Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Efek Kecanduan Medsos, Yang Pintar Kian Pandai, Yang Malas Makin Bodoh, Kok Bisa?

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 9 Juni 2025 | 15:00 WIB

Ilustrasi anak-anak yang kecanduan gawai dan bermain medsos.
Ilustrasi anak-anak yang kecanduan gawai dan bermain medsos.
 

Kemajuan teknologi memberi dampak luar biasa bagi dunia pendidikan. Ada positif, tapi juga menyertakan hal negatif. Porsinya pun bisa sama besar. Bergantung dari cara penggunaan.

“Sekarang beda dengan dulu. Dulu, kalau ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab ya membaca dari satu buku ke buku lain. Sampai bisa dan menemukan jawabannya. Sekarang, tanpa harus membaca tinggal ngomong atau ngetik di HP  sudah muncul jawabannya,” jelas Misriati, pensiunan guru.

Situasi seperti ini ibaratnya menjadi pedang bermata dua. Bisa berakibat positif tapi sekaligus membawa dampak negatif. Canggihnya teknologi membuat siswa pintar semakin pandai. Mampu memanfaatkan sesuai porsinya.

Tetapi, bagi yang malas dan mau instannya saja, tentu membuatnya semakin sulit berpikir. Karena hanya tahu hasil tanpa mengerti prosesnya.

“Adanya Chat GPT itu membuat siswa malas membaca buku. Lebih mengandalkan jawaban dari AI yang belum tentu benar,” sebut Aprilia Ayu Puspitasari. 

Aprilia mengatakan, kuncinya adalah mampu memanfaatkan teknologi dengan porsinya. Tidak kecanduan yang justru jadi boomerang. Misal, YouTube dan Tiktok pun bisa membantu para guru dalam menyajikan materi kepada murid.

Namun, bila tidak hati-hati, keberadaan medsos itu bisa menghilangkan seni dan budaya tradisional. Dia mengambil contoh, setiap pentas seni saat ini seperti jadi ajang berjoget ala Gerakan TikTok. Jarang yang menampilkan tarian tradisional.

“Kemarin saja waktu perpisahan anak-anak lebih memilih tampil dengan lagu JKT 48. Ini yang membahayakan takutnya tarian tradisonal semakin terancam eksistensinya,” ingatnya.

Waka Kurikulum SMPN 1 Ngasem Purwaningrum punya pendapat, murid zaman sekarang lebih tertarik pelajaran yang menggunakan teknologi. Karena itu di sekolahnya dibolehkan bawa HP. Tapi, hanya digunakan di waktu tertentu.

"Jika tidak, maka HP akan dikumpulkan dan dimasukkan ke loker," terangnya.

Karena itulah Mohamad Indra Kurniawan, guru SMAN 1 Pare, mencoba terobosan. Guru PPKN ini menyelipkan permainan seperti ular tangga ke dalam kegiatan belajar. Di setiap petaknya ada pertanyaan. Ketika menjawabnya salah, maka poin akan hilang.

Purwaningrum, waka Kesiswaan SMPN 1 Ngasem mengaku lebih mudah mengajar generasi lama dibanding sekarang. "Pola tangkap anak lebih baik dulu," akunya.

 

Sosmed Bisa Sebabkan Gangguan Jiwa

 

Psikolog RSUD Gambiran Kota Kediri Kristika Sadtyaruni mengingatkan, kecanduan gadged bisa merusak kesehatan mental anak. Bahkan bisa mengarah pada gangguan jiwa berat seperti orang dalam gangguan jiwa (ODGJ).

"Masalah mental satu kalau tidak diatasi bisa sebabkan gangguan mental lain dan bisa mengarah pada gangguan mental berat. Nah, kecanduan gadged ini bisa sebabkan masalah mental. Seperti bisa membuat fungsi interaksi relasi terganggu, dari situ bisa muncul gangguan emosi karena gak bisa mengelola emosinya. Itu juga  bisa jadi memicu perilaku agresif," jelasnya.

Sayangnya, masih menurut Kristika, banyak orang tua yang tidak tahu bahwa anak kecanduan gawai.  Sehingga kesadaran untuk berobat atau upaya pemulihan sangat minim.

Orang tua tidak tahu bisa jadi karena menormalisasi. Merasa bahwa anak yang bermain gawai itu adalah hal yang wajar. Selain itu, orang tua sendiri juga melakukan hal yang sama.

Mereka baru tahu dan melakukan pemeriksaan ketika dampaknya sudah parah. "Contoh, sudah tak mau sekolah. Muncul perilaku gangguan emosi. Kalau diambil HP-nya dia marah, dia banting. Orang tua baru memeriksakan ketika merasa tidak bisa menangani itu," jelasnya

Lantas bagaimana cara untuk menangani? Menurut Kristika, yang terpenting adalah komitmen orang tua. Yaitu dengan family therapy. Tidak hanya anak yang tidak boleh bermain gawai di waktu tertentu. Orang tua juga harus melakukan.

Orang tua juga harus menyempatkan waktu menemani anaknya bermain tanpa gawai. Luangkan waktu untuk anak. Bisa juga dengan mengikutkannya les yang menyenangkan.

"Sehingga di jam-jam semula anak main gadged, kita ganti dengan aktivitas menyenangkan," jelasnya.

Menurutnya, anak tetap harus diberi waktu bermain gadged. Karena saat ini memang tak bisa lepas dari hal itu. Yang terpenting adalah pengendalian.

Terkait dengan medsos, Kristika mengakui muatan yang ada memang menarik bila dibandingkan di buka atau yang disampaikan guru.

"Sehingga hal ini jadi tantangan bersama adalah agar tidak kalah kreatif. Sehingga bisa memberikan pembelajaran yang menarik serta interaktif," jelasnya. (hilda nurmala risani/muhamad asad m.s./fud)

 

Editor : Mahfud
#Merusak mental #kecanduan medsos