JP Radar Kediri - Di Kediri, ada beberapa musisi yang aktif mengangkat isu-isu sosial. Apa yang dialami, dilihat, ataupun yang didengar mereka olah sedemikian rupa. Hingga menjadi satu lagu.
Salah satu musisi itu adalah Imam Ahmad Turmudzy. Pria yang akrab disapa Ipank itu getol membuat lagu bernada kritik atas situasi yang terjadi. Mulai dari isu lingkungan hingga politik.
Dalam bermusik, Ipank sebetulnya kerap mengalami hal-hal yang bisa dibilang serupa dengan apa yang dialami band Sukatani, band punk asal Purbalingga yang diintimadasi karena lagunya berjudul ‘Bayar Bayar Bayar’. Hanya tidak viral saja.
Ya, lagu-lagunya yang berbau kritik menjadi penyebabnya. Undangan manggung yang disampaikan sering dibatalkan menjelang hari-H.
Pernah pula saat sudah di atas panggung, dia hanya boleh membawakan satu lagu. Yang tak kalah penting, karya-karyanya yang pernah diunggah ke Youtube sudah beberapakali di-take down lantaran lirik yang dianggap berbau SARA.
"Empat kali di-take down. Baru yang terakhir ini karena dibantu teman bisa awet sampai satu tahun," akunya saat ditemui di rumahnya di Desa Bringin, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri.
Bagi yang belum kenal, Ipank memiliki kelompok musik yang dinamai Sang Saka.
Karyanya bisa dilihat dari akun Youtube Ivanka Sangsaka. Di platform tersebut, ada tiga belas lagu yang sudah diunggah.
Namun, jumlah lagu yang sudah diciptakan sebenarnya lebih dari itu.
"Tiga puluh ada. Cuman ya itu tadi, saya udah males karena di-take down terus," kata pria berusia 34 tahun itu.
Menjelajahi Youtube Ivanka Sangsaka, hampir semua liriknya berbau kritik. Seperti lagu berjudul ‘Janji’.
Dalam lagu itu, dia menyuarakan terkait derita petani yang hingga saat ini tetap dibayar murah. Ipank bercerita bahwa lagu itu terinspirasi terkait cerita petani yang ada di Jombang.
Lalu, ada pula lagu berjudul ‘Human’. Lagu berlirik bahasa Inggris itu mengangkat keresahannya atas apa yang terjadi di Palestina.
Selanjutnya, juga ada Lagu berjudul ‘Tampak Merdeka’. Ipank mengaku lagu itu diciptakan atas keresahannya melihat perjuangan masyarakat di Desa Wadas dalam menolak aktivitas pertambangan.
Juga masyarakat di daerah lain yang mengalami hal serupa. Namun baginya, lagu yang paling menjadi favoritnya adalah lagu berjudul ‘Menolak Bungkam’.
"Karena itu yang juga saya alami," ungkapnya.
Ya, lagu itu benar-benar menjadi berarti baginya karena merasa Sang Saka kerap kali mendapat sabotase. Entah itu sound yang tba-tiba mati atau hal lainnya.
Ipank sendiri mengaku tak akan berhenti dalam membuat karya yang berbau kritik.
Menariknya, ada aturan unik yang dibuat Ipank terhadap permintaan manggung. Pertama, dia mengaku tak akan menerima undangan dari partai politik manapun.
Ya, Ipank mengaku ingin menjaga karya-karyanya dari kepentingan politik. Baginya, Sang Saka merupakan harga diri. Berapapun nominal yang ditawarkan, Ipank akan menolak.
"Karena pesan dari orang tua juga. Saya direstui bermusik oleh orang tua saya ketika saya membuat lagu di Sang Saka ini, judulnya Soekarno," ceritanya.
Untuk diketahui, Sang Saka terbentuk pada 2018 lalu. Ada dua orang yang tergabung. Selain Ipank, ada juga Muhammad Fauzy Beuvelman yang memegang peran sebagai gitaris.
Sayang, dua orang itu memutuskan tidak berjalan bersama lagi sejak 2021 lalu.
Ipank pun mengaku sudah mencoba mencari gitaris pengganti. Namun belum ada yang cocok hingga sekarang. Walau begitu, Ipank akan terus berkarya.
"Terus bergerak, terus berkaya. Yakin aja kebenaran nggak pernah mati," tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah