Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Investasi ‘Kampung Inggris’ Berujung Laporan Polisi

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Sabtu, 5 Juli 2025 | 16:00 WIB
Ilustrasi penipuan investasi kampung inggris
Ilustrasi penipuan investasi kampung inggris

 

Kampung Inggris memang jadi brand Pare, Kabupaten Kediri. Namun, banyak yang berusaha memanfaatkan dengan menawarkan investasi membentuk kampung sejenis di berbagai daerah. Tapi, hati-hati, karena ada yang berujung laporan polisi.

 -----------------------

Syahroni menunjukkan selembar kertas. Berkop Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Jawa Tengah Resor Pemalang. Lengkap dengan logo Polri di bagian atas.

Di surat bernomor B/148/V/RES.1.11/2025/Reskrim itu berperihal permintaan klarifikasi. Alamat yang dituju surat itu adalah salah satu rumah di perumahan Devilla Residence Pare, Kabupaten Kediri. Kepadanya tertulis Mekel Budi Sugiarto.

Surat itu tindak lanjut dari laporan pengaduan yang dilakukan Syahroni ke Polres Pemalang, Jawa Tengah. Tentang dugaan tindak pidana penipuan atau penggelapan. Warga Pemalang tersebut memang melaporkan Mekel, yang semula rekan bisnisnya itu, ke polisi.

“Janji-janji yang disampaikan tak dipenuhi. Akhirnya saya laporkan ke polisi,” kata pria 38 tahun ini. 

Kisah ini bermula ketika Syahroni dan Mekel terlibat dalam rencana investasi yang bernama Satu Juta Kampung Inggris Indonesia. Lembaga ini menawarkan investasi untuk membuka kampung-kampung Inggris di daerah-daerah seperti yang telah ada di Pare, Kabupaten Kediri. Founder lembaga itu adalah Mekel Sugiarto.

Roni -sapaan Syahroni- tertarik. Dia melihat background founder-nya yang dari Pare. Kemudian, iklan yang ditampilkan di media sosial sangat meyakinkan. Selain ada tokoh Kampung Inggris Pare juga ada juga dosennya saat kuliah di Kediri.

“Saya juga dulu pernah belajar di Kampung Inggris (Pare, Kabupaten Kediri),” ucap Roni, menyebut faktor yang kian memantik hasratnya berinvestasi.

Singkat kata, karena yakin, Roni merogoh kocek senilai Rp 325 juta. Digunakan  untuk menjalankan bisnis tersebut. Membuka ‘Kampung Inggris’ di Pemalang, Jawa Tengah.  

“Aslinya (nilai investasinya) Rp 350 juta tapi dapat potongan Rp 25 juta,” terangnya.

Belum setahun berjalan, pada September 2024, bisnis yang dijalankan mulai tersendat. Menurut keterangan Roni, gaji karyawan tidak pernah dibayar. Lalu paket program study tour juga tidak sesuai dengan kesepakatan. Bonus untuk sekolah juga tidak direalisasikan.

Sebagai rekan bisnis, Roni mengaku telah mengatakan semua persoalan itu ke Mekel. Sayangnya, masih berdasar keterangannya, Mekel tidak merespon.

Justru yang terjadi rekan bisnisnya itu  menghilang tanpa jejak. Membuat Roni sempat kelimpungan mencari. Termasuk mendatangi rumahnya di Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Tapi, yang dicari tak ada di rumah.

Merasa tidak ada itikad baik, Roni telah melaporkan tindakan Mekel ke pihak berwajib. Surat yang dia tunjukkan itu adalah pemanggilan pada Mekel untuk kedua kalinya, pada 2 Juni 2025. Sebelumnya polisi juga sudah memanggil di kesempatan pertama, yaitu pada 3 Mei  2025. Hanya saja, saat itu Mekel tidak memenuhi panggilan Polres Pemalang.

Kapolres Pemalang AKBP Eko Sunaryo membenarkan soal laporan polisi oleh Roni tersebut. “Untuk kasus tersebut sudah ditangani oleh Unit II Satreskrim,” ucap sang kapolres dalam balasan konfirmasi melalui WhatsApp yang diterima Jawa Pos Radar Kediri.

Jawa Pos Radar Kediri mencoba menghubungi Mekel. Sayang, nomor yang tercantum di website Satu Juta Kampung Inggris sudah tidak aktif.

Untuk mendapatkan konfirmasi tentang apa yang sebenarnya terjadi, Jawa Pos Radar Kediri mendatangi rumahnya. Namun, laki - laki 45 tahun ini juga gagal ditemui.

Ketika didatangi di rumahnya, di De Villa Residence, Desa Pelem, Kecamatan Pare, yang dicari tidak ada. Bahkan, kediamannya terlihat sepi saat itu. Hanya ada anak laki-laki yang menemui.

“(Mekel) tidak ada di rumah. Sudah lama nggak ketemu soalnya saya mondok,” ucap remaja yang mengatakan sebagai anak dari Mekel  tersebut.

Saat itu Kevin sendirian. Sang ibu juga tengah keluar rumah. Namun, dia bersedia menghubungkan Jawa Pos Radar Kediri dengan ibunya yang bernama Triasih.

Melalui telepon itulah istri Mekel tersebut mengatakan tidak tahu menahu soal suaminya yang dilaporkan ke polisi. Dia juga tidak tahu masalah apa yang menjerat suaminya itu.

“Saya tidak tahu Mbak,” tegasnya di ujung telepon.

Sriasih mengatakan bahwa dia terakhir bertemu dengan suaminya satu bulan yang lalu. Sepengetahuannya posisi Mekel saat ini di Jakarta.

“Pulangnya tidak pasti, kadang tiga bulan sekali kadang empat bulan sekali, “ kata Triasih.

Sementara itu, Ayub petugas pengamanan di  perumahan tersebut mengatakan terakhir melihat Mekel satu bulan yang lalu. Namun, hanya terlihat sebentar kemudian pergi lagi.

“Setiap pulang selalu sebentar terus pergi lagi,” ujar Ayub.

Mekel tinggal di perumahan ini sejak empat tahun lalu, di masa awal beroperasinya perumahan. Setelah itu dia membeli satu rumah tapi berbeda blok untuk dijadikan kursusan.

Ayub mengatakan les-lesan itu terakhir beroperasi satu tahun yang lalu. Seelah jumlah siswanya terus menurun sejak Pandemi Covid-19.

“Yang saya dengar Pak Mekel ini terkena masalah utang-piutang, karena ada pihak bank yang sering mencarinya ke rumah,” imbuhnya.

Persoalan itulah yang membuat rumah Mekel tidak hanya sekali atau dua kali didatangi pihak bank. Bahkan ada yang sampai membawa personel kepolisian.

Masih menurut Ayub, ketika bertemu dirinya Mekel sempat bercerita bahwa beberapa utang-piutang tersebut sudah dia selesaikan. Saat itu Mekel juga meminta doa karena sedang membuka usaha dari awal. Namun Ayub tak tahu jenis usaha apa yang dimaksud oleh Mekel. (*)

Editor : Mahfud
#kampung inggris #pare kediri #polisi #investasi