Dulu, buku disebut sebagai jendela dunia. Sekarang, kalah dengan kecepatan dan kemudahan yang ditawarkan oleh internet. Tapi, ada beberapa hal yang hanya bisa diberikan buku, tidak oleh teknologi digital.
JP Radar Kediri- Buku-buku pelajaran memang masih digunakan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Banjaran 2 Kota Kediri. Di tiap kelasnya juga masih berdiri rak-rak kayu. Mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Berada di sudut ruangan. Lengkap dengan deretan buku di setiap alasnya.
“Ada pojok baca di setiap kelas,” tunjuk Imam, salah seorang guru di sekolah tersebut.
Pantas bila rak di sudut ruang itu dinamakan pojok baca. Tujuannya memang agar anak-anak bisa melakukan aktivitas itu, membaca. Karena itulah koleksi yang dipajang tak cuma buku pelajaran. Juga ada buku bacaan alias buku cerita.
Tapi, di setiap kelas juga ada perangkat proyektor (LCD). Digunakan para guru untuk menyorotkan materi pembelajaran ke layar di bagian depan kelas. Menampilkan video atau gambar yang diambil dari kanal-kanal YouTube atau lainnya di internet.
Tentu saja kehadiran perangkat tersebut, berikut dengan internet, mulai menyisihkan peran buku. Para guru, seperti halnya Imam, menggunakan kemajuan teknologi itu guna memberikan materi pada para muridnya. Meskipun belum semua mata pelajaran memanfaatkannya.
“Hanya untuk materi-materi tertentu saja,” sebut guru kelas empat tersebut.
Contohnya, saat Imam butuh mengenalkan nama-nama pahlawan dalam mata pelajaran Pancasila. Menggunakan gambar membuat siswa lebih tertarik. Meskipun tetap ada plus dan minusnya.
Misalnya, ketika dia meminta murid-muridnya mencatat materi yang ditunjukkan di layar LCD. Karena kecepatan menulis setiap anak berbeda, setiap kali ganti slide, selalu saja ada yang protes.
"Lha nanti yang nulisnya cepat, efeknya ramai. Pasti nanti ngobrol dengan temannya. Ya walaupun gitu guru pasti punya cara untuk mengatasinya," bebernya.
Menurutnya, setiap anak memiliki kecepatan menangkap materi yang berbeda-beda. Pun dengan cara yang berbeda. Ada yang suka pembelajaran melalui buku. Tapi juga ada yang lebih suka mendapatkan penjelasan melalui video atau gambar.
Saat memberikan materi yang bersumber dari internet, guru memiliki tugas tambahan untuk memilah konten yang cocok. "Jadi misal mengenalkan pahlawan. Kadang saya mute (audio dimatikan, Red). Terkadang isinya kurang pas. Jadi saya tampilkan gambarnya saja terus saya jelaskan sendiri ke anak-anak," dalih Imam.
Tapi, Imam juga masih berupaya menanamkan budaya membaca buku. Biasanya, dia meminta anak-anak di kelasnya untuk membaca buku yang ada di pojok baca. Saat pembelajaran dimulai, Imam akan melakukan sedikit tanya jawab terkait buku yang sudah dibaca.
"Biasanya juga saya minta bikin rangkuman. Terus saya suruh presentasi di kelas," tandasnya.
Serupa tapi tak sama, pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi berbasis digital juga diterapkan di SMP Negeri 2 Mojo. Terkadang, pada pelajaran-pelajaran tertentu, guru membuat kuis yang memperbolehkan siswa menggunakan gawai.
"Kadang kan anak bosan ya kalau dikasih ceramah terus. Jadi ada game atau kuis begitu. Biasanya nanti guru mengirim link, lalu anak-anak main game di situ. Soalnya anak-anak sukanya yang model-model seperti itu," ungkap Ayu, guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Mojo.
Kendati demikian, dia menekankan bahwa buku masih menjadi jujukan untuk pembelajaran di kelas. Terutama untuk pelajaran seperti matematika, fisika, dan lainnya. Hanya saja, tantangannya adalah pada saat meminta siswa menggarap tugas. Baik yang harus dikerjakan di kelas maupun di rumah.
"Sekarang itu kalau ada soal, tinggal di foto aja. Cari di Google nanti muncul jawabannya," cerita Ayu, sembari menyebut penggunaan gawai baru diperbolehkan seizin guru pengajar.
Dia menilai bahwa ada sebuah proses belajar yang hilang saat internet masuk. Ayu mencontohkan pelajaran Bahasa Jawa. Dulunya, referensi utama yang paling terkenal adalah buku Pepak. Namun, saat dia menanyakan ke murid-muridnya, ternyata banyak yang tidak mengetahui buku Pepak.
"Yang hilang itu prosesnya. Proses dalam mencari, mengetahui," lanjutnya.
Menariknya, sebagian besar guru akan mudah mengetahui karakter siswa yang mengerjakan soal dengan bantuan internet. Cirinya sangat gampang. Yakni jawabannya seragam. Mirisnya, proses instan yang ditempuh oleh siswa ini memiliki dampak tersendiri dalam kemampuan pemecahan masalah.
"Misalnya membuat laporan observasi dengan menyertakan gambar pada langkah-langkahnya. Anak-anak ini nanya, saya punyanya video, gambarnya bagaimana. Nah padahal kan tinggal video tersebut di screnshoot. Tapi anak-anak sudah bingung," bebernya.
Meski begitu, pembelajaran berbasis digital tidak bisa dikesampingkan. Pasalnya, dunia pendidikan harus mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Bagi Ayu, pembelajaran di era digital adalah sebuah pelengkap.
"Untuk meningkatkan literasi sendiri ada jadwal untuk belajar di perpustakaan. Lalu ada mengaji setiap pagi sebelum pembelajaran sekolah dimulai. Ada pula mading sekolah yang harus diisi oleh setiap kelas sesuai jadwal tertentu," tandasnya. (*)
Editor : Jauhar Yohanis