Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Penyakit Diabetes Mengintai Masyarakat Kediri, Jumlahnya Ribuan

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Sabtu, 8 Maret 2025 | 16:33 WIB
Ilustrasi makanan pemicu diabetes.
Ilustrasi makanan pemicu diabetes.

JP Radar Kediri - Bukan tanpa sebab diabetes dijuluki silent killer, penyakit yang mematikan. Ironisnya, faktor utama adalah pola dan gaya hidup yang kian menggejala dari tahun ke tahun.

Padahal, korbannya sudah tembus ribuan penderita setiap tahun, tak terkecuali anak-anak.

Masih tak percaya bila diabetes adalah mesin pembunuh mematikan? Simak saja data dari salah satu rumah sakit rujukan di Kota Kediri ini.

Sepanjang 2024 lalu ada 735 pasien penyakit yang biasa disebut gula darah ini yang meminta layanan.

Sementara, secara global, di Kota Kediri, angkanya lebih tinggi lagi. Di tahun yang sama ditemukan 8.030 penderita baru.

Turun tipis dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 8.173 orang. Ini mengacu data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri.

“Kasus diabetes itu pasti tinggi di semua daerah. Makanya Pemerintah Pusat menentukan target,” kilah Kepala Dinkes dr Muhammad Fajri Mubasysyir melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Hendik Supriyanto.

Target Pusat itu yang mendorong pemkot berusaha menemukan sebanyak-banyaknya kasus baru.

Semakin banyak penderita yang terdeteksi, semakin cepat mereka mengakses layanan kesehatan.

“Beberapa ditemukan melalui skrining. Ada yang laporan dari rumah sakit,” urai Hendik.
Bila data diperoleh dari rumah sakit berarti sudah ada gejala yang dirasakan penderita.

Akibatnya, yang datang ke layanan kesehatan kebanyakan dengan kondisi sudah kronis.
Mengapa penyakit ini seperti bersimaharajalela? Hendik menyebut soal gaya hidup.

Khususnya pada penderita diabetes tipe 2 yang penderitanya kerap mengalami resistensi insulin.

Tidak seperti diabetes tipe 1-disebabkan faktor keturunan-diabetes tipe 2 sangat erat akibat pola gaya hidup. Khususnya konsumsi makanan dan minuman.

“Sebetulnya (pada diabetes tipe 2, Red), keturunan bisa menjadi faktor risiko. Tapi kalau bisa mengontrol pola makannya, faktor risiko itu sangat bisa dikendalikan,” tandasnya.

Contohnya, seseorang yang kedua orang tuanya menderita diabetes punya risiko 100 persen terkena.

Tapi itu bisa dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat. Selain memperhatikan pola makan juga rajin berolahraga

Bagaimana di Kabupaten Kediri? Sama saja, juga terjadi peningkatan. Pada 2023 tercatat ‘hanya’ 1.507 penderita. Setahun berikutnya naik drastis menjadi 2.269.

Ironisnya, kasus pada anak-anak juga meningkat. Di 2023, ada dua anak berusia range usia 10-14 tahun yang mengidap diabetes. Setahun kemudian, jumlahnya bertambah menjadi tiga kasus.

“Memang ada tren peningkatan. Tidak hanya yang dewasa, termasuk yang anak-anak,” jelas Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Kediri dr Bambang Triyono Putro.

Bambang juga mengatakan, penyebab tiga kasus diabetes anak itu adalah faktor genetis. Namun, pola hidup tidak sehat juga berkontribusi.

Konsumsi makanan tinggi gula dan kurangnya aktivitas fisik mempercepat munculnya diabetes. Terutama jika ada riwayat keluarga yang juga mengidap penyakit ini.

“Gaya hidup sekarang banyak berubah. Makanan siap saji, minuman manis, kurang gerak, semua itu bisa memicu diabetes lebih dini,” ingatnya.

Ketika orang tua mengidap DM, sang anak pun berisiko tinggi. Apalagi bila pola hidup sang anak juga tidak sehat.

"Jika kedua orang tua memiliki diabetes peluang anak untuk terkena penyakit ini lebih tinggi, meski tidak selalu terjadi. Biasanya anak kan juga meniru gaya hidup orang tua. Ketika gaya hidup orang tua tidak sehat, otomatis anaknya juga," jelasnya.

Baca Juga: Deretan Makanan yang Aman untuk Penderita Diabetes

Karena trend gaya hidup sehat menurun, Bambang memprediksi jumlah penderita DM pada anak juga akan meningkat.

Termasuk yang bukan karena genetik. Melainkan murni akibat gaya hidup tidak sehat.

"Seperti yang di Jakarta misalnya. yang akhir-akhir ini viral. Ada anak yang terkena diabetes karena gaya hidupnya tidak sehat. Padahal keluarga tidak ada riwayat. Ini bisa saja terjadi kalau tren pola hidup sehat terus menurun," ucapnya memberi contoh.

 

Gaya Hidup Bikin si Silent Killer Menyerang Ribuan Orang per Tahun

Biasanya, kefatalan diabetes dipahami dengan munculnya tanda-tanda kronik akibat gejala yang sudah parah.

Seperti munculnya luka hingga glaukoma. Namun di luar itu, penyakit diabetes juga kerap menjadi pemicu penyakit serius lainnya.

“Orang kalau sudah kena diabetes, penyakit lain rombongan datang,” terang Kabid P2P Dinkes Kota Kediri Hendik Supriyanto.

Mengapa? Karena kondisi imunitas tubuhnya lebih rendah. Membuat penyakit-penyakit lain mudah menyerang. Seperti tuberkulosis (TB) hingga penyakit kulit.

“Komplikasi dari penyakit itu sendiri juga banyak. Seperti gagal ginjal yang termasuk akibat dari gula darah yang tinggi dan bukan dari penularan,” beber Hendik.

Hal itu juga diamini oleh dokter spesialis penyakit dalam AKBP dr Badrul Munir SpPD.

Dokter dari RS Bhayangkara Kediri itu mengatakan, diabetes termasuk salah satu penyakit yang paling sering memicu kerusakan ginjal selain hipertensi.

Selama ini, kasus gagal ginjal di RS Bhayangkara Kediri lebih banyak dipicu oleh dua penyakit itu.

Sayangnya, diabetes termasuk penyakit yang kerap terlambat disadari oleh penderitanya.

Pasien sering datang ke layanan kesehatan dengan kondisi sudah parah. Bahkan sudah mengarah ke komplikasi seperti kerusakan ginjal.

“Padahal sangat bisa dicegah,” tandasnya.

Oleh sebab itu, dia menekankan, pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat. Di sisi lain, upaya deteksi dini melalui skrining awal juga harus digencarkan di fasilitas kesehatan.

Seperti contoh melalui faskes tingkat 1 untuk peserta program Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Bagaimana dengan diabetes pada anak? Juga perlu dideteksi sejak dini agar dapat ditangani dengan tepat.

Layanan cek kesehatan gratis (CKG) bagi orang yang berulang tahun juga diperuntukkan untuk itu.

Kabid P2P Dinkes Kabupaten Kediri dr Bambang Triyono Putro mengatakan, dalam program yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto ini tersapat layanan skrining diabetes bagi anak.

Jika sebelumnya pemeriksaan kadar gula darah hanya dilakukan pada usia 15-59 tahun,  skrining diabetes dalam CKG ini juga juga ditujukan pada anak  usia dua tahun.

“Sekarang, anak usia dua tahun sudah bisa dicek kadar gula darahnya. Ini penting untuk mendeteksi dini risiko diabetes,” ujar Bambang.

Menurut Bambang, program ini merupakan langkah preventif agar diabetes bisa dikenali lebih cepat.

“Pemeriksaan kesehatan gratis ini penting agar masyarakat lebih sadar akan kesehatannya. Jika ada faktor risiko, bisa segera dicegah sebelum terlambat,” katanya.

Jika hasil skrining menunjukkan kadar gula darah tinggi, anak akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan tidak cukup sekali, tetapi harus dievaluasi dalam beberapa kali tes.

“Misalnya, jika hari ini kadar gula tinggi, belum tentu dia langsung diabetes. Harus dicek lagi setelah beberapa waktu untuk memastikan,” jelasnya.

Edukasi tentang pola hidup sehat juga diberikan kepada orang tua agar mereka lebih waspada, terutama jika ada riwayat diabetes dalam keluarga.

Dengan deteksi dini dan pola hidup sehat, risiko diabetes pada anak diharapkan bisa ditekan.

Di Kabupaten Kediri sendiri, seluruh puskesmasnya juga sudah bisa melayani CKG. Sehingga orang tua bisa memeriksakan anaknya secara gratis di puskesmas wilayah masing-masing.

"Ini sudah berjalan sejak Februari lalu. Setelah dilakukan uji coba, minggu berikutnya langsung berjalan," jelas Bambang. 

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.  

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #penyakit diabetes #penyakit #gula darah #gaya hidup #silent killer #jawapos #penyakit mematikan