Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sepi Peminat, Sekolah di Pegunungan di Kediri Diusulkan Merger tapi Justru Ditolak Warga

Ilmidza Amalia Nadzira • Sabtu, 3 Mei 2025 | 07:30 WIB
SD Negeri Parang 4 di pegunungan.
SD Negeri Parang 4 di pegunungan.

Sekolah-sekolah ini berada di daerah pegunungan. Tiap tahun selalu kekurangan murid. Upaya merger justru diprotes oleh warga sekitar.

Namanya SD Negeri Parang 4. Sesuai namanya, lokasinya di Desa Parang, Kecamatan Banyakan Kabupaten Kediri. Di dataran tinggi, di punggung Gunung Wilis.

Sebenarnya, jarak dari Pasar Buah Banyakan yang ada di ibu kota kecamatan tidaklah jauh. Hanya 13 kilometer.

Hanya, karena medan yang naik turun dan berkelok jarak tempuhnya menjadi lama. Apalagi jalanan tidak selalu mulus. Ada yang beraspal ada pula yang masih makadam. Jadinya, perlu 25 menit lebih untuk mencapainya.  

Tak heran bila warga dari dataran rendah, atau wilayah perkotaan, tak berminat menyekolahkan anaknya di sini. Sekolah ini pun hanya menampung warga dusun sekitar.

Persoalannya, jumlah penduduk di sekitarnya juga sedikit. Praktis, siswanya pun sedikit. Hanya total 82 siswa saja.

“Memang, siswanya hanya dari sini-sini saja,” kata Kepala SDN Parang 4 Sugeng Hariyadi.

Di Desa Parang ada lima SD. Siswanya anak-anak di dusun tempat sekolah itu berdiri. Seperti SDN Parang 4 ini yang muridnya dari Dusun Parang dan Peso.

“Sebenarnya tak harus anak dari dusun yang dekat. Tapi, karena jauh, ya otomatis hanya keluarga di dusun itu yang menyekolahkan anaknya,” jelas pria asal Desa Jabon, Kecamatan Banyakan ini.

Dulu, di kompleks SDN Parang 4 ada SMPN Banyakan 2 Satu Atap (Satap). Tapi dua tahun lalu pindah ke Desa Tiron yang masih satu kecamatan. Praktis, gedung yang ditinggal jadi ‘milik’ SDN Parang 4.

Namun, karena siswanya hanya 82 orang, kelas-kelas pun banyak yang kosong. Seperti di bagian yang lebih tinggi, dari lima kelas hanya  satu yang difungsikan.

“Difungsikan satu biar ada yang merawat, biar latarnya (halaman, Red) juga disapu,” sambung Lilian Puspa Sari, guru kelas VI.

Pernah SDN Parang 4 dan 5 hendak dimerger pada 1980 silam. Tujuannya agar muridnya lebih banyak. Tapi, rencana ini justru diprotes warga.

“Wali murid dan anak-anak ini imbasnya tidak mau berangkat ke sekolah. Karena kejauhan dan medannya kan harus naik turun gunung. Belum lagi terjal dan semacamnya. Akhirnya dari pemerintah daerah mengembalikan seperti semula,” jelas Sugeng lagi.

Selain kurang siswa, sekolah ini juga minim fasilitas. Sarana dan prasarana (sarpras)-nya kurang layak. Seperti laptop yang sedikit serta sinyal wifi yang sulit.

“Kalau ada kebutuhan kelas, misal ujian atau mungkin absensi guru, kalau saat wifi trobel, gurunya mengakali cari posisi sinyal HP yang bagus,” akunya.

Claire Baldea Aurora, siswa kelas enam, mengiyakan soal fasilitas itu. Kadang kala, jika memerlukan ujian dengan sistem CAT, dia juga terkendala laptop yang kinerjanya lelet, ataupun sinyalnya sulit.

Walau demikian, dia mengaku tetap memilih sekolah di SDN Parang 4 karena jaraknya yang lebih dekat daripada sekolah lainnya.

“Jadi kalau menjemputnya lama, bisa jalan. Walau jalannya naik turun, tapi setidaknya lebih dekat daripada harus sekolah di bawah (di daerah lebih rendah, Red),” aku gadis 12 tahun itu.

Cerita yang sama juga terjadi di Desa Medowo, Kecamatan Kandangan. Ada SDN Medowo 3 yang berada di Dusun Ringinagung. Yang ada di ketinggian 800-an meter dari permukaan laut (mdpl). Tepat di punggung Gunung Anjasmara.

Sekolah ini juga ada di dusun yang berbatasan dengan Desa Galengowo, satu desa di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Karena itulah jumlah siswanya sangat sedikit.

 “Tahun ajaran 2024/2025 ini totalnya ada 46 anak,” terang Kepala SDN Medowo 3 Eko Prasetyo.

Kian sedikitnya jumlah siswa di sekolah ini terjadi sejak 2014. Saat itu mereka mendapat siswa baru paling banyak, 20 siswa. Setelah itu kian turun. Dari 12 anak, 11, 10, hingga terakhir delapan anak saja.

“Mulai turun sejak di Galengdowo Jombang ini membuka MI (madrasah ibtidaiyah, Red),” ungkap Bagus Wahyu Husodo, salah seorang guru.

Ya, sejak itu anak dari kabupaten tetangga itu lebih memilih bersekolah di MI. Terutama yang beragama Islam. Siswa SDN Medowo 3 pun kebanyakan dari Dusun Ringinagung dan BON G, tempat pengungsian warga yang terkena banjir pada 2006.

Bagi warga Ringinagung, tak ada pilihan lain kecuali menyekolahkan anaknya di sini. Sebab, meski ada SDN Medowo 1 dan 2, lokasinya terlalu jauh. Harus melewati jalanan yang curam dan menanjak. Bahkan, meskipun di SDN Medowo 3, mereka juga harus jalan kaki karena sulitnya medan.

 “Meski sudah di paving namun jalannya sangat curam, kanan kirinya ladang,” ujar Kartini, seorang wali murid yang rumahnya di BON G.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin mengakui ada sekolah di bawah kendalinya yang berada di pelosok. Seperti SDN Kalipang 2, SDN Simbarlor 2 Plosoklaten, SDN Blimbing 3 Mojo. Ada pula TK PKK Parang 3 Banyakan, TK KM 2 Tarokan dan TK KM Pamongan Mojo.

"Itu adalah satuan pendidikan di pelosok. Dan memang siswanya sedikit," akunya.

Sependapat dengan beberapa narasumber di atas, menurut Muhsin, sekolah-sekolah ini muridnya sedikit bukan karena tidak ada yang minat.

Melainkan karena memang sekolah ini dibuat untuk permukiman yang lokasinya jauh dari perkotaan dan di pelosok. "Biasanya tempatnya jauh, penduduknya sedikit, termasuk aksesnya sulit," jelasnya.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #Merger Sekolah Dasar #sekolah sepi peminat