Dulu, tren merawat kecantikan didominasi wanita pekerja. Tapi, kini anak sekolah pun mulai melakukan. Ketika mereka mulai terpapar konten-konten di medsos.
Evi adalah wanita pekerja. Usianya sudah menginjak 42 tahun. Tuntutan pekerjaan dan usia yang membuatnya rela merogoh kocek untuk perawatan wajah setiap bulan.
Setidaknya, sebulan sekali dia melakukan facial. Treatment membersihkan kulit wajah yang butuh ongkos Rp 200 ribu.
“Dulu kan jerawatan, jadi ya perawatan,” ceritanya menyebut alasan kenapa rutin ber-facial.
Dulu, lima belas tahun yang lalu, ongkos facial tak semahal sekarang. Masih Rp 50-an ribu.
Tentu saja perawatan yang dilakukan bukan hanya facial. Evi juga rajin memakai masker. Ini bahkan seminggu sekali. Bila harga masker Rp 10 ribu, artinya sebulan dia harus mengeluarkan ongkos empat kalinya.
Cukup? Tentu saja belum. Di tas kecil milik wanita ini tersimpan berbagai produk kecantikan. Pelembab, lipstik, bedak, blush on, alis, dan lain-lain. Nilai seluruh produk itu bisa mencapai Rp 500 ribu. Itu belum produk-produk kecantikan yang ada di rumah.
“Tapi ini (produk kecantikan, Red) habisnya nggak setiap bulan. Ada yang dua bulan, tiga bulan, empat bulan. Jadi nggak yang setiap bulan beli karena habisnya gantian,” kilah Evi.
Jika merinci lagi, ada belasan item produk yang dimiliki oleh perempuan ini. Mulai dari facial wash, micelar water, lotion, lulur, sunscreen, moisturizer, serum wajah dan bibir, dan sebagainya. Lalu untuk make up, Evi memiliki tiga bedak dari merek yang berbeda-beda. Begitupun lipstik yang totalnya lebih dari lima. Masih ada lagi alis, eyeshadow, maskara, eyeliner, dan lainnya.
Kendati demikian, Evi menyadari penuh bahwa merawat wajah bukanlah kebutuhan primer. Ketika ada kebutuhan mendesak, dia tidak akan memaksa untuk membeli produk kecantikan yang tengah habis. Hanya saja sifatnya menunda. Jika kebutuhannya sudah longgar, Evi akan membeli produk perawatan wajah yang habis itu.
"Kenapa harus merawat, ya karena umur. Agar kulitnya sehat dan glowing," dalihnya, sembari mengembangkan senyum.
Tentu saja, wanita seperti Evi ini sangat banyak. Bahkan ada yang pengeluaran untuk membeli produk atau treatment kecantikan lebih besar lagi.
Selain itu, merawat wajah pun tak harus menunggu seseorang berpenghasilan. Karenanya, industri kecantikan terus berkembang. Produk baru pun terus bermunculan. Klinik kecantikan juga tumbuh subur.
Di Kota Kediri, ada puluhan klinik kecantikan yang tersebar. Mengecek di google maps, totalnya mencapai 30 klinik. Menariknya, kemunculannya terbilang masif dalam kurun waktu sepuluh tahun ke belakang.
Dian Rahmania adalah salah satu dokter kecantikan yang memiliki klinik seperti itu. Lokasinya di Jalan Raden Patah, Kelurahan Kemasan, Kecamatan Kota. Yang sudah berjalan lima belas tahun.
"Dulu pasien saya rata-rata usia kerja. Sekarang anak-anak aja sudah perawatan. Ada yang (masih) SMP," ungkap wanita berhijab yang akrab disapa Dian ini.
Ada fenomena baru di dunia kecantikan era sekarang. Salah satunya adalah rasa keingintahuan yang tinggi terhadap produk-produk kecantikan yang bermunculan. Selanjutnya, rasa keingintahuan itu mendorong seseorang akhirnya membeli sebuah produk kecantikan.
Tapi, itu tidak didasari oleh kebutuhan melainkan hanya karena ingin dan penasaran. Dampaknya, akhirnya kulit wajahnya bermasalah.
"Biasanya dia (pasien, Red) pengen nyoba (sebuah produk) karena lihat di Tiktok atau entah di mana. Dari yang (semula) nggak ada masalah akhirnya timbul masalah. Jerawatan, kulitnya merah-merah, warna kulitnya nggak rata, seperti itu," beber Dian.
Tak hanya karena produk, wajah seseorang juga bisa mengalami masalah tertentu jika salah dalam melakukan treatment. Pasalnya, tak jarang treatment yang dilakukan oleh seseorang itu lantaran ada iming-iming diskon, promo, atau bahkan ajakan teman. Lagi-lagi, rasa penasaran itulah yang bisa membawa masalah baru.
"Kalah sudah parah (masalah kulitnya) penanganannya ya sudah berbeda," tekan Dian.
Sebetulnya, tekan Dian, hanya ada tiga produk perawatan wajah yang sebetulnya dibutuhkan. Yaitu pembersih wajah, moiturizer, dan sunscreen. Tiga produk itu bisa disebut kunci untuk menjaga kesehatan kulit wajah.
"Yang lainnya (serum bibir, krim untuk mata, dan sebagainya, red) itu pelengkap," tegasnya.
Hanya saja, banyak orang yang menginginkan lebih dari sekadar wajah terawat. Ada yang mengharapkan wajahnya cerah, tak ada kerutan, mulus, putih, dan sebagainya.
Sebagian besar orang memakai make up untuk menutupi masalah kulit di wajahnya. Maksudnya adalah dengan memakai bedak, fondation, concealer, dan lainnya.
"Kalau make up itu sifatnya dekoratif. Bukan untuk perawatan wajah," lanjut Dian.
Apapun itu, bisnis kecantikan sepertinya masih terus bergeliat. Makin banyak persoalan seseorang dengan kulit di wajahnya seakan membenarkan bahwa perawatan wajah menjadi kebutuhan wajib. Dan, tentu saja, akan terus menguras isi kantong. (*)
Editor : Mahfud