Namanya memang media sosial tapi faktanya justru mengarah ke anti-sosial. Mengubah perilaku sejak anak-anak. Hingga Mereduksi pola piker dan kecerdasan.
Kiki-sebut saja begitu-bocah usia delapan tahun. Masih duduk di kelas 1 salah satu sekolah dasar (SD) negeri di Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Namun demikian sudah seperti expert ketika diajak ngobrol tentang game online.
“Aku mainnya Ep Ep (Free Fire, Red), Mobile Legend, sama Roblox,” ucapnya sambil lalu. Saat mengucapkan itu, dia masih asyik dengan game Mobile Legend-nya.
Saat memainkan game-nya itu, mulut si bocah tak pernah berhenti bersuara. Menyebut berbagai macam anomali-tren visual di medsos yang menggambarkan wujud aneh, nyleneh namun lucu-, berbicara ngawur, hingga marah-marah tanpa sebab jelas.
“Aja ganggu, aku sek main mengko kalah (jangan ganggu, saya masih main nanti kalah, Red),” jawabnya kesal ketika ditanya sesuatu.
Barulah setelah ditunggu lima menit Kiki mau menyimpan gawainya. Bersedia menjawab pertanyaan yang dilontarkan Jawa Pos Radar Kediri.
Bocah yang hafal betul nama-nama anomaly-seperti Tung tung tung tung tung Sahur, Ballerina Cappucina, Bombardiro Crocodilo, hingga Boneca Ambalabu-lebih senang nge-game. Setidaknya bila dibandingkan harus berkumpul bersama temannya.
“Males aku dingge kalah-kalahan terus (malas saya dijadikan kalah-kalahan terus, Red),” dalih sang bocah.
Tak Hafal Sila-Sila dalam Pancasila
Tapi, kesukaan Kiki pada game dan medsos mahal harganya. Dia kesulitan ketika ditanya perihal Pelajaran sekolah. Baik pengetahuan umum maupun matematika.
Wartawan koran ini mencoba meminta dia menyelesaikan sepuluh soal penjumlahan yang sangat sederhana. Yang mampu dijawab hanya lima. Itupun dengan waktu menghitung yang lama.
Lebih parah lagi ketika ditanya soal Pancasila. Sang bocah tak tahu sila-sila dalam dasar negara itu.
“Pancasila ada lima tapi aku tidak hafal apa saja,” jawabnya.
Kiki bukan satu-satunya bocah yang lebih eksis di medsos daripada pelajaran sekolah. Ada sepuluh anak yang ditemui secara acak yang coba ditanya. Mereka berusia 8 sampai 16 tahun.
Hasilnya, mereka bisa menjawab pertanyaan terkait matematika meskipun butuh waktu lama. Namun, ketika dihadapkan pada pengetahuan umum, apalagi Sejarah, anak-anak itu sangat kesulitan.
“Lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Warna bendera kita merah putih. Presiden ketiga adalah Soeharto.”
Kutipan di atas adalah jawaban dari Rea, bocah 13 tahun siswa salah satu SMP di Kota Kediri. Terlihat yakin dan sangat percaya diri. Meskipun, jawabah terakhir salah.
Bukan itu saja, gadis ini juga kesulitan ketika sila-sila Pancasila serta kepanjangan dari BPUPKI dan PPKI.
“Ayo, coba kasih aku tebak-tebakan tren TikTok pasti menang. Semua yang viral aku tahu,” suluknya, sambil menunjukkan gerakan lagu Stecu-Stecu.
Ya, remaja seperti Rea lebih banyak menghabiskan waktu untuk scrolling medsos untuk hiburan dibanding searching materi belajar. Masa yang dia gunakan untuk nge-game dan scrolling TikTok bisa lima jam dalam sehari. Sementara untuk belajar paling banter cuma dua jam.
Hal serupa terjadi pada diri Al, siswa SMP di Kabupaten Kediri. Ketika ditanya tren medsos dia sangat hafal.
“Tentu tahu felocity,” aku gadis 15 tahun ini percaya diri.
Tapi, ketika ditanya siapa Presiden ketiga RI dia tak bisa menjawab. Pun saat disodori soal perkalian ringan, juga tak bisa diselesaikan.
Hal yang sama didapatkan pada diri An, pelajar asal Pagu, Kabupaten Kediri. Dia sangat fasih bercerita soal anomaly AI. Namun sangat kesulitan ketika diminta menyebutkan Presiden keempat RI serta menghitung perkalian sederhana.
"Karakter game Mobile Legend (ML) banyak yang hapal," imbuh Na, bocah kelas VII SMP di wilayah Kota Kediri. Namun, ketika menjawab pertanyaan pengetahuan dasar umum waktu menjawabnya sangat lama. (*)
Editor : Mahfud