Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Musik Karya Musisi Asal Kediri Ini Berisi Tentang Keresahan pada Nasib Petani

Habibaham Anisa Muktiara • Minggu, 9 Maret 2025 | 16:05 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri - Riant Daffa memang bukan pengusung musik punk. Lagunya tidak sama dengan grup Sukatani yang tengah hit dengan isu lagu yang menyindir aparat penegak hukum itu.

Namun, pemusik akustik ini punya kesamaan dengan grup punk asal Purbalingga itu. Yaitu, sama-sama mengangkat isu nasib petani.

“Musik yang saya bawakan ini lebih tentang alih fungsi lahan,” cerita Riant, pemusik asal Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri.

Mengapa Riant concern pada lagu-lagu berisu soal nasib petani? Tak bukan adalah karena latar belakangnya sebagai lulusan fakultas pertanian.

Karena itulah isu tentang pertanian lebih dia kuasai. Seperti soal alih fungsi lahan.

“Alih fungsi lahan ini seperti paradoks. Kebutuhan untuk tempat tinggal meningkat namun kita juga butuh lahan untuk makan,” sebut alumnus Universitas Brawijaya ini.

Lagu-lagu Riant terinspirasi dari luasnya lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi bandara hingga jalan tol.

Kebetulan lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya. Bahkan, lahan yang kini sudah berubah peruntukan tersebut dulunya adalah tempatnya bermain.

“Waktu kecil saya sering diajak untuk berjalan-jalan di sana. Kini sawah tersebut sudah tidak ada lagi,” ungkap Riant.

Keresahan hatinya melihat hal tersebut menjadi lirik lagu. Judulnya ‘Hijau Kini Hilang Entah ke Mana’. Dia bawakan dalam format akustik. Iringannya petikan gitar dan tiupan harmonika.

Sebagian liriknya seperti ini, hijau kini hilang entah ke mana, dulu terbentang kini makin terhimpit, didesak pesatnya pembangunan negeri, digantikan bandara, digantikan perumahan, hijau kini hilang entah ke mana.

“Jadi apa yang saya lihat dan rasakan itu yang sayang ungkapkan,” kata suami dari Shinta Sari tersebut.

Keresahan hati tersebut menjadi satu dari sekian lagu dalam album ‘Pertanian Hari Ini’.

Berisi 12 lagu. Tidak hanya tentang alih fungsi lahan namun juga soal kesejahteraan petani.

“Lagu ini saya buat setelah membaca tulisan tentang sepasang petani terlilit utang,” ungkap Riant.

Peristiwa itu tepatnya pada 2016. Ada pasangan petani di salah satu di Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri yang terlilit utang. Karena tidak bisa membayar akhirnya memilih bunuh diri di sawah

Berita tersebut kemudian menjadi sebuah lagu yang berjudul Tangis Petani.

Lirik lagunya memang menggambarkan tentang petani yang menangis di ladangnya sendiri. Meratapi nasib yang miskin dan terpinggir. 

Lagu yang diciptakan pada 2022 ini mewakili nasib petani yang tidak semuanya memiliki lahan sendiri.

Kebanyakan adalah buruh tani. Sehingga mereka tidak bisa menikmati hasil panennya.

“Dengan album ini setidaknya saya punya karya untuk petani,” imbuhnya.

Ke depannya Riant masih akan terus berkarya mengangkat isu tentang pertanian. Sebab itu adalah salah satu cara mewakilkan suara dari para petani.

Riant sadar, lagu yang mengangkat isu sosial memang tidak begitu masuk di telinga warga Kediri.

Mereka kebanyakan lebih familiar dengan musik-musik dangdut tentang percintaan. Adapun yang suka, namun kemungkinan juga tidak banyak.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.  

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#band punk #radar kediri #musisi kediri #musisi #nasib petani #kritik sosial #Sukatani #jawa pos