun 2014 silam.
“Sekarang setiap Sabtu atau Minggu sekitar 800-900 pengunjung,” ungkap Bagus Budiono, warga Desa Sugihwaras, Ngancar, yang setiap hari menjadi tukang ojek di area wisata Gunung Kelud.
Jumlah itu, menurutnya susut separo dibanding sebelum pandemi Covid-19 yang pengunjungnya mencapai ribuan orang di akhir pekan. Yakni bisa mencapai 1.500 orang per hari yang menggunakan jasa ojek untuk melihat keindahan kawah Kelud.
Turunnya jumlah pengunjung, turut membuat pendapatan sekitar 100 tukang ojek di sana merosot. Sebelum pandemi Covid-19, dia bisa mengantar 14-15 orang per hari. Adapun saat ini paling banyak hanya mengantar delapan orang di akhir pekan atau saat ramai pengunjung.
Dipotong ongkos bensin, makan, dan rokok, saat ini dia hanya bisa membawa pulang uang untuk istrinya Rp 50 ribu. Adapun dulu dia bisa menyisihkan sampai Rp 150 ribu per hari.
“Jalan menanjak otomatis boros bensin. Satu liter habis untuk dua kali pulang-pergi,” lanjut Bagus tentang biaya yang harus dikeluarkan saat mengantar penumpang.
Tak hanya tukang ojek, para pemilik warung di area wisata Gunung Kelud juga mengeluhkan turunnya pendapatan mereka. Elvi Agustina, ketua PKL Gunung Kelud menyebut omzet pedagang terus merosot. “Dari hari ke hari terus menurun. Apalagi setelah Covid,” keluhnya.
Sebelum pandemi, perempuan berusia 49 tahun itu mengaku bisa mendapat omzet hingga Rp 1 juta. Namun, setelah pandemi tinggal separo. Bahkan, sekarang tinggal sekitar Rp 300 ribu per hari karena jumlah pengunjung sedikit.
Terkait belum pulihnya kunjungan di Gunung Kelud, Elvi dan Bagus kompak mengatakan jika hal itu karena saat ini belum ada daya tarik lebih di sana. “Karena ya hanya gitu-gitu saja. Hanya ada kawah Kelud daya tariknya. Akhirnya sekali datang ya sudah,” sambung Bagus lagi.
Sebelum Kelud meletus, menurutnya di sana ada area pemandian air panas. Banyak pengunjung yang naik untuk bisa merasakan sensasi mandi air panas di sana. Di atas juga ada semacam pendapa kecil untuk pengunjung berteduh. “Sekarang ini toilet saja tidak ada di puncak Kelud,” papar pria berusia 30 tahun itu.
Untuk menarik minat masyarakat berkunjung ke Kelud, Bagus meminta agar akses ke pemandian air panas Kelud dibuka lagi. Dia juga meminta pemerintah daerah menambah wahana di puncak Kelud. Sehingga, pengunjung memiliki banyak alternatif tempat untuk berwisata.
“Banyak pengunjung yang kecele. Mereka pikir bisa mandi di air panas Kelud. Kadung bawa baju ganti ternyata tidak bisa turun karena akses jalannya tidak ada,” kenang Bagus.
Senada dengan Bagus, Elvi juga meminta agar ada banyak acara untuk meramaikan Kelud. Sehingga, pengunjung tertarik untuk datang dan berwisata.
“Bagaimana caranya agar Kelud ramai seperti dulu. Bukan bapak-bapak saja yang mengandalkan penghasilan dari Gunung Kelud, tapi ibu-ibu juga banyak mencari nafkah di sini,” tutur perempuan yang juga warga Desa Sugihwaras itu.
Untuk diketahui, selain menjadi tumpuan pendapatan bagi ratusan tukang ojek, para pemilik warung, hingga penjual nanas yang setiap hari mangkal di puncak Kelud, wisata di ujung timur wilayah Kediri itu memiliki multiplier effect yang besar untuk masyarakat di Kecamatan Ngancar.
Banyak usaha masyarakat yang bergantung dari geliat wisata Kelud. Mulai homestay, UMKM pembuat oleh-oleh, dan para pemilik toko di sepanjang jalan menuju Kelud yang transaksinya bergantung pada ramainya pengunjung di sana. Belum pulihnya jumlah pengunjung Kelud pasca-pandemi juga membuat pendapatan mereka ikut merosot. (*)
Editor : Mahfud