Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tetek-bengek soal Make Up yang Membuat Inflasi Meninggi

Emilia Susanti • Sabtu, 7 Juni 2025 | 14:38 WIB

Ilustrasi Wanita yang terkena masalah karena rasa ingin cantik
Ilustrasi Wanita yang terkena masalah karena rasa ingin cantik
Setiap orang memiliki alasannya sendiri-sendiri dalam melakukan perawatan wajah. Bisa saja bukan karena penampilan. Melainkan karena ingin memiliki wajah yang sehat.

Apapun alasannya, pengeluaran untuk melakukan perawatan wajah menjadi salah satu indikator dalam menghitung inflasi. Meskipun pengaruhnya tidak sekuat kebutuh primer. Seperti makanan dan minuman.

Badan Pusat Statistik (BPS) rutin melakukan pemantauan harga terhadap produk perawatan wajah. Masuk dalam komoditas kelompok pengeluaran pribadi dan jasa lainnya.

"Kami amati tiap bulan," jelas Kepala BPS Kota Kediri Emil Wahyudiono.

Ada puluhan komoditas yang masuk dalam kelompok pengeluaran pribadi dan jasa lainnya. Rinciannya bisa dilihat melalui survei biaya hidup yang dirilis oleh BPS Indonesia. Survei tersebut dilakukan setiap lima tahun sekali. Terakhir pada 2022 lalu.

"Survei biaya hidup itu untuk penimbang inflasi," jelas pria disapa Emil ini.

Dari puluhan komoditas yang diamati, di dalamnya ada krim wajah, sabun wajah, lipstik, bedak, alas bedak, lotion, pembersih, dan sebagainya. Lalu, pengeluaran untuk melakukan facial ataupun perawatan rambut juga termasuk dalam kelompok pengeluaran pribadi dan jasa lainnya.

Hanya saja, Emil itu menuturkan bahwa pergerakan harga produk-produk kecantikan cenderung flat. Artinya tidak secara intens mengalami naik turun seperti yang terjadi pada kelompok makanan dan minuman. Selain itu, pengaruhnya terhap inflasi memang tidak besar.

"Pada kelompok pengeluaran pribadi dan jasa lainnya, yang biasanya memiliki andil besar dalam inflasi itu faktor komoditas emas," katanya saat ditemui di kantornya.

Kendati demikian, pihaknya melihat bahwa permintaan terhadap kelompok pengeluaran pribadi dan jasa lainnya menunjukkan tren kenaikan pada momen-momen tertentu. Salah satunya adalah saat menjelang hari raya Idul Fitri.

"Salon itu biasanya penuh menjelang Lebaran. Biasanya orang ingin tampil karena banyak ketemu orang. Pakai make up, baju baru, dan lain-lain. Artinya di situ akan ada permintaan lebih di momen-momen seperti itu," jelasnya.

Fakta menarik lainnya, pengeluaran untuk kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya menunjukkan kenaikan. Pada survei biaya hidup 2018, pengeluaran untuk kelompok tersebut adalah sebesar 5,81 persen. Meningkat menjadi 6,57 persen.

Jika lebih mendetail, kelompok pengeluaran pribadi dan jasa lainnya masih dibagi lagi menjadi beberapa sub kelompok. Meliputi perawatan pribadi, perawatan pribadi lainnya, perlindungan sosial, dan jasa lainnya.

Produk-produk kecantikan masuk dalam sub-kelompok perawatan pribadi. Pengeluaran untuk sub-kelompok ini juga naik. Bila pada 2018 sebesar 3,82 persen, pada 2022 sebesar 4,49 persen.

"Dari survei biaya hidup itu, pergeseran (pengeluaran uang, red) masyarakat bisa dilihat, bisa diamati. Apakah mengalami peningkatan atau seperti apa," tandasnya. (emilia Susanti/fud)

Editor : Mahfud
#Inflas #cantik