Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Museum Baru Berkonsep Story Line di Kediri tapi Tidak Super-imersif

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 25 Mei 2025 | 09:35 WIB
Artefak-artefak, berukuran 4x3 meter, di Balai Desa Bogem, Kecamatan Gurah.
Artefak-artefak, berukuran 4x3 meter, di Balai Desa Bogem, Kecamatan Gurah.

Namanya Museum Sri Aji Jayabaya. Letaknya di Desa Menang, Kecamatan Pagu. Tempat inilah yang menjadi ‘senjata’ Pemkab Kediri mengumpulkan artefak-artefak yang masih tersebar.

Bukan hanya soal museum yang harus diisi saja. Juga, konsep tempat yang bangunan utamanya rampung sejak 2023 ini adalah story line. Yang membutuhkan kehadiran benda-benda bersejarah itu sebagai rangkaian cerita.

"Jadi ada story line-nya. Museum ini nanti konsepnya bisa memberikan informasi secara lintas masa. Dari zaman ke zaman," jelas Eko.

Beberapa artefak yang ada di luar Kabupaten Kediri pun diincar. Seperti di Trowulan Mojokerto maupun di Museum Nasional Kota Jakarta Pusat. Salah satunya adalah Prasasti Harinjing, yang jadi sumber  informasi terbentuknya wilayah Kediri.

"Karena dulu ketika masih memakai UU nomor 5/1992, memang negara bisa mengambil benda-benda prasejarah untuk dibawa ke Museum Nasional," jelas Eko.

Bagaimana bila artefak tak bisa dihadirkan? Bila terpaksa, akan dibuat duplikat, replika, yang semirip mungkin. Sehingga tak mengganggu story line. Akan diberi narasi khusus pada artefak replika itu.

"Dengan catatan ditulis bahwa ini replika, yang asli ada di Pusat. Namun itu langkah ketika tidak ada jalan (benar-benar tidak bisa dihadirkan, Red) . Entah barangnya hanya berupa memorabilia, atau bagaimana, yang jelas ada yang mewakili," terang Eko.

Hal itu juga berlaku dengan benda-benda bersejarah yang disimpan di desa-desa maupun di rumah warga. Jika memang ada kaitannya dengan story line, ketika tidak bisa dihadirkan, akan dibuatkan narasi dan dengan objek yang bisa mewakili.

"Namun kembali lagi, jika yang di desa tidak terawat, maka akan diupayakan untuk diambil alih, dengan bersurat dan semacamnya," jelas Eko.

Saat ini, benda-benda purbakala yang disimpan Pemkab Kediri berada di Museum Bagawanta Bhari, di belakang gedung DPRD Kabupaten Kediri.

Tidak semua artefak yang disimpan di tempat ini bisa dimasukkan dalam story line museum baru. Yang tidak bisa masuk storyline Museum Sri Aji Jayabaya tetap disimpan di sini.

Namun, nantinya benda-benda itu masih tetap ditampilkan. Karena selain adanya konsep utama yang sesuai storyline, di Museum Sri Aji Joyoboyo nantinya juga akan ada pameran artefak secara temporari. Sesuai dengan tematik.

"Jadi ada pameran khusus yang waktunya terbatas, dengan tema tertentu. Misalnya tema kebangkitan nasional, Kediri itu kebangkitan nasional apa saja. Buat narasi, berikutnya mungkin ada koleksi mesin ketik, atau lainnya. Di Museum itu memang ada ruang khusus pameran yang dikhususkan kosong. Dikhususkan untuk pameran temporer tematik," jelasnya.

Selain memiliki konsep dengan story line dan konsep tematik sesuai pameran temporari, Museum Sri Aji Jayabaya juga dikonsep sebagai museum yang imersif.

Museum yang menggunakan teknologi digital dan media interaktif untuk menciptakan pengalaman yang mendalam dan melibatkan pengunjung secara fisik dan emosional.

Namun, setelah melakukan berbagai pertimbangan, seperti kunjungan ke beberapa museum dan melakukan kajian dengan pihak-pihak luar, akhirnya konsep imersif yang digunakan tidak yang super-imersif.

Eko mengatakan, bahwa imersif yang ditetapkan tidak harus yang sifatnya digital. Berdasarkan kunjungan di Jogja, ketika objek dipajang dan disorot dengan cahaya yang bisa menimbulkan bias dan nunasa yang berbeda pada objek, itu juga bisa masuk kategori imersif.

"Jadi tidak harus dengan multimedia yang disemprotkan dengan asap. Iya itu super imersif. Tapi kami diingatkan teman-teman Jogja. Untuk itu maintanance luar biasa. Jogja kelabakan mengurusi Museum Sonobudoyo. Disarankan dimulai tata lampu. Yang secara digital atau mulitmedia bisa dibuat secara bertahap," jelasnya.

Adapun saat ini Pemkab Kediri melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) juga tengah menggarap bagian pagar. Dan saat ini masih dilakukan review DED.

"Tahun ini pagar bisa jadi," jelas Plt Kepala DPKP Kabupaten Kediri Irwan Chandra Wahyu Purnama sembari menyebut bahwa anggaran yang digunakan sekitar Rp 700 juta.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#pemkab kediri #cover story #artefak