Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ada Akun FB Gay Jaranan Kediri Nganjuk dan Sekitarnya, Jadi Ajang Mencari Teman Kencan Transaksional?

Ayu Ismawati • Minggu, 8 Juni 2025 | 15:11 WIB

 

Ilustrasi Akun Facebook yang diduga jadi sarana prostitusi terselubung.
Ilustrasi Akun Facebook yang diduga jadi sarana prostitusi terselubung.
JP Radaar Kediri- Akun Facebook ini terang-terangan menyebut sebagai akunnya kelompok gay. Postingannya pun banyak yang ‘menjurus’. Mencari pasangan kencan meskipun ditutupi dengan simbol-simbol tertentu.

Akun ini  mudah sekali ditemukan bila kita berselancar di Facebook. Sebab, statusnya adalah visible, alias semua orang bisa mengakses. Tanpa harus menunggu persetujuan dari admin.

Membersnya juga relatif besar. Bila masuk di profil akun bernama ‘Gay Jaranan Kediri Nganjuk dan Sekitarnya’ ini tertera angka 3,5K. Alias 3.500 akun yang mengikuti.

Yang ‘mengerikan’ adalah postingan para member grup. Mayoritas adalah mencari pasangan yang diinginkan. Baik terkait peran dalam hubungan, usia, hingga domisili.

Contohnya? ‘Cari T area Kandangan, Kepung, Puncu, Pare, dan sekitarnya’.

“Huruf T itu simbol dari top. Artinya, si pemilik akun mencoba mencari pasangan sesama jenis yang perannya di atas, sebagai lelaki,” jelas-sebut saja-Sa, yang mengaku paham dengan seluk-beluk kelompok penyuka sesama jenis ini.

Bahkan, ada postingan yang lebih spesifik. Seperti ‘Info B U20 area Kediri Selatan’. Menurut Sa, B simbol dari bottom alias bawah. Yaitu seseorang yang berperan di bawah ketika berhubungan seksual. Sedangkan U20 jelas menyiratkan remaja usia 20 tahun.

Apakah itu transaksional atau suka sama suka? Inilah yang sulit ditelusuri. Sebab, ketika percakapan mulai menjurus akun-akun tersebut melakukannya secara privat. Berlanjut ke inbox yang tak bisa dilihat oleh anggota lain.

Namun, ada yang membalas dengan postingan penawaran kos bebas jam-jaman. Dengan tarif 30 ribu per jam atau Rp 100 ribu semalam. Seperti yang dilakukan salah satu akun yang menawarkan kos di area Baron, Nganjuk.

Pa, seorang anggota komunitas gay di Kota Kediri mengakui bahwa pola interaksi mereka kini sudah berubah. Lebih banyak melalui media sosial (medsos) seperti FB tersebut.

“Sekarang medsos terus, sudah nggak ngumpul (di satu lokasi),” aku pria 40 tahun ini.

Kondisi seperti itu juga ikut mengubah pola hubungan para ‘kaum pelangi’ tersebut. Mereka jadi mudah mencari pasangan. Sehingga sering gonta-ganti. Padahal, menurut Pa, dulu mereka banyak yang memilih hubungan ‘monogami’. Alias setia dengan satu pasangan.

Pa pun mau tidak mau jadi terpengaruh. Dia tak lagi berkontak dengan satu orang saja. Dia tak mau terikat karena belum tentu pasangannya bisa setia.

“Medsos sudah seperti itu. Bilangnya setia tapi ternyata enggak,” dalih pria mandiri ini.

Semakin mudahnya orang mencari pasangan sesama gay di media sosial itu yang menurutnya memicu perilaku gonta-ganti pasangan. Tak lagi atas dasar komitmen hubungan jangka panjang, melainkan didorong kebutuhan sesaat.

Dengan tren saat ini, Pa memilih beradaptasi. Dia memilih tetap berinteraksi dengan sesama anggota komunitas gay. Hanya saja, tidak melalui grup publik di media sosial. Melainkan melalui grup komunikasi yang lebih privat seperti Whatsapp.

Diakuinya, grup komunikasi dari komunitas gay sudah banyak tersebar di media sosial. Anggotanya pun tidak hanya skala kota atau kabupaten saja. Melainkan juga skala nasional dengan anggota dari berbagai daerah. Melalui media seperti itu, sangat mudah bagi anggotanya untuk bertemu dengan satu sama lain.

Meski memilih beradaptasi dengan perkembangan zaman, Pa tetap mengutamakan kesehatan seksual. Yakni dengan berhubungan seksual secara aman dengan tetap menggunakan alat kontrasepsi. Pembiasaan itu dia lakukan untuk mengantisipasi penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS. (*)

Editor : Mahfud
#Kelompok Gay #penyimpangan perilaku para remaja