Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Krisis Ganda di Sekolah Pegunungan Kediri, Murid Sedikit, Guru Pun Langka! Begini Kondisinya

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Sabtu, 3 Mei 2025 | 08:30 WIB
SD Negeri Parang 4 di pegunungan.
SD Negeri Parang 4 di pegunungan.

JP Radar Kediri - Tidak hanya muridnya yang sedikit, sekolah-sekolah ini juga kekurangan guru. Akibatnya, para guru terpaksa merangkap-rangkap dalam mengajar.

Di SDN Parang 4 misalnya, mereka punya enam kelas. Idealnya, setiap kelas punya guru kelas masing-masing.

Faktanya, hanya ada delapan guru termasuk kepala sekolah. Kemudian, dua lagi adalah guru mata pelajaran.

“Mau tak mau harus merangkap. Guru kelas 3 digabung dengan guru kelas 1,” terang Sugeng, yang juga berstatus Plt Kepala SDN Ngeblak Banyakan.

Situasi itu membuat guru harus saling mendukung. Saling membantu mengisi ketika senggang. Meskipun, hal itu juga tetap tak efektif.

“Saya juga sering mengajar ketika sedang di Parang dan ada yang kosong,” jelas Sugeng.

Belum lagi, ada guru yang mengajar di dua tempat. Seperti Atik Uswatun Hasanah, guru mapel agama. Selain di SDN Parang 4 dia juga mengajar di SDN Banyakan 2.

Diperparah rumah guru-guru juga tak ada yang dekat. Sugeng misalnya, tinggal di Jabon, Banyakan.

Lilian Puspa Sari apalagi. Guru kelas 6 ini rumahnay di Desa Sobo, Kecamatan Ngasem. Yang butuh waktu satu jam perjalanan.

“Jadi berangkat pukul 06.00-an. Belum lagi kalau kena macet di Jongbiru, atau ketika ada masyarakat yang menjemur padi, jadi tambah lama juga,” terang guru yang sudah mengajar di SDN Parang 4 sejak 2019 itu.

Toh, dia justru gembira mengajar di sekolah ini. Yang, menurutnya, gurunya lebih dihargai.

Media pembelajaran sekecil apapu, yang mungkin oleh orang daerah perkotaan dianggap biasa dan remeh, di sekolahnya saat ini selalu disambut antusias oleh murid-muridnya.

“Jadi untuk mengeluh kaya gak pantas. Karena kendalanya hanya jarak. Anak-anaknya nurut. Rekan kerja juga gak ada yang toxic,” akunya.

Terkait kurangnya tenaga pendidik, Sugeng berharap di SDN Parang 4 ditambah guru ASN.

Selain tambah tenaga pendidik, dana bos juga tidak terpangkas. Sehingga sebagian bisa dialokasikan untuk pengadaan fasilitas.

Hal serupa juga terjadi di SDN 3 Medowo. Sekolah yang berdiri sejak 1999 ini juga kekurangan kelas. Membuat murid kelas tiga berbagi ruangan dengan kelas empat.

“Jadi siswa kelas tiga yang jumlahnya delapan anak, berbagi ruangan dengan kelas empat yang jumlah siswanya empat anak,” ungkap Eko Prasetyo, sang kepala sekolah.

Ruangan yang digunakan dua kelas ini hanya bersekat triplek. Suara para pengajar pun jadi terdengar.

Laki-laki yang menjadi kepala sekolah sejak tahun 2022 mengatakan bahwa di SD Negeri Medowo 3 hanya memiliki enam ruang kelas. Salah satu ruangan tersebut digunakan sebagai ruang guru.

“Jadi kami juga tidak punya perpustakaan, namun sebagai gantinya setiap kelas ada pojok baca,” imbuhnya.

Selain kekurangan ruangan, SD Negeri Medowo 3 ini juga kekurangan guru. Sekolah ini hanya memiliki enam guru kelas dan satu kepala sekolah.

Tidak memiliki guru pendidikan jasmani dan olahraga, guru pendidikan agama Islam, agama Kristen, dan agama Hindu.

“Kami mendapatkan bantuan dari guru agama dari SD Negeri Medowo 2,” ungkap laki-laki asal Kabupaten Jombang tersebut.

Untuk mendapatkan mata pelajaran agama Hindu, Helen setiap jumat diantar ibunya ke SD Negeri Medowo 2. Setelah pelajaran nanti ia akan dijemput salah satu guru.

“Karena di sekolah hanya dua saja yang beragama hindu, dan yang di kelas empat hanya Helen,” ungkap Kartini sebagai ibu Helen.

Meski kekurangan ruang kelas dan guru, sistem pengajaran di SD Negeri Medowo bahan pengajaran lengkap.

Salah satunya sarana tablet untuk membantu siswa belajar. Untuk sinyal internet, di daerah tersebut sudah dibantu oleh dua tower dari dua provider.

Tidak hanya itu saja, siswa di SD Negeri Medowo 3 juga mendapatkan ekstrakurikuler. Di antaranya adalah rebana, musik, dan karate.

Kadisdik Mokhamat Muhsin tidak menampik bahwa pendidik di Kabupaten Kediri masih kurang.

Adapun jumlah guru di Kabupaten Kediri berada di angka 150 ribu hingga 200 ribu. Jumlah ini masih didukung oleh tenaga non ASN.

Selain itu, persebaran guru juga masih belum merata. “Persebaran guru ini memang menjadi masalah di semua daerah termasuk Kabupaten Kediri. Sisi lain persebaran guru yang PNS itu didominasi guru-guru yang melaksanakan tugas di tempat-tempat yang di bawah gitu,” dalihnya.

Untuk itu, saat ini pihaknya juga tengah mengidentifikasi guru-guru. Yang nantinya harapannya bisa disebarkan sehingga setiap sekolah bisa mendapatkan guru yang sesuai.(

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #Merger Sekolah Dasar #sekolah di pedalaman