Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Produsen Tahu di Kediri tetap Bertahan meski Harga Kedelai Impor bikin Tekor

Emilia Susanti • Minggu, 4 Mei 2025 | 07:30 WIB

 

Ilustrasi produsen tahu di Kediri yang bertahan di tengah harga kedelai impor yang makin mahal.
Ilustrasi produsen tahu di Kediri yang bertahan di tengah harga kedelai impor yang makin mahal.


Pergerakan harga kedelai impor membikin pembuat tahu meringis. Keuntungan mereka bisa tergerus. Toh, para produsen ini tetap saja kukuh menggunakan tanpa sedikit pun melirik kedelai lokal.

Awal tahun lalu, di Januari, harga rata-rata kedelai impor di angka Rp 10.274 per kilogramnya. Tapi, tiga bulan kemudian harga itu naik lagi. Menjadi Rp 10.716 per kilogram.

Kecil? Memang. Tapi, kenaikan harga bahan baku tahu itu membuat para produsen makanan khas Kediri ini berkurang keuntungannya.

“Nanti kalau naik lagi, (dan) naiknya banyak, komposisi kedelainya akan saya kurangi,” aku seorang produsen tahu bernama Agung Wicaksono.

Baca Juga: Krisis Ganda di Sekolah Pegunungan Kediri, Murid Sedikit, Guru Pun Langka! Begini Kondisinya

“Misalnya, kalau biasanya saya masak delapan kilogram nanti jadi 7,5 kilogram saja kedelainya,” lanjutnya menjelaskan.

Bukan tanpa alasan pria asal Desa Winongsari, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri ini berpikiran demikian.

Sebab, harga kedelai impor terus-menerus naik. Jumat (2/5) lalu sudah Rp 10.300. Naik Rp 700 dibanding seminggu sebelumnya.

Rada ngelu (agak pusing, Red) ngaturnya bagaimana,” keluhnya sembari menyebut keuntungannya turun 30 persen.

Produsen lain punya masalah serupa. Tapi siasat yang dilakukan berbeda.

Yaitu mengurangi komposisi kedelai sebagai bahan baku tahu. Sebab, dia tak bisa menaikkan harga secara tiba-tiba.

Baca Juga: Sepi Peminat, Sekolah di Pegunungan di Kediri Diusulkan Merger tapi Justru Ditolak Warga

“Ya hasilnya agak lentur. Tapi konsumen menyadari kalau harga kedelai naik,” aku Santoso, pria 54 tahun asal Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Bagi Santoso, harga kedelai terus naik di tahun-tahun terakhir. Bahkan, sejak pandemi Covid-19, harganya tak pernah di bawah Rp 9 ribu.

Dulu pernah sampai Rp 12 ribu sampai Rp13 ribu,” akunya.

Maka, siasat mengurangi kualitas menjadi pilihan bagi pengusaha tahu takwa ini.

Demi mempertahankan bisnisnya yang sudah berjalan 20 tahun. Kalaupun nanti tidak dibeli pelanggan semuanya, dia akan melemparnya ke pasar.

“Sehari kami produksi 2.500 potong tahu,” jelasnya. 

Baca Juga: Tak Banyak Yang Tahu Perda Larangan Penahanan Ijazah di Kediri, Kurang Sosialisasi atau Perusahaan Tutup Mata?

Sementara, Budi Purnomo, 46, produsen tahu yang juga berada di Kelurahan Tinalan Kecamatan Pesantren masih belum banyak melakukan penyesuaian dengan tren kenaikan harga kedelai.

Dia tetap memproduksi dengan komposisi kedelai yang normal. Tidak mengecilkan ukuran atau  menaikkan harga.

“Masih wajar. Kan kalau harga (kedelai) turun, kami juga untung lebih. Kalau harganya pas naik, ya keuntungannya turun,” dalihnya.

Baginya, saat ini dalam kondisi keuntungan yang menurun.

Sebab, pertengahan April lalu dia sempat membeli harga kedelai di harga Rp 8.800. Lalu, seminggu yang lalu, dia membeli di harga Rp 9.600.

Baca Juga: Terungkap! Ketika Praktik Penahanan Ijazah Juga Terjadi di Kediri, Dalih Jaminan tapi Kena Denda jika Resign Mendadak

Pernah yang terakhir sampai Rp 12 ribu, kami naikkan harga. Dari Rp 700 ke Rp 800 potong,”katanya sembari menyebut dirinya juga mengurangi sedikit komposisi kedelainya.

Naiknya kedelai impor, tentu saja disebabkan melonjaknya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Namun, kondisi ini tak membuat para produsen beralih ke kedelai lokal.

Mengapa? Karena kedelai lokal punya sampah lebih banyak. Berupa ranting, kerikil, tanah, atau kulit yang masih tercampur.

“Kalau dikumpulkan bisa satu marang (bakul plastik tempat nasi, Red) sendiri sampahnya,” jelas Budi. Sampah sebanyak itu dari proses perendaman 18 kilogram kedelai.

Sebenarnya, rasa kedelai lokal lebih gurih. Tapi, persoalan pada kotoran yang selalu terbawa. Selain itu, harganya juga lebih mahal.

Pemerhati sejarah Achmad Zainal Fachris punya teori mengapa produsen tahu sekarang lebih senang menggunakan kedelai impor.

Baca Juga: Begini Solusi yang Diberikan Pemkab dan PDAM Kediri untuk Konflik Pengelolaan Air di Desa-Desa yang Ada di Lereng Kelud

Padahal, menurutnya, dulu kemungkinan besar tahu masih berbahan baku kedelai lokal.

“Sekarang tahu itu banyak memakai kedelai impor. Tetapi kalau zaman dulu ya kedelai lokal,” jelasnya.

Menurutnya, pemakaian kedelai impor tidak lain karena kedelai lokal sudah tidak mencukupi. Sementara, dia menengarai penggunakaan kedelai impor mulai dilakukan di jaman orde baru.

“Alasan pemerintah waktu itu, kedelai lokal itu tidak bisa mencukupi keseluruhan kebutuhan masyarakat. Sehingga menggantungkan kedelai impor,” tandasnya.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#Kedelai Impor Mahal #kedelai impor #radar kediri terkini