Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Di Balik Maraknya Kasus Bunuh Diri di Kediri, Apa Pemicunya?

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 16 Maret 2025 | 17:17 WIB

 

Ilustrasi orang bunuh diri
Ilustrasi orang bunuh diri

JP Radar Kediri - Enam kasus bunuh diri dalam enam bulan terakhir. Semua karena didorong motif ekonomi. Tapi, mengapa pemberian bansos tak menjadi solusi?

Sejak September 2024, sudah ada enam kasus bunuh diri yang terjadi di Kediri Raya. Setengahnya berakhir dengan hilangnya nyawa pelaku. Sisanya, masih bisa terselamatkan.

Yang juga harus dicermati adalah penyebabnya. Empat kasus di antaranya karena persoalan ekonomi. Mereka mengambil keputusan nekat karena terbelit utang. Seperti motif kasus bunuh diri sekeluarga di Desa Manggis, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri beberapa bulan silam.

Pendorongnya adalah jeratan pinjaman. Makin lama makin mencekik leher.

Hal itu diketahui dari pengakuan korban selamat. Ya, upaya bunuh diri satu keluarga itu tak sepenuhnya berhasil. Tiga dari empat anggota keluarga bisa diselamatkan. Satu-satunya korban adalah anak mereka yang masih balita.

Pertanyaannya, di mana keberadaan pemerintah ketika situasi seperti itu terjadi? Paling tidak, ada upaya mengentaskan kemiskinan dan mengurangi tingkat keputusasaan seperti itu’

“Kami juga melakukan intervensi agar kondisi seperti itu bisa dikurangi,” aku Plt Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kediri Ariyanto.
Bentuknya?

“Bansos (bantuan sosial, Red). Di antaranya yang berasal dari Kemensos (Kementerian Sosial, Red),” lanjutnya.

Ariyanto menyodorkan beberapa fakta. Bahwa pemerintah daerah telah memberi bantuan kepada orang yang masuk kelompok tidak mampu. Baik yang berupa program keluarga harapan (PKH) atau bantuan pangan non-tunai (BPNT).

“Yang skema PKH diberikan kepada 63.133 jiwa. Sedangkan BPNT untuk 112.646 jiwa,” urai Ariyanto.

Upaya pemberian bantuan sosial ini menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah untuk menekan dampak kesulitan ekonomi. Meskipun, Ariyanto mengakui, bantuan seperti ini di satu sisi kurang mendidik. Menambah kecenderungan masyarakat yang selalu berharap bantuan.

“Khawatirnya nanti selalu berharap. Jadi, akhirnya, tidak mau berusaha,” dalihnya.

Karena itu, bansos bukan solusi utama. Ada lagi yang perlu digencarkan adalah pemberdayaan warga miskin. Bentuknya bisa pelatihan keterampilan kewirausahaan.

Kegiatan seperti itu sudah dilakukan oleh Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Kediri. Dengan melakukan berbagai pelatihan kerja. Menyesuaikan dengan pekerjaan yang tengah tren di masyarakat.

“Di Dinsos ini masih dalam rencana belum pelaksanaan,” jelas Ariyanto.

Selain itu, juga dilakukan pemberian Informasi dan edukasi kepada warga miskin. Terutama bagaimana cara mengelola keuangan. Juga untuk menghindari pinjaman ilegal, dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

"Kami juga akan monev terhadap program-program yang telah dilaksanakan. Untuk memastikan bahwa program-program tersebut efektif dan efisien dalam menekan kejadian bunuh diri yang terkait dengan masalah ekonomi,” tandasnya.

Lantas apakah hal ini bisa efektif? Pengamat Sosial UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Elis Yusniyawati memiliki pendapat yang sama dengan ariyanto mengenai bansos.

Menurutnya, bansos terbukti bukan sebagai solusi hidup. Bansos hanya berupa solusi instan yang melenakan orang.

"Bansos membuat orang jadi ketergantungan," jelasnya sependapat dengan Ariyanto.
Sementara untuk edukasi, Komisioner Komisi Informasi (KI) ini berbendapat, agar bisa mengena maka harus dikemas dengan baik. "Jika pemberdayaan masyarakat miskin dibarengi dengan bukti konkrit dan strategi yang berkelanjutan, mungkin saja bisa menjadi solusi," jelasnya.

Dia mengatakan, selain pemerintah, yang juga penting adalah orang-orang sekitar. Dukungan mereka itu menjadi salah satu faktor penentu mengurangi keinginan bunuh diri.

"Keluarga, lingkungan sosial dan bahkan pemerintah hadir dan peduli pada perkembangan spiritual seseorang juga jadi solusi," jelasnya.
Peranan sosial sekitar menjadi salah satu faktor pendukung agar uapaya bunuh diri tidak terjadi. "Support dan dukungan keluarga yang selalu ada dalam kondisi apapun, lingkungan yang sehat dan hangat juga kondisi politik dan budaya yang mendukung perkembangan diri dengan baik, juga jadi faktor penentu," jelasnya.

 

Ada Faktor Bawaan dan Pemicu

 

Secara medis, ada dua faktor yang lelatar belakangi adanya tindakan bunuh diri.

Menurut Psikiater KBP(P) dr Roni Subagyo Sp KJ (K) tindakan bunuh diri itu adalah gangguan mental atau jiwa. Gangguan jiwa akan terjadi kalau ada faktor predisposisi dan presipitasi.

Dokter Roni menjelaskan, faktor predisposisi merupakan faktor bawaan pada diri manusia. Sementara presipitasi merupakan pemicu atau pencetus.

"Dalam hal ini, keinginan bunuh diri terjadi karena dua faktor tersebut bertemu," jelas dr Roni.

Adapun faktor pencetus ini bisa berupa permasalahan yang dihadapi seseorang, Contohnya faktor ekonomi.

Misalnya karena ekonomi yang kurang, sehingga harus banyak mencari utang. Sampai akhirnya terlilit pinjaman dan tidak bisa membayar.

Faktor pemicu itu kemudian bertemu dengan faktor bawaan dalam diri seseorang. Ditambah ada faktor pencetusnya, munculah keinginan untuk mengakhiri hidup.

"Misalnya karena utang. Orang itu tidak mampu lagi untuk menyelesaikan, tidak ada kemampuan lagi untuk melunasi. Nah hal ini kan membuat orang itu tidak punya harga diri. Tidak punya harapan, ya kan? Menjadi tidak punya masa depan. Karena dia merasa tidak mampu. Inilah yang membuat mereka jadi depresi, dan depresi ini yang mendorong dia umtuk mengakhiri hidup. Dengan bunuh diri ini anggapan dia persoalannya bisa selesai. Padahal tidak," jelasnya mencontohkan ketika faktor bawaan bertemu dengan faktor pemicunya.

Lebih jauh dr Roni mengatakan, munculnya pikiran untuk bunuh diri bukan hanya karena stres. Gangguan jiwa berat  juga bisa membuat orang berkeinginan melakukan bunuh  diri.

Misalnya, penderita skizofrenia. Dia bisa memiliki keinginan untuk melakukan bunuh diri karena dorongan halusinasi.

"Seperti mendengar bisikan-bisikan misalnya. Yang mengarahkan untuk melakukan bunuh diri," terang dokter yang membuka praktik poli klinik psikiatri di RS Bhayangkara ini.

Untuk mencegah upaya bunuh diri ini sangat dipengatuhi lingkungan srkitar. Peranan orang-orang sekitar jadi salah satu penentu upaya bunuh diri.

Misalnya, ketika ada orang yamg sering mengalami kesulitan ekonomi tapi orang sekitar tidak ada yang bisa dimintai tolong, dia akan merasa terjepit.

Maka, datanglah stress dan memunculkan keinginan mengakhiri hidup.

Karena itulah, peranan orang sekitar menjadi sangat penting untuk mencegah terjadinya peristiwa bunuh diri.

"Karena orang yamg mau bunuh diri kan juga akan nampak. Mungkin jadi gelisah, atau jadi tidak punya gairah hidup. Peranan orang sekitar, untuk peka dan kemudian membimbing agar bisa semangat lagi ini jadi penting," jelas dr Roni.

 Baca Juga: Aleza Women Chapter Kediri Resmi Berdiri, Awali Kegiatan dengan Gelar Talkshow Psikologi

Sementara itu, di Kota Kediri, dinas sosial memiliki pendekatan khusus dalam menjangkau masyarakat dengan gangguan mental. Yaitu dengan rehabilitasi sosial.

Melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat pemberdayaan.

Beberapa kegiatan disediakan. Berupa pelatihan keterampilan dan kemandirian.

Sasaran utamanya adalah penderita gangguan mental yang selesai dengan pengobatannya.

“Ini bentuk penanganan lanjutan. Jadi, kalau sudah selesai mendapat penanganan medis, sudah membaik setelah mengikuti posyandu jiwa atau berobat ke rumah sakit, baru bisa diberdayakan,” urai Kadinsos Paulus Luhur Budi melalui Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Sumarni.

Tujuan utamanya pada dasarnya agar penderita gangguan mental bisa memiliki kegiatan. Dengan punya kegiatan, dia mempercayai itu bisa mengurangi tingkat stress yang dirasakan penyintas.

Pemberdayaan dilakukan sesuai kemampuan penyintas. Di antaranya adalah keterampilan kriya hingga memasak.

“Tapi tidak banyak (yang mengikuti keterampilan, Red) karena rata-rata belum stabil,” tandasnya.

Belum stabilnya pasien itu pada umumnya disebabkan pengobatan yang terhenti. Peran keluarga menurutnya sangat krusial dalam menjamin keberhasilan pengobatan.

“Bisa jadi karena keluarga nggak peduli, nggak ambil peran mendampingi. Karena kunci pengobatan gangguan jiwa itu kan minum obat setiap hari,” bebernya.

Oleh sebab itu, pada umumnya setiap ada kasus orang gangguan jiwa, sering kali merupakan pasien lama yang kambuh.

Baca Juga: Srawung Psikologi, Komunitas Diskusi Kediri yang Terus Eksis

Sisanya, merupakan penderita baru. Seperti pada dua bulan awal 2025 ini, pihaknya mendapat laporan sekitar 4-5 kasus penderita gangguan jiwa baru.

Itu hanya yang terlaporkan ke dinas terkait.

“Sebenarnya kalau untuk pemberdayaan itu tujuannya tidak sampai ke kepentingan ekonomi. Tapi untuk biar ada aktivitas. Seperti sekarang ada yang sudah bisa jualan sayur. Ada yang bisa membuat tahu,” ungkapnya. 

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.  

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#pemicu #kediri #bunuh diri #penyebab #kasus